<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290</id><updated>2011-07-08T23:58:42.753+07:00</updated><category term='Kontroversi'/><category term='Sejarah'/><category term='Politik'/><category term='Teknologi'/><category term='Tarbiyah Islam'/><category term='Trik Sulap'/><category term='psikologi'/><category term='Berita Kesehatan'/><category term='Unik'/><category term='Humor'/><category term='Kritikan'/><category term='Filsafat'/><category term='Berita Dunia'/><category term='tar'/><category term='sosial'/><category term='Cerita Realitaku'/><title type='text'>Pena Butut | Tulisannya santri Desa</title><subtitle type='html'>Semakin hari semakin lapuk...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>83</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-5040727971899704339</id><published>2010-06-02T09:43:00.001+07:00</published><updated>2010-06-02T09:56:55.380+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Realitaku'/><title type='text'>Memulai Tuk Berfikir Pluralis</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px;"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: auto;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 21px; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; font-size: 13px; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pasca meninggalnya sang guru bangsa, KH. Abdurahman Wahid kata pluralis menjadi lebih familiar di telinga para pelajar dan kalangan awam. Definisi dari pluralis sendiri terbagi menjadi beberapa persepsi yang disikapi secara berbeda. Dari kata pluralis yang tak lain kata yang diadopsi dari bahasa asing. Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku SMP kelas 1, ketika mempelajari bahasa Inggris ada istilah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;singular &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;plural&lt;/i&gt; . Pluralis sendiri menurut bisa diartikan sebagai suatu kejamakan. Dan bisa di kembangkan menjadi pengertian yang lebih panjang. Menurut hemat saya, istilah pluralis bisa di artikan sebagai suatu kejamakan perspektif menyikapi sebuah perbedaan pandangan seseorang yang bisa menumbuhkan sikap tasamuh (toleran) kepada pelakunya. Saya tidak membahas tentang “PLURALIS” secara mendetail dan komprehensif, melainkan lebih ingin menceritakan pengalaman pribadi saya tentang pluralis itu sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 13.5pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ada baiknya jika saya menceritakan background kehidupan saya sendiri. Orang tua saya sendiri berasal dari keluarga yang notabenenya termasuk keluarga yang memegang teguh budaya-budaya ke-NU-an. Terlihat dari kakek, buyut, hingga atasnya ialah mayoritas lulusan dari pondok pesantren salaf di jawa yang berlatar belakang NU. Tidak memunafikkan jika saya sendiri selama kurang lebih 12 tahun mengikuti apa-apa yang dibudayakan keluarga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Namun, ideologi saya mulai berubah ketika saya mulai memasuki jenjang SMP. Dimana sekolah sekaligus pondok pesantren modern yang orang tua saya pilih ternyata bukan berlatar belakang yang&amp;nbsp; sefikrah dengan mereka. Ideologi yang mereka ambil ialah ijtihad dari ulama moderat Mesir, Syeikh Imam Asy Syahid Hasan Al Banna atau lebih dikenal dengan sebutan jama’ah Ikhwanul Muslimin. Harakah ini bergerak dalam bidang tarbiyah, politik dan sosial. Tak heran jika sebagian dari para anggotanya&amp;nbsp; menjadi seorang murrabi-murrabiah beberapa halaqah tarbawiyah di berbagai tempat. Dan mungkin jika anda seorang mahasiswa tidak asing lagi dengan kelompok tarbiyah, organisasi KAMMI dan lain sebagainya. Di kancah perpolitikan pun mereka membuat partai yang biasa kita kenal sebagai Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Walau saat ini partai tersebut tidak terlalu bersifat eksklusif sebagai partai dakwah melainkan lebih terbuka dari sebelumnya (Annis Matta).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Selama 3 tahun saya mengenyam pendidikan dan belajar berbagai hal dari sana.&amp;nbsp; Dimulai dari berbagai budaya dan kebiasaan biasa mereka kerjakan. Cukup mengasyikkan memang. Tapi disana, saya tidak hanya bertemu dengan orang-orang yang berideologi Ikhwanul Muslimin semata. Saya mengenal beberapa orang yang berlatar belakang yang berbeda, dari mulai NU sendiri, Muhammadiyah dan lain sebagainya. Keberuntungan masih berpihak kepada saya, saya bertemu dan kenal dekat dengan salah satu orang yang kebetulan alumni pondok pesantren NU di Jawa, namun cara berfikir dia tidak semuanya berdasarkan apa yang dicerminkan oleh pesantren NU kebanyakan. Jika ingat beliau, saya hanya bisa mengingat jalan pikiran pemikir besar, Ulil Abshar Abdallah dan Nurcholis Madjid. Terlihat dari cara beliau berfikir yang terkesan lebih kontemporer dan lebih logis. Tak lain, jalan pikiran yang beliau pakai seperti Ulil Abhsar Abdallah, seorang tokoh NU yang terkadang pemikirannya lebih ke perubahan zaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Beranjak dewasa, saat usia saya&amp;nbsp; menginjak 15 tahun atau mulai memasuki jenjang SMA, Allah memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren besar di Jawa Timur. Tidak dapat di pungkiri lagi, pesantren ini pasti berbeda dan bertolak belakang fikrahnya dibandingkan pesantren saya sebelumnya. Memang benar firasat saya, mayoritas bahkan hampir 99% santrinya berperspektif seperti orang tua saya (tentu anda mengerti maksud saya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Namun, kembali keberuntungan ditangan saya. Awalnya saya hanya berprasangka, saat itu saya hanya bisa bertemu dengan aliran yang homogen. Tetapi tidak untuk saat itu. Saat itu, teman se-asrama dan kebetulan dia se-Jawa Barat mengenalkan seorang anggota Jama’ah Tabligh. Lagi-lagi, ada nama jama’ah yang masih asing ditelinga saya. Dari mereka, saya mengenal istilah kurkun (pekerja agama) dan khuruj. Ciri khas dari jama’ah ini memang dengan aktivitas khurujnya, ialah dimana kewajiban setiap penganutnya untuk keluar berdakwah 2 jam untuk 1 hari, 3 hari untuk 1 bulan, dan 1 bulan untuk 1 tahun. Biasanya jauhnya perjalanan dakwah mereka ditentukan berdasarkan maal (harta) yang mereka punya. Cukup sering saya mengikuti apa yang mereka kerjakan (untuk perhatian, saya tidak sampai terpengaruh dengan apa-apa yang mereka berikan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Saya sempat ditentang oleh teman seasrama saya yang mungkin terlalu ta’ashub&amp;nbsp; (fanatik) dengan alirannya. Dihujat dan diperdebatkan apa-apa yang saya pahami dan apa yang saya lakukan. Anggapan dia mungkin bahwa alirannya itu yang paling benar dan yang paling ahlus sunnah. Namun saat itu, saya hanya bisa berkata seadanya, sebisanya dan sedapat yang pernah saya dapatkan. Saya mencoba menenangkan dan mencoba untuk menjelaskan hakikat ikhtilaf dari sebuah furu’ dalam agama Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;Sampai saat ini, berbagai aliran Islam sudah saya pernah saya ikuti dalam artian hanya mencoba merasakan berfikir dan berinteraksi dengan mereka. Bukankah hal itu tidaklah salah? Karena Mengerti bukan berarti menganut, dan menganut belum tentu memahami. Jadi apa salahnya? Sebagian orang awam masih berperspektif konservatif dan terlalu kolot dalam menyikapi sebuah perbedaan yang ada disekitar mereka. Contohnya saja jika kita berada di kampung halaman, masih banyak ditemui berbagai kefanatikan yang dianut oleh para masyarakat. Pemikiran eksklusif nan tertutup dalam menyikapi perbedaan yang ada, membuat masyarakat lebih berfikir konservatif. Ini akan lebih diperparah dengan adanya pemikiran alirannya paling benar sendiri. Ini menjadi sebuah masalah dan PR besar bagi generasi muda muslim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-5040727971899704339?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/5040727971899704339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/06/memulai-tuk-berfikir-pluralis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5040727971899704339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5040727971899704339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/06/memulai-tuk-berfikir-pluralis.html' title='Memulai Tuk Berfikir Pluralis'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-151384721632334854</id><published>2010-06-01T22:21:00.001+07:00</published><updated>2010-06-02T06:37:24.599+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritikan'/><title type='text'>Validasi SBI untuk sekolah dan bangsa kita?</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: 12px; line-height: 15px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: 12px; line-height: 15px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;div style="text-align: auto;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh civitas akademika SMA Darul Ulum 2 BPP-Teknologi datang juga. Tanggal 27 Mei 2010 merupakan hari giliran Validasi SBI untuk sekolah kita tercinta. Berbagai persiapan yang akan diajukan untuk tim validator telah di fixxed kan. Dari ratusan berkas yang ada di kantor kepala sekolah sampai debu-debu yang ada di dalam kelas mulai dibenahi. Semua civitas baik kepala sekolah, siswa hingga tukang kebun berusaha melakukan persiapan terbaik mereka. Sedikit cerita, hari validasi yang ditunggu itu sempat tertunda beberapa hari. Memang terasa menjadi hari spesial dikalangan kami, bahkan lebih spesial dari hari Maulid Nabi atau bahkan hari Valentine sekalipun. Masa – masa validasi yang dijalani oleh kami terkesan penuh dengan ketegangan yang mungkin amat sangat membuat geli bagi pengamat pendidikan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika kita melihat sisi baik dari program SBI yang di canangkan pemerintah untuk beberapa tahun kedepan, tidak bisa di pungkiri lagi jika program inilah yang akan menjadikan alat globalisator bagi sekolah-sekolah di nusantara. Diantaranya seperti merealisasikan bentuk KBM dengan menggunakan bahasa Internasional dan berbagai macam bentuk tektek bengek yang membiasakan para siswanya terbiasa dengan inggrisialisasi (bahasa penulis sendiri red : proses menginggriskan sesuatu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tapi kita lihat juga perlu melihat dari sisi negatif&amp;nbsp; yang di timbulkan oleh program pemerintah itu. Menurut hemat penulis, sepertinya pemerintah mulai latah dengan kondisi dunia internasional. Pemerintah terlalu berkiblat pada dunia pendidikan barat yang mungkin lebih dikenal lebih maju dan lebih pantas untuk di contoh. Bolehlaah mereka berpendapat seperti itu. Tapi kita lihat juga berbagai kondisi dan realita yang terjadi di sekolah-sekolah secara langsung. Sepertinya hanya beberapa sekolah yang telah memenuhi persyaratan untuk mengikuti&amp;nbsp; program SBI pemerintah tersebut. Dengan demikian, tidak salah jika penulis menyatakan bahwa SBI masih terkesan absurd. Karena didalamnya masih terdapat ketidakproporsionalan antara kedua belah pihak, yaitu pemerintah dan sekolah-sekolah di daerah. Seperti yang penulis katakan sebelumnya, sekolah yang telah memenuhi persyaratan untuk menjadi SBI masih minim sekali. Sedangkan komoditas sekolah – sekolah untuk mengikuti program ini membludak jumlahnya. Kondisi ini menimbulkan berbagai ketimpangan dalam masalah kualitas sehingga antara kualitas&amp;nbsp; sekolah yang diharapkan pemerintah tidak bisa mengejar tingkat kuantitas yang membludak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tanggung jawab moral yang harusnya diemban oleh pemerintah yaitu menjaga dan meneruskan generasi budaya secara umum tampaknya semakin hari semakin sempit dengan adanya SBI tersebut. Ini disebabkan kuatnya dependensi negara barat yang menjadi patokan para pemerintah dalam menjalankan roda pendidikannya. Dimulai dari pemberlakuan berbahasa Inggris ketika KBM berlangsung dan lain sebagainya. Terlihat dari penampangan luar, memang ini terlihat lebih mengglobalisasi yang dapat menjadikan siswa terbiasa dalam lingkungan keinggrisan. Tetapi bahasa – bahasa daerah yang mereka miliki semakin hari semakin berkurang kemampuannya. Terlebih miris lagi apabila bahasa daerah yang memiliki tingkat kesopanan yang berbeda, sebagai contoh bahasa jawa, bahasa sunda dan berbagai bahasa di belahan nusantara lainnya.&amp;nbsp; Sepertinya tidak salah jika saya mengutarakan bahwa pemerintah semakin hari semakin latah dengan tendesius barat.&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: monospace; font-size: 12px; line-height: 15px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-151384721632334854?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/151384721632334854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/06/validasi-sbi-untuk-sekolah-dan-bangsa_01.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/151384721632334854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/151384721632334854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/06/validasi-sbi-untuk-sekolah-dan-bangsa_01.html' title='Validasi SBI untuk sekolah dan bangsa kita?'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-5607840295026747650</id><published>2010-05-30T10:10:00.000+07:00</published><updated>2010-05-30T10:10:02.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unik'/><title type='text'>100 orang ber-IQ tertinggi se dunia</title><content type='html'>1.Leonardo da Vinci Universal Genius,asal Italy, IQ 220&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Johann Wolfgang von Goethe — Germany 210&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Gottfried Wilhelm von Leibniz — Germany 205&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Emanuel Swedenborg — Sweden 205&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.William James Sidis — USA 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Kim Ung-Yong — Korea 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Thomas Wolsey Politician England 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Hugo Grotius Writer Holland 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Sir Francis Galton Scientist &amp; doctor England 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.John Stuart Mill Universal Genius England 200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class= fullpost&gt;&lt;br /&gt;11.Christopher Langan Bouncer &amp; scientist &amp; philosopher&lt;br /&gt;USA 195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.Sarpi Councilor &amp; theologian &amp; historian Italy 195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.George H. Choueiri A.C.E Leader Lebanon 195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.Blaise Pascal Mathematician &amp; religious philosopher France 195&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.Ludwig Wittgenstein Philosopher Austria 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.Phillipp Melanchthon Humanist &amp; theologian Germany 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.PierreSimon de Laplace Astronomer &amp; mathematician France&lt;br /&gt;190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.Philip Emeagwali Mathematician Nigeria 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.William Pitt (the Younger) Politician England 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.Voltaire Writer France 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.Albrecht von Haller Medical scientist Switzerland 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.George Berkeley Philosopher Ireland 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.Garry Kasparov Chess player Russia 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.Sir Isaac Newton Scientist England 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.Friedrich von Schelling Philosopher Germany 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.Arnauld Theologian France 190&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.Bobby Fischer Chess player USA 187&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.Marilyn vos Savant Writer USA 186&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.Galileo Galilei Physicist &amp; astronomer &amp; philosopher Italy&lt;br /&gt;185&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.Joseph Louis Lagrange Mathematician &amp; astronomer Italy/&lt;br /&gt;France 185&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.Ren Descartes Mathematician &amp; philosopher France 185&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.Lord Byron Poet &amp; writer England 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.David Hume Philosopher &amp; politician Scotland 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.John H. Sununu Chief of Staff for President Bush USA 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.James Woods Actor USA 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.Madame de Stael Novelist &amp; philosopher France 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.Charles Dickens Writer England 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.Thomas Chatterton Poet &amp; writer England 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39.Alexander Pope Poet &amp; writer England 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.Buonarroti Michelangelo Artist, poet &amp; architect Italy 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.Benjamin Netanyahu Israeli Prime Minister Israel 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42.Arne Beurling Mathematician Sweden 180&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43.Baruch Spinoza Philosopher Holland 175&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.Johannes Kepler Mathematician, physicist &amp; astronomer&lt;br /&gt;Germany 175&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.Immanuel Kant Philosopher Germany 175&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46.Robert Byrne Chess Player Irland 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47.Johann Strauss Composer Germany 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48.Hypatia Philosopher &amp; mathematician Alexandria 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49.Richard Wagner Composer Germany 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50.Andrew J. Wiles Mathematician England 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51.Sofia Kovalevskaya Mathematician &amp; writer Sweden/Russia&lt;br /&gt;170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52.Dr David Livingstone Explorer &amp; doctor Scotland 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53.Donald Byrne Chess Player Irland 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54.Martin Luther Theorist Germany 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55.Judith Polgar Chess player Hungary 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56.Plato Philosopher Greece 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57.George Friedrich H?ndel Composer Germany 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58.Raphael Artist Italy 170&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59.Felix Mendelssohn Composer Germany 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60.Truman Cloak — – 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61.JohnLocke Philosopher England 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62.Ludwig van Beethoven Composer Germany 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63.Charles Darwin Naturalist England 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64.Carl von Linn Botanist Sweden 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65.Johann Sebastian Bach Composer Germany 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66.James Watt Physicist &amp; technician Scotland 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;67.Friedrich Hegel Philosopher Germany 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68.Wolfgang Amadeus Mozart Composer Austria 165&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69.Jola Sigmond Teacher Sweden 161&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70.Dolph Lundgren Actor Sweden 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;71.Bill Gates CEO, Microsoft USA 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;72.Albert Einstein Physicist USA 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;73.George Eliot (Mary Ann Evans) Writer England 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;74.Paul Allen Microsoft cofounder USA 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75.Nicolaus Copernicus Astronomer Poland 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;76.Joseph Haydn Composer Austria 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;77.Benjamin Franklin Writer, scientist &amp; politician USA 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78.James Cook Explorer England 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;79.Stephen W. Hawking Physicist England 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80.Sir Clive Sinclair Inventor England 159&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;81.Honor de Balzac Writer France 155&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;82.Anthonis van Dyck Artist Belgium 155&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;83.Miguel de Cervantes Writer Spain 155&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;84.Ralph Waldo Emerson Writer USA 155&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;85.Rembrandt van Rijn Artist Holland 155&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;86.Jonathan Swift Writer &amp; theologian England 155&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87.Sharon Stone Actress USA 154&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;88.John Quincy Adams President USA 153&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;89.George Sand Writer France 150&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;90.Rousseau Writer France 150&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;91.Jayne Mansfield — USA 149&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92.H. C. Anderson Writer Denmark 145&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;93.Bonaparte Napoleon Emperor France 145&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;94.Richard Nixon Ex-President USA 143&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;95.Hjalmar Schacht Nazi officer Germany 143&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;96.Adolf Hitler Nazi leader Germany 141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;97.Shakira Singer Colombia 140&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;98.Hillary Clinton Ex-President wife USA 140&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99.Geena Davis Actress USA 140&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100.Jean M. Auel Writer Canada 140  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari http://ceritakan.com/sains/100-orang-yang-mempunyai-iq-tinggi-di-dunia/comment-page-1/#comment-973 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-5607840295026747650?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/5607840295026747650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/05/100-orang-ber-iq-tertinggi-se-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5607840295026747650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5607840295026747650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/05/100-orang-ber-iq-tertinggi-se-dunia.html' title='100 orang ber-IQ tertinggi se dunia'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-4581997509603910023</id><published>2010-05-26T11:34:00.000+07:00</published><updated>2010-05-26T11:34:56.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unik'/><title type='text'>Mengapa negara kita ga maju maju yaahh??</title><content type='html'>Karena rakyat Indonesia sejak dini sudah didoktrin dengan lagu2 yang&lt;br /&gt;tidak bermutu &amp; mengandung banyak kesalahan, mengajarkan kerancuan, Dan&lt;br /&gt;menurunkan motivasi.&lt;br /&gt;Mari Kita buktikan :&lt;span class= fullpost&gt;&lt;br /&gt;Lagu pertama:&lt;br /&gt;"Balonku Ada 5… Rupa-rupa warnanya… Merah, kuning, kelabu…..&lt;br /&gt;Merah muda Dan biru …&lt;br /&gt;Meletus balon hijau , dorrrr!!!"&lt;br /&gt;Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba2 muncul warna&lt;br /&gt;hijau?&lt;br /&gt;Jadi jumlah balon sebenarnya Ada 6, bukan 5 ! -:)&lt;br /&gt;Lagu kedua:&lt;br /&gt;"Aku seorang kapiten… Mempunyai pedang panjang…&lt;br /&gt;Kalo berjalan prok..prok.. Prok… Aku seorang kapiten!"&lt;br /&gt;Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait&lt;br /&gt;Kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) Harusnya dia tetap&lt;br /&gt;konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia&lt;br /&gt;bernyanyi : "mempunyai sepatu Baja (bukan pedang panjang).. Kalo berjalan&lt;br /&gt;prok..prok. . Prok.." nah, itu baru klop!&lt;br /&gt;Jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi :&lt;br /&gt;"mempunyai pedang panjang… Kalo berjalan ndul…gondal. .gandul.. Atau&lt;br /&gt;srek.. Srek.. Srek.." itu baru sesuai dgn kondisi pedang panjangnya!&lt;br /&gt;Lagu ketiga:&lt;br /&gt;"Bangun tidur Ku terus mandi.. Tidak lupa menggosok gigi.. Habis mandi&lt;br /&gt;Ku tolong ibu.. Membersihkan tempat tidurku.." Perhatikan setelah habis&lt;br /&gt;mandi langsung membersihkan tempat tidur.&lt;br /&gt;Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam&lt;br /&gt;menyelesaikan tugasnya Dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si&lt;br /&gt;anak pakai baju dulu Dan tidak langsung membersihkan tempat tidur&lt;br /&gt;dalam kondisi basah Dan telanjang!&lt;br /&gt;Lagu keempat:&lt;br /&gt;"Naik-naik ke puncak gunung.. Tinggi.. Tinggi sekali..kiri kanan&lt;br /&gt;kulihat saja.. Banyak pohon&lt;br /&gt;Cemara..2X"&lt;br /&gt;Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat Dan&lt;br /&gt;motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang&lt;br /&gt;tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki&lt;br /&gt;lalu jadi bingung Dan gak tau mau berbuat apa, bisanya cuma noleh ke&lt;br /&gt;kiri ke kanan aja, gak maju2!&lt;br /&gt;Lagu kelima:&lt;br /&gt;"Naik kereta api tut..tut..tut. . . Siapa hendak turut ke Bandung ..&lt;br /&gt;Sby.. Bolehlah naik dengan percuma..ayo kawanku lekas naik.. Keretaku tak&lt;br /&gt;berhenti lama"&lt;br /&gt;Nah, yg begini ini yg parah! Mengajarkan anak-anak kalo sudah&lt;br /&gt;Dewasa maunya gratis melulu.&lt;br /&gt;Pantesan PJKA rugi terus! Terutama jalur Jakarta-Malang Dan&lt;br /&gt;Jakarta-Surabaya!&lt;br /&gt;Lagu keenam:&lt;br /&gt;"Di pucuk pohon cempaka.. Burung kutilang berbunyi.. Bersiul2 sepanjang&lt;br /&gt;Hari dg tak&lt;br /&gt;Jemu2..mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. Li..li.."&lt;br /&gt;Ini juga menyesatkan Dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg&lt;br /&gt;Sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. Cuit!&lt;br /&gt;Kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang (catatan: acara&lt;br /&gt;lagu anak2 dgn presenter Agnes Monica waktu dia masih kecil adalah tra&lt;br /&gt;la la tri li li!), bukan burung!&lt;br /&gt;Lagu ketujuh&lt;br /&gt;"Pok am¨¦ am¨¦.. Belalang kupu2.. Siang makan nasi, kalo malam&lt;br /&gt;minum Susu.."&lt;br /&gt;Ini jelas lagu dewasa Dan tidak konsumsi anak2!&lt;br /&gt;Karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan&lt;br /&gt;anak Kecil.&lt;br /&gt;Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem&lt;br /&gt;ya Minum susu!&lt;br /&gt;Lagu kedelapan&lt;br /&gt;"Nina bobo Nina bobo oh Nina bobo… Kalau tidak bobo digigit nyamuk"&lt;br /&gt;Menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2 Indonesia diajak tidur dgn&lt;br /&gt;lagu yg penuh nada mengancam. Dan justru waktu tidur Kita sering digigit&lt;br /&gt;nyamuk&lt;br /&gt;Lagu kesembilan:&lt;br /&gt;"Bintang kecil dilangit yg biru…"&lt;br /&gt;Ini menunjuk pada sesuatu yang tidak pada kenyataan Dan membingungkan&lt;br /&gt;Bintang khan adanya malem, lah kalo malem kok warna langitnya biru?&lt;br /&gt;Lagu Kesepuluh:&lt;br /&gt;"Ibu Kita Kartini…harum namanya"&lt;br /&gt;Mana yang benar… Tidak pernah memperoleh penjelasan Ibu Kita itu&lt;br /&gt;namanya Kartini atau Harum?&lt;br /&gt;Lagu kesebelas:&lt;br /&gt;"Pada Hari minggu kuturut ayah ke kota …naik delman istimewa kududuk&lt;br /&gt;di muka"&lt;br /&gt;Apakah memang anak harus duduk di depan? Seperti Kita lihat mereka yang&lt;br /&gt;menggunakan sepeda motor sekarang ini…. Anak selalu di depan&lt;br /&gt;Lagu keduabelas&lt;br /&gt;"Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun Kita…"&lt;br /&gt;Kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang MO bikin sumur?&lt;br /&gt;Mungkin yang inilah yang membuat Kita-Kita ini semua sekarang menjadi orang&lt;br /&gt;yang tidak bisa berpikir jernih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-4581997509603910023?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/4581997509603910023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/05/mengapa-negara-kita-ga-maju-maju-yaahh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4581997509603910023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4581997509603910023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/05/mengapa-negara-kita-ga-maju-maju-yaahh.html' title='Mengapa negara kita ga maju maju yaahh??'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-2614220028329075953</id><published>2010-05-26T10:05:00.001+07:00</published><updated>2010-05-26T10:10:11.779+07:00</updated><title type='text'>Pluralisme dalam Perspektif Islam</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;Pluralisme agama telah menjadi salah satu wacana kontemporer yang sering dibicarakan akhir-akhir abad 20, khususnya di Indonesia. Wacana ini sebenarnya ingin menjembatani hubungan antaragama yang seringkali terjadi disharmonis dengan mengatasnamakan agama, diantaranya kekerasan sesama umat beragama, maupun kekerasan antarumat beragama.&lt;br /&gt;Di kalangan media saat ini terdapat pandangan umum bahwa Islam tidak mendukung pluralisme. Lebih menyedihkan lagi, kerap kali kita mendengar bagaimana susahnya minoritas non-Muslim untuk bisa hidup secara damai dan harmonis di negara-negara Muslim. Tindakan kekerasan orang-orang ekstrimis yang menyalahgunakan teologi Islam untuk membenarkan serangan jahatnya semakin mengentalkan prasangka buruk terhadap Muslim, dan saat ini banyak orang mengira bahwa orang-orang Muslim tidak percaya akan pluralisme dan keragaman. Padahal, sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa Islam — sebagaimana diajarkan oleh al- Qur’an serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad beserta para sahabatnya — benar-benar menerima, merayakan, dan bahkan mendorong kemajemukan.&lt;br /&gt;Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu didalam tulisan ini penulis mencoba membuka tabir atau menyodorkan bukti-bukti yang dapat dijadikan acuan bahwa islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi Pluralisme.&lt;br /&gt;Definisi Pluralisme&lt;br /&gt;Pluralisme agama bisa dipahami dalam minimum tiga kategori. Pertama, kategori sosial. Dalam pengertian ini, pluralisme agama berarti ”semua agama berhak untuk ada dan hidup”. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati iman atau kepercayaan dari penganut agama lainnya. Kedua, kategori etika atau moral. Dalam hal ini pluralisme agama berarti bahwa ”semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah”. Jika kita menganut pluralisme agama dalam nuansa etis, kita didorong untuk tidak menghakimi penganut agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi, hukuman gantung, eutanasia, dll. Ketiga, kategori teologi-filosofi. Secara sederhana berarti ”agama-agama pada hakekatnya setara, sama-sama benar dan sama-sama menyelamatkan”. Mungkin kalimat yang lebih umum adalah ”banyak jalan menuju Roma”. Semua agama menuju pada Allah, hanya jalannya yang berbeda-beda&lt;br /&gt;&lt;span class= fullpost&gt;Kata “pluralisme agama” berasal dari dua kata, yaitu “pluralisme” dan “agama” dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan “al-ta’ddudiyah” dan dalam bahsa Inggris “religius pluralism”. Dalam bahasa Belanda, merupakan gabungan dari kata plural dan isme. Kata “plural” diartikan dengan menunjukkan lebih dari satu. Sedangkan isme diartikan dengan sesuatu yang berhubungan dengan paham atau aliran. Dalam bahasa Inggris disebut pluralism yang berasal dari kata “plural” yang berarti lebih dari satu atau banyak. Dalam Kamus The Contemporary Engglish-Indonesia Dictionary, kata “plural” diartikan dengan lebih dari satu/jamak dan berkenaan dengan keaneka ragaman. Jadi pluralisme, adalah paham atau sikap terhadap keadaan majemuk, baik dalam konteks sosial, budaya, politik, maupun agama. Sedangkan kata “agama” dalam agama Islam diistilahkan dengan “din” secara bahasa berarti tunduk, patuh, taat, jalan. Pluralisme agama adalah kondisi hidup bersama antarpenganut agama yang berbeda-beda dalam satu komonitas dengan tetap mempertahankan cirri-ciri spesifik ajaran masing-masing agama.&lt;br /&gt;Dengan demikian yang dimaksud “pluralisme agama” adalah terdapat lebih dari satu agama (samawi dan ardhi) yang mempunyai eksistensi hidup berdampingan, saling bekerja sama dan saling berinteraksi antara penganut satu agama dengan penganut agama lainnya, atau dalam pengertian yang lain, setiap penganut agama dituntut bukan saja mengakui keberadan dan menghormati hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan, guna tercapainya kerukunan dalam keragaman. Dalam prepektif sosiologi agama, secara terminology, pluralisme agama dipahami sebagai suatu sikap mengakui dan menerima kenyataan kemajemukan sebagai yang bernilai positif dan merupakan ketentuan dan rahmat Tuhan kepada manusia&lt;br /&gt;Pluralisme Dalam Islam&lt;br /&gt;Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.&lt;br /&gt;Dalam Islam berteologi secara inklusif dengan menampilkan wajah agama secara santun dan ramah sangat dianjurkan. Islam bahkan memerintahkan umat Islam untuk dapat berinteraksi terutama dengan agama Kristen dan Yahudi dan dapat menggali nilai-nilai keagamaan melalui diskusi dan debat intelektual/teologis secara bersama-sama dan dengan cara yang sebaik-baiknya (QS al-Ankabut/29: 46), tentu saja tanpa harus menimbulkan prejudice atau kecurigaan di antara mereka. &lt;br /&gt;Agama Islam adalah agama damai yang sangat mengahargai, toleran dan membuka diri terhadap pluralisme agama. Isyarat-isyarat tentang pluralisme agama sanagat banyak ditemukan di dalam al-qur’an antara lain Firman Allah “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. (QS. Al-Kafirun: 109/6). Pluarlisme agama adalah merupakan perwujudan dari kehenddak Allah swt. Allah tidak menginginkan hanya ada satu agama walaupun sebenarnya Allah punya kemampuan untuk hal itu bila Ia kehendaki. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu.” (QS. Hud: 11/118). Dalam al-qur’an berulang-ulang Allah manyatakan bahwa perbedaan di antara umat manusia, baik dalam warna kulit, bentuk rupa, kekayaan, ras, budaya dan bahasa adalah wajar, Allah bahkan melukiskan pluralisme ideologi dan agama sebagai rahmat. Allah menganugrahkan nikmat akal kepada manusia, kemudian dengan akal tersebut Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agama yang ia yakini kebenarannya tanpa ada paksaan dan intervensi dari Allah. Sebagaimana Firmannya “Tidak ada paksaan dalam agama”. (QS. Al Baqarah: 2/256). Manusia adalah makhluk yang punya kebebasan untuk memilih dan inilah salah satu keistimewaan manusia dari makhluk lainnya, namun tentunya kebebasa itu adalah kebabsan yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah swt.&lt;br /&gt;Kitab suci al-qur’an diturunkan dalam konteks kesejarahan dan stuasi keagamaan yang pluralistik (plural-religius). Setidaknya terdapat empat bentuk keyakinan agama yang berkembang dalam masyarakat Arab tempat Muhammad saw. menjalankan misi profetkinya sebelum kehadiran Islam, yaitu Yudaisme (Yahudi); Kristen, Zoroastrianisme dan agama Makkah sendiri. Tiga di antaranya yang sangat berpengaruh dan senantiasa disinggung oleh al-qur’an dalam berbagai levelnya adalah Yahudi, Kristen dan agama Makkah.&lt;br /&gt;Kedatangan al-qur’an ditengah-tengah pluralitas agama tidak serta-merta mendeskriditkan agama-agama yang berkembang pada saat itu, tapi al-quran sangat bersifat asfiratif, akomodatif, mengakui dan membenarkan agama-agama yang datang sebelum al-qur’an diturunkan. Bahkan lebih jauh dari itu al-qur’an juga mengakui akan keutamaan umat-umat terdahulu sebagaimana terdapat dalam ayat. “Whai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di ala mini (pada masa itu)”. (QS. Al-Baqarah: 2/47). Dalam ayat ini, tergambar suatu sikap pengakuan al-qur’an akan keunggulan dan keutamaan umat-umat terdahulu sebelum umat Islam. &lt;br /&gt;Al-qur’an sebagai sumber normatif bagi satu teologi inklusif-pluralis. Bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang mempunyai posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain al-qur’an. Maka, al-qur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep pluralisme agama dalam al-qur’an. &lt;br /&gt;Berikut beberapa ayat Dalam Alqur’a Yang menyiratkan tentang pluralisme :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Perintah Islam agar umatnya bersikap toleran, bukan hanya pada agama Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada agama-agama lain. Ayat 256 surat al-Baqarah mengatakan bahwa tidak ada paksaan dalam soal agama karena jalan lurus dan benar telah dapat dibedakan dengan jelas dari jalan salah dan sesat. Terserahlan kepada manusia memilih jalan yang dikehendakinya. Telah dijelaskan mana jalan benar yang akan membawa kepada kesengsaraan. Manusia merdeka memilih jalan yang dikehendakinya. Kemerdekaan ini diperkuat oleh ayat 6 surah al-Kafirun yang mengatakan: Bagimulah agamamu dan bagiku agamaku.&lt;br /&gt;• Pluralitas adalah salah satu kenyataan objektif komunitas umat manusia, sejenis hukum Allah atau Sunnah Allah, sebagaimana firman Allah SWT: “ Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal” (Al Hujurat 49: 13). &lt;br /&gt;• Dalam kaitannya yang langsung dengan prinsip untuk dapat menghargai agama lain dan dapat menjalin persahabatan dan perdamaian dengan ‘mereka’ inilah Allah, di dalam al-Qur’an, menegur keras Nabi Muhammad SAW ketika ia menunjukkan keinginan dan kesediaan yang menggebu untuk memaksa manusia menerima dan mengikuti ajaran yang disampaikanya, sebagai berikut: “Jika Tuhanmu menghendaki, maka tentunya manusia yang ada di muka bumi ini akan beriman. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia, di luar kesediaan mereka sendiri? (Q.S. Yunus: 99).&lt;br /&gt;• Dalam bidang hukum agama, norma-norma dan peraturan kaum Yahudi dan Nasrani diakui (QS al-Maidah: 47) dan bahkan dikuatkan oleh Nabi ketika beliau diseru untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka (QS al-Maidah: 42-43).&lt;br /&gt;• Dan Masih banyak lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan al-qur’an terhadap pluralisme dipertegas lagi dalam khutbah perpisahan Nabi Muhammad. Sebagimana dikutip oleh Fazlur Rahman, ketika Nabi menyatakan bahwa, “Kamu semua adalah keturunan Adam, tidak ada kelebihan orang Arab terhadap orang lain, tidak pula orang selain Arab terhadap orang Arab, tidak pula manusia yang berkulit putih terhadap orang yang berkulit hitam, dan tidak pula orang yang hitam terhadap yang putih kecuali karena kebajikannya.” Khutbah ini menggambarkan tentang persamaan derajat umat manusia dihadapan Tuhan, tidak ada perbedaan orang Arab dan non Arab, yang membedakan hanya tingkat ketakawaan&lt;br /&gt;Sungguh menarik untuk mencermati dan memahami pengakuan al-qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang berfungsi sebagai petunjuk (hudan) dan obat penetram (syifa li mafi al-shudhur) terhadap pluralitas agama, jika ayat-ayat al-qur’an dipahami secara utuh, ilmiah-kritis-hermeneutis, terbuka, dan tidak memahaminya secara ideiologis-politis, tertutup, al-qur’an sangat radikal dan liberal dalam mengahadapi pluralitas agama. &lt;br /&gt;Secara normatif-doktrinal, al-qur’an dengan tegas menyangkal dan menolak sikap eksklusif dan tuntutan truth claim (klaim kebenaran) secara sepihak yang berlebihan, seperti biasa melekat pada diri penganut agama-agama, termasuk para penganut agama Islam. Munculnya klaim kebenaran sepihak itu pada gilirannya akan membawa kepada konflik dan pertentangan yang menurut Abdurrahman Wahid, merupakan akibat dari proses pendangkalan agama, dan ketidak mampuan penganut agama dalam memahami serta menghayati nilai dan ajaran agama yang hakiki. Al-qur’an berulangkali mengakui adanya manusia-manusia yang saleh di dalam kaum-kaum tersebut, yaitu Yahudi, Kristen, dan Shabi’in seperti pengakuannya terhadap adanya manusia-manusia yang beriman di dalam Islam. Ibnu ‘Arabi salah seorang Sufi kenamaan mengatakan, bahwa setiap agama wahyu adalah sebuah jalan menuju Allah, dan jalan-jalan tersebut berbeda-beda. Karena penyingkapan diri harus berbeda-beda, semata-mata anugrah Tuhan yang juga berbeda. Jalan bisa saja berbeda-beda tetapi tujuan harus tetap sama, yaitu sama-sama menuju kepada satu titik yang sama yakni Allah swt. &lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya pluralisme agama. Pluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai pluralisme karena Islam adalah agama yang dengan tegas mengakui hak-hak penganut agama lain untuk hidup bersama dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.&lt;br /&gt;Al-qur’an sebagai sumber normatif bagi satu teologi inklusif-pluralis. Bagi kaum muslimin, tidak ada teks lain yang mempunyai posisi otoritas mutlak dan tak terbantahkan selain al-qur’an. Maka, al-qur’an merupakan kunci untuk menemukan dan memahami konsep pluralisme agama dalam al-qur’an.&lt;br /&gt;Pluarlisme agama adalah merupakan perwujudan dari kehenddak Allah swt. Allah tidak menginginkan hanya ada satu agama walaupun sebenarnya Allah punya kemampuan untuk hal itu bila Ia kehendaki. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu.” (QS. Hud: 11/118). Dalam al-qur’an berulang-ulang Allah manyatakan bahwa perbedaan di antara umat manusia, baik dalam warna kulit, bentuk rupa, kekayaan, ras, budaya dan bahasa adalah wajar, Allah bahkan melukiskan pluralisme ideologi dan agama sebagai rahmat. Allah menganugrahkan nikmat akal kepada manusia, kemudian dengan akal tersebut Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih agama yang ia yakini kebenarannya tanpa ada paksaan dan intervensi dari Allah. Sebagaimana Firmannya “Tidak ada paksaan dalam agama”. (QS. Al Baqarah: 2/256). Manusia adalah makhluk yang punya kebebasan untuk memilih dan inilah salah satu keistimewaan manusia dari makhluk lainnya, namun tentunya kebebasa itu adalah kebabsan yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah swt. dikutip dari http://www.yusupbakri.co.cc/2010/01/pluralisme-dalam-perspektif-islam.html &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-2614220028329075953?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/2614220028329075953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/05/pluralisme-dalam-perspektif-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/2614220028329075953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/2614220028329075953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/05/pluralisme-dalam-perspektif-islam.html' title='Pluralisme dalam Perspektif Islam'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-1337298942189896053</id><published>2010-03-24T17:46:00.003+07:00</published><updated>2010-03-24T17:46:50.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Realitaku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Unik'/><title type='text'>Ekspedisi pencarian N-Gage Sayaang...</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CGER4LD%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CGER4LD%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CGER4LD%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 415 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0in;	margin-right:0in;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0in;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:IN;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Calibri;}@page Section1	{size:595.3pt 841.9pt;	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;SREEEEETTTTTTTTT...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Eiit,,,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hufhf..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Salam dulu ah... Assalamu’alaikum Ikhwah...Waduh,, dah lama euy ga menjamah blog lagi.,, akhirnya sempet juga nulis sepatah dua patah kata lah,,,hehe.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pengen cerita nih... sekarang kan lagi UAN kaka kelas kita nih,, so otomatis kite-kite libur euy. Nah, diliburan kali ini ane nyempatin buat maen ke rumah salah satu temen di daerah Blitar. Ya karena dah janji sama bundanya dari zaman jebod, and pengen cari pengalaman baru, akhirnya telah ku putuskan tuk menjelajahi kota ini. Blitar, yahh,, Blitar,,, kota yang penuh arti sejarah. Kalo kita inget-inget sejarah, Soekarno lahir disini and di makamin di sini. Soepriyadi, U know that?? The young hero from this city. Yeah,, yang mati muda juga itu loh,,, Yaah pokoknya gitulah kalo Blitar diliat dari kacamata sejarah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Beda lagi dengan kacamata butut seorang Iqbal, Blitar ane anggep sebage kota yang menjadi integrasi &lt;/span&gt;dari &lt;span lang="IN"&gt;2 kota di Jawa Barat. Loh,, kok bisa??&lt;/span&gt; Bisa dunk!!! Kenape? Gampang ajahh!!!!&amp;nbsp; Blitar tuh mewakili kota Kuningan and Indramayu loh mpok. &lt;i&gt;Ouuwww&lt;/i&gt;&amp;nbsp; &lt;i&gt;emang apenye?? &lt;/i&gt;&amp;nbsp;Nih, suasana kotanya terkadang panas, banyak sawah mirip Indramayu. &lt;i&gt;Nah yang mewakili Kuningannye mane? &lt;/i&gt;&amp;nbsp;Disini walaupun kotanya berada di daerah dataran nanggung (rendah enggak tinggi juga enggak,,yah tengah-tengah lahh), ternyata banyak jalan-jalan yang&amp;nbsp; naek turun juga, and yang buat kentel ma Kuningannye tuh masih banyak hutan -hutan bambunyee jugee.. walaupun ada perbedaan dari kedua kota yang merepresentasikannya, Blitar ndiri ga punya Laut, and ga Punya gunung ternyata mpok!!! Hoho, tapi gapapa, yang penting rasa kangen ma kota Indramayu Kuningan sudah sedikit terobati. Hoho&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Ini ko malah ngedeskripsiin Blitar sih,, mana ceritanyee nih???&lt;/i&gt; SABAR MPOOOK!!!!!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cerita ini berawal dari hawa nafsu yang mendalam (whehehe,, gayamu make bahas-bahas nafsu segalee, Baaaall!!!). Yah, nafsu pengen punya hape N-Gage Classics euyy..hahaha!!!! Berawal dari&amp;nbsp; nyampenya ane di Blitar, sekitar jam 5 sorean baru nyampe (tuh kalo ga salah tanggal 21 Maret). Malemnya langsung cabuuuutt ke Blitar kota buat nyari tuh HP.. GILEEE!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Mantap jaya!!!!!!!!!! Naek motor malem2 kecepatan 120 keatas beuuhhh,, memang gile temenku itu. Ane sih ga masalah, tapi hape disaku takut lepas dari kandangnya..hoho…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nyampe di Kota, langsung menyusuri satu konter demi satu konter. Tujuan pertama ada konter yang katanya paling lengkap di kota Blitar, walaupun tuh konter kecil amet. Ditanya tanya ternyata KOSONG katanya!!! Uhff. Harapan berkurang satu! Lanjutnya temenku langsung bawa motornya ke sebuah nama Jalan, Veteran namanya. Nah, d sono nooh konter-konter hape jejer and berbaris layaknya lagi Latian baris berbaris ala DU2,, wkkwkw. Yah kalo di itung sekitar ada 50 konter lah. Satu demi satu konter disusuri, satu demi satu konter di tanyai, “MAS ADA N-GAGE?”. Tapi tetep mereka bilang,” GA ONO, KOSONG REK!” alaaahh jadi bosen deh. Tapi di ujung pencarian di Jl. Veteran ada secercah harapan ketika ditanya dia ngejawab “ Bentar Tunggu!” ,” Yeaahh akhirnya ini puncak pencarianku.” gumam batinku. Pas diliat tuh HP, ane Illfeel setengah mati sumpahh!!!! Beuh!!! Harganya gilaaa,,, kondisi babak belur kaya abis dipukulin warga, ga da kardusnya lagi.. SUMPAH!!! ILFEEL!!!! GA!!!!!!!!!!!!!. Kecewa Berat ane!!!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tanpa ada rasa menyerah sedikitpun, walaupun tuh MX dah minta dibeliin bensin, ane n temen ane mencoba mencari satu harapan pasti. Haha.. setelah mencari di lain tempat, kita nemuin satu konter yang memberi satu petunjuk adanya harta karun, upzzz gaK bukan,, apa yang kita cari itu. Dua orang penjaga konter (kebetulan cewek) senyam senyum ngeliat ane and temen ane,&amp;nbsp; ga tau kenape, mungkin mereka bilang “&lt;i&gt;Tuh loh yang make jaket (red. Ane) ko ganteng ameet yah,, coba kamu mintain nomer teleponnya(sambil nyuruh penjaga yang satu laginya)” &lt;/i&gt;&amp;nbsp;ato mungkin mereka bilang &lt;i&gt;“Loh, kok ituloh yang tadi nyetir motor (red. Temen ane) kok mirip sama orang yang semalem ketangkep basah nyodom kucing itu yah,”wkwkwkwkw (moga-moga temen ane ga liat nih blog, Ya ALLAH!!!). &lt;/i&gt;Nah intinya sih, mereka nyuruh kita pergi ke konter yang ada di daerah sekitar pemakamanya Bung Karno.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yeaaahhh,, kita langsung cabut tuh ke sono.. (yaa menguntungkan bagi ane bisa tau makamnya bung Karno, di Indramayu ga ada sih PAYAHH!!!). menyusuri daerah yang agak gelap (karena ketika itu sekitar jam 10 maleman), di tengah perjalanan, temen ane ngadain acara KELUPAAN!!!!!!!!!!!! SIALL!! Katanyee die lupe jalannye manee,,huhu, kudu tanya ma orang situ dulu atuh!!! Bagian tanya tanya urusan Iqbal yang nyelesein,,hahah.. singkat cerite, kita dah ketemu sama tuh konter, tapi sayangnya tuh konter TUTUP!!! &lt;i&gt;Kelamaan sih loe ahh, make ngadain acara kelupaan segala sih!!!(sambil menyalahkan temen ane)&lt;/i&gt;. Ya sudahlah, Langsung kita menuju rumahmuu soob,, kita pulaanngg!!!!!!!!!!!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hahah (kok kayaknya dicerita ini temen ane ko ngerasa di diskriminasikan gitu yah, ahahhaa, melas dia mukanya (SUDAH TAKDIR MUNGKIN!!! wkwkk).&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nah,,, besoknya kita cari lagi tuh harapan yang semalem sirna.hahah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pagi-pagi kita langsung nyari di konter-konter daerah kecamatannya. Baru tanya satu konter, Alhamdulillah euyy langsung dapet (ALHAMDULILLAH,, akhirnya ga usah capek capek nyari lagi). Spesifikasinya, status yang dimiliki tuh hape janda muda, alias masih mantaap!!! Dengan kardus lengkap dan serba asli segalanya. Harga lebih murah dari pada yang semalem(semalem sih nyekeek diriku). Setelah terjadi tawar menawar harga, akhirnya keputusan final, DEAL DIBELI!! Langsung tuh di konter ditulis, UNTUK N-GAGE SOLD OUT KARENA TELAH DIBELI OLEH ORANG ANEH!!! Wkwkwk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Langsung deh hari itu ane cari-cari aplikasi tambahan buat si N-Gageku sayang…&amp;nbsp; maklum dah sekitar 3 tahun ngidam-ngidamin tuh hape tapi ga kesampean. Hoho&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya ekspedisi mencari N-Gageku berakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Doakan wahai pembaca agar N-Gageku bisa langgeng melayani dan menemani si empunya. Amieen!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-1337298942189896053?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/1337298942189896053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/03/ekspedisi-pencarian-n-gage-sayaang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/1337298942189896053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/1337298942189896053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/03/ekspedisi-pencarian-n-gage-sayaang.html' title='Ekspedisi pencarian N-Gage Sayaang...'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-701453918766883143</id><published>2010-03-19T07:51:00.002+07:00</published><updated>2010-03-19T07:51:56.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Teori Filsafat Episteme</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial; font-size: 100%; font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://blog.persimpangan.com/blog/2007/09/27/filafat-perenialisme/" title="FILAFAT PERENIALISME"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;TEORI PERENIALISME&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Perenialisme adalah suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata &lt;i&gt;perennial&lt;/i&gt; yang berarti abadi atau kekal. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Sementara pandanganya dalam hal kenyataan, perenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama ialah jaminan bahwa realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada di mana saja dan sama di setiap waktu. Dengan keputusan yang bersifat ontologism kita akan sampai pada pengertian pengerian hakikat. Ontologi perenialisme berisikan pengertian : benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Benda individual adalah benda yang sebagaimana nampak di hadapan manusia yang dapat ditangkap oleh indera kita seperti batu, kayu,dll&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Esensi dari sesuatu adalah suatu kualitas tertentu yang menjadikan benda itu lebih baik intrinsic daripada halnya, misalnya manusia ditinjau dari esensinya adalah berpikir Aksiden adalah keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensialnya, misalnya orang suka dengan barang-barang antik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Substansi adalah suatu kesatuan dari tiap-tiap hal individu dari yang khas dan yang universal, yang material dan yang spiritual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Sementara itu dalam&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt; persoalan nilai ia memiliki aliran bahwa nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan. Secara teologis, manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yaitu nilai yang merupakan suatu kesatuan dengan Tuhan. Untuk dapat sampai kesana manusia harus berusaha dengan bantuan akal rationya yang berarti mengandung nilai kepraktisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Menurut Aristoteles, kebajikan dapat dibedakan: yaitu yang moral dan yang intelektual. Kebajikan moral adalah kebajikan yang merupakan pembentukan kebiasaan, yang merupakan dasar dari kebajikan intelektual. Jadi, kebajikan intelektual dibentuk oleh pendidikan dan pengajaran. Kebajikan intelektual didasari oleh pertimbangan dan pengawasan akal. Oleh perenialisme estetika digolongkan kedalam filsafat praktis. Kesenian sebagai salah satu sumber kenikmatan keindahan adalah suatu kebajikan intelektual yang bersifat praktis filosofis. Hal ini berarti bahwa di dalam mempersoalkan masalah keindahan harus berakar pada dasar-dasar teologis, ketuhanan.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;epercayaan adalah pangkal tolak perenialisme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaian antara piker (kepercayaan) dengan benda-benda. Sedang yang dimaksud benda adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip keabadian.Oleh karena itu, menurut perenialisme perlu adanya dalil â€“ dalil yang logis, nalar, sehingga sulit untuk diubah atau ditolak kebenarannya&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Perenialisme mengemukakan adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat. Science sebagai ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Science yang meliputi biologi, fisika, sosiologi, dan sebagainya ialah pengetahuan yang disebut sebagai empiriological analysis yakni analisa atas individual things dan peristiwa peristiwa pada tingkat pengalaman dan bersifat alamiah. Science seperti ini dalam pelaksanaan analisa dan penelitiannya mempergunakan metode induktif. Selain itu, juga mempergunakan metode deduktif, tetapi pusat penelitiannya ialah meneliti dan mencoba dengan data tertentu yang bersifat khusus. Filsafat sebagai pengetahuan&lt;br /&gt;Menurut perenialisme, fisafat yang tertinggi ialah ilmu metafisika. Sebab, science dengan metode induktif bersifat empiriological analysis (analisa empiris); kebenarannya terbatas, relatif atau kebenarannya probability. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat ontological analysis, kebenaran yang dihasilkannya universal, hakiki, dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri, berpangkal pada hukum pertama; bahwa kesimpulannya bersifat mutlak, asasi. Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa empiris dan analisa ontology keduanya dianggap perenialisme dapat komplementatif. Tetapi filsafat tetap dapat berdiri sendiri dan ditentukan oleh hukum-hukum dalam filsafat sendiri, tanpa tergantung kepada ilmu pengetahuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat Plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;1.Plato&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu fisafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato,dunia idea, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio.&lt;br /&gt;Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip idea mutlak yaitu suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realitas semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transcendental yang membimbing manusia untuk menemukan criteria moral, politik, dan social serta keadilan. Ide mutlak adalah Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;2.Aristoteles&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Aristoteles (384-322 SM) adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan social. Sebagai makhluk rohani, manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal&lt;br /&gt;Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya. Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aristoteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek-aspek jasmaniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir (2:317)&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;3. Thomas Aquinas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah :&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Cinta kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Cinta kebaikan dan keadilan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 39pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Symbol;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Cinta kerjasama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selam berabad-abad : jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan permasalahan di setiap zaman. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang-binatang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Mental disiplin sebagai teori dasar Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental discipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan. Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan ; otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential-self yang membedakannya daripada makhluk- makhluk lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, yaitu aktualitas manusia sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Learning to Reason ( Belajar untuk Berpikir) Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Belajar sebagai Persiapan Hidup Bagi Thomisme, belajar untuk berpikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, kehidupan duniawi menuju kehidupan syurgawi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Learning through Teaching (belajar melalui Pengajaran)&lt;br /&gt;Adler membedakan antara learning by instruction dan learning by discovery, penyelidikan tanpa bantuan guru. Dan sebenarnya learning by instruction adalah dasar dan menuju learning by discovery, sebagai self education. Menurut perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery ; dan ia melakukan moral authority atas murid-muridnya, karena ia adalah seorang professional yang qualified dan superior dibandingkan muridnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan:&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal (Plato) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya ( Aristoteles) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 28.5pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata. (Thomas Aquinas) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Adapun norma fundamental pendidikan menurut J. Maritain adalah cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksistensi serta cinta kerjasama.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;TEORI PROGRESIVISME&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 28.5pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;TEORI KONSTRUKTIVISME&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Teori Konstruktivisme&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt; didefinisikan sebagai &lt;u&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran" title="Pembelajaran"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt; yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gagasan" title="Gagasan"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;gagasan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan" title="Pengetahuan"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Peserta_didik" title="Peserta didik"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pelajar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; aktif membina pengetahuan      berasaskan pengalaman yang sudah ada. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Dalam konteks      pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Unsur terpenting      dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teori" title="Teori"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;teori&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ini ialah seseorang membina      pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi" title="Informasi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;informasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; baru dengan pemahamannya      yang sudah ada. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Ketidakseimbangan      merupakan faktor &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi" title="Motivasi"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;motivasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmiah" title="Ilmiah"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Bahan pengajaran      yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk      menarik miknat pelajar.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Lebih dua dasa warsa terakhir ini, dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori konstruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan-perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka, bahkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Paul Suparno dalam “Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan” mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam praktik pendidikan. Berikut ini adalah intisari buku tersebut, sekiranya bisa bermanfaat bagi para pendidik dan orangtua.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Jika behaviorisme menekankan ketrampilan atau tingkah laku sebagai tujuan pendidikan, sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan usia, sementara konstruktivisme menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Jean Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). Untuk itu, manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. Proses tersebut meliputi:&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;1. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang, dan terus berkembang.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;2. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinci.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;4. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Menurut Ausubel, ada dua macam proses belajar yakni belajar bermakna dan belajar menghafal. Belajar bermakna berarti informasi baru diasimilasikan dalam struktur pengertian lamanya. Belajar menghafal hanya perlu bila pembelajar mendapatkan fenomena atau informasi yang sama sekali baru dan belum ada hubungannya dalam struktur pengertian lamanya. Dengan cara demikian, pengetahuan pembelajar selalu diperbarui dan dikonstruksikan terus-menerus. Jelaslah bahwa teori belajar bermakna Ausubel bersifat konstruktif karena menekankan proses asimilasi dan asosiasi fenomena, pengalaman, dan fakta baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Berlandaskan teori Piaget dan dipengaruhi filsafat sainsnya Toulmin yang mengatakan bahwa bagian terpenting dari pemahaman manusia adalah perkembangan konsep secara evolutif, dengan terus manusia berani mengubah ide-idenya, Posner dkk lantas mengembangkan teori belajar yang dikenal dengan teori perubahan konsep. Tahap pertama dalam perubahan konsep disebut asimilasi, yakni siswa menggunakan konsep yang sudah dimilikinya untuk menghadapi fenomena baru. Namun demikian, suatu ketika siswa dihadapkan fenomena baru yang tak bisa dipecahkan dengan pengetahuan lamanya, maka ia harus membuat perubahan konsep secara radikal, inilah yang disebut tahap akomodasi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Tugas pendidikan adalah bagaimana dua tahap tersebut bisa terus berlangsung dengan terus memberi tantangan sehingga ada ketidakpuasan terhadap konsep yang telah ada. Praktik pendidikan yang bersifat hafalan seperti yang selama ini berlangsung jelas sudah tidak memadai lagi, bahkan bertentangan dengan hakikat pengetahuan dan proses belajar itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Beberapa macam konstruktivisme Von Glaserfeld membedakan tiga level konstruktivisme dalam kaitan hubungan pengetahuan dan kenyataan, yakni konstruktivisme radikal, realisme hipotesis, dan konstruktivisme yang biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Konstruktivisme radikal mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai kriteria kebenaran. Bagi kaum radikal, pengetahuan adalah suatu pengaturan atau organisasi dari suatu obyek yang dibentuk oleh seseorang. Menurut aliran ini kita hanya tahu apa&lt;br /&gt;yang dikonstruksi oleh pikiran kita. Pengetahuan bukanlah representasi kenyataan. Realisme hipotesis memandang pengetahuan sebagai suatu hypotesis dari suatu struktur kenyataan dan sedang berkembang menuju pengetahuan yang sejati yang dekat dengan realitas. Sedangkan konstruktivisme yang biasa, masih melihat pengetahuan sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Dari segi subyek yang membetuk pengetahuan, dapat dibedakan antara konstruktivisme psikologis personal, sosiokulturalisme, dan konstruktivisme sosiologis. Yang personal dengan tokohnya Piaget, menekankan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh seseorang secara&lt;br /&gt;pribadi dalam berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapinya. Orang itu sendiri yang membentuk pengetahuan. Sosiokulturalisme yang ditokohi oleh Vygotsky, menjelaskan bahwa pengetahuan dibentuk baik secara pribadi tetapi juga oleh interaksi sosial dan kultural dengan orang-orang yang lebih tahu tentang hal itu dan lingkungan yang mendukung. Dengan dimasukkannya seseorang dalam suatu masyarakat ilmiah dan kultur yang sudah punya gagasan tertentu, maka orang itu membentuk pengetahuannya. Sedangkan konstruktivisme sosiologis menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh masyarakat sosial. Unsur masyarakatlah yang penting, sedang unsur pribadi tidak diperhatikan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Dampaknya terhadap pendidikan dalam pengertian konstruktivisme, belajar adalah suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dibuat sendiri oleh pelajar atau orang yang mau mengerti. Orang itulah yang aktif berpikir, membuat konsep, dan mengambil makna. Guru atau pendidik di sini hanyalah membantu agar proses konstruksi itu berjalan. Guru bukan&lt;br /&gt;mentransfer pengetahuan sebagai yang sudah tahu, tetapi membantu agar anak didik membentuk pengetahuannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                    &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Dalam pengertian konstruktivisme, murid tidak dianggap sebagai suatu tabula rasa yang kosong, yang tidak mengerti apa-apa sebelumnya. Murid dipahami sebagai subyek yang sudah membawa "pengertian awal" akan sesuatu sebelum mereka mulai belajar secara formal. Bahkan seorang murid klas 1 SD pun sudah membawa pengetahuan awal mengenai macam-macam hal yang dalam tarafnya berlaku untuk memecahkan persoalan. Pengetahuan awal tersebut, meski kadang sangat naif atau tidak cocok dengan pengertian para ahli, perlu diterima dan nanti dibimbing untuk semakin sesuai dengan pemikiran para ahli. Pemikiran mereka itu meski naif, bukanlah salah; tetapi terbatas berlakunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://anungadhy-uin-bi-2b.blogspot.com/2008/04/pemikiran-pendidikan-edward-leer.html"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://anungadhy-uin-bi-2b.blogspot.com/2008/04/pemikiran-pendidikan-edward-leer.html"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;TEORI PENDIDIKAN THORNDIKE&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial; font-weight: normal;"&gt;Teori&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;pendidikan dan pengajaran di amerika serikat di dominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949) teori belajar Thorndike di sebut “ Connectionism” karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon. Teori ini sering juga disebut “Trial and error” dalam rangkan menilai respon yang terdapat bagi stimulus tertentu. Thorndike mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara lain kucing, dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Objek penelitian di hadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu, dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya.&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;Ciri-ciri belajar dengan trial and error :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;1. Ada motif pendorong aktivitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;2. Ada berbagai respon terhadap situasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;3. Ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;4. Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-701453918766883143?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/701453918766883143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/03/teori-filsafat-episteme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/701453918766883143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/701453918766883143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2010/03/teori-filsafat-episteme.html' title='Teori Filsafat Episteme'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-2466246820305126631</id><published>2009-10-02T21:19:00.002+07:00</published><updated>2009-10-02T21:19:49.731+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kontroversi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Ancaman Islam Transnasional?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;h3 class="post-title" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Tiar Anwar Bachtiar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="post-header-line-1" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="post-body" id="post-6467280976940611944" style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;(Ketua PP Pemuda Persatuan Islam)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="entry clearfloat"&gt;                                                                   &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:worddocument&gt; &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt; &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt; &lt;w:trackmoves&gt; &lt;w:trackformatting&gt; &lt;w:punctuationkerning&gt; &lt;w:validateagainstschemas&gt; &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt; &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt; &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt; &lt;w:donotpromoteqf&gt; &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt; &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt; &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt; &lt;w:compatibility&gt; &lt;w:breakwrappedtables&gt; &lt;w:snaptogridincell&gt; &lt;w:wraptextwithpunct&gt; &lt;w:useasianbreakrules&gt; &lt;w:dontgrowautofit&gt; &lt;w:splitpgbreakandparamark&gt; &lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt; &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt; &lt;w:dontvertalignintxbx&gt; &lt;w:word11kerningpairs&gt; &lt;w:cachedcolbalance&gt; &lt;/w:Compatibility&gt; &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt; &lt;m:mathpr&gt; &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt; &lt;m:brkbin val="before"&gt; &lt;m:brkbinsub val=" "&gt; &lt;m:smallfrac val="off"&gt; &lt;m:dispdef&gt; &lt;m:lmargin val="0"&gt; &lt;m:rmargin val="0"&gt; &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt; &lt;m:wrapindent val="1440"&gt; &lt;m:intlim val="subSup"&gt; &lt;m:narylim val="undOvr"&gt; &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt; &lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;mce:style&gt;&lt;!/* Style Definitions */table.MsoNormalTable{mso-style-name:"Table Normal";mso-tstyle-rowband-size:0;mso-tstyle-colband-size:0;mso-style-noshow:yes;mso-style-priority:99;mso-style-qformat:yes;mso-style-parent:"";mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;mso-para-margin-top:0in;mso-para-margin-right:0in;mso-para-margin-bottom:10.0pt;mso-para-margin-left:0in;line-height:115%;mso-pagination:widow-orphan;font-size:11.0pt;font-family:"Calibri","sans-serif";mso-ascii-font-family:Calibri;mso-ascii-theme-font:minor-latin;mso-fareast-font-family:"Times New Roman";mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-hansi-font-family:Calibri;mso-hansi-theme-font:minor-latin;mso-bidi-font-family:Arial;mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Beberapa tahun belakangan ini, terutama setelah peristiwa WTC 11/9/2001, muncul istilah baru bagi beberapa gerakan Islam di Indonesia, yaitu “Islam Transnasional”. Istilah ini merujuk pada gerakan-gerakan Islam baru yang memiliki jejaring internasional, baik sebagai cabang maupun yang hanya memiliki hubungan personal-ideologis. Gerakan-gerakan yang dimaksud biasanya secara eksplisit dituduhkan pada PKS, HTI, dan Salafi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;PKS dianggap sebagai kepanjangan tangan ideologis Ikhwanul Muslimin yang berpusat di Mesir dan berjejaring internasional. Tidak ada bukti-bukti yang kuat bahwa PKS adalah cabang IM di Indonesia. Namun, menilik pada pola gerakan dan semangat ideologis yang tampak, memang tidak bisa ditampik bahwa keterpengaruhan PKS oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Bana tahun 1928 itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;HTI sudah jelas merupakan cabang Hizbut-Tahrir yang berpusat di Libanon. Selain jelas dalam isu-isu yang diangkat, kepemimpinan Hizbut-Tahrir Indonesia memiliki hubungan langsung secara organisatoris dengan cabang-cabang lain di seluruh dunia. Pada aar Konfrensi Khilafah Internasional tahun 2007 di Senayan, terlihat hubungan itu secara sangat telanjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Sementara itu, jamaah Salafi yang sebagian besar tidak mempedulikan struktur dan organisasi dianggap sebagai bagian dari Islam transnasional karena menyebarluaskan ajaran-ajaran Muhammad Ibn Abdul Wahab. Kepada kelompok ini secara tidak terlalu tepat sering dilekatkan istilah “Wahabi”. Bahkan istilah “Wahabi” ini secara mudah sering juga dilekatkan kepada semua gerakan yang dianggap “trannasional”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Isu Islam transnasional ini seringkali disikapi secara salah dan tidak proporsional. Dalam buku &lt;em&gt;Ilusi Negara Islam &lt;/em&gt;yang diterbitkan oleh LibForAll pertengahan Mei lalu, misalnya, disimpulkan bahwa gerakan ini adalah gerakan “asing” yang sangat berbahaya bagi eksistensi NKRI. Gerakan ini dianggap gerakan yang ingin mendirikan negara Islam atau kekhalifahan Islam dan menggusur NKRI. Oleh sebab itu, di akhir buku ini disarankan agar gerakan ini menjadi semacam “musuh bersama” semua gerakan-gerakan Islam lokal dan tradisional yang ada di Indonesia. Benarkah demikian? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Islam Transnasional: Konsep Absurd&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Dalam kasus ini, ada beberapa hal yang harus dicermati secara arif. &lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;secara terminologi, sesungguhnya penamaan “transnasional” ini terlihat serampangan. Pasalnya, sejarah agama-agama besar di Indonesia tidak ada yang tidak “transnasional”. Islam sendiri memang bukan asli Indonesia sama sepertii Kristen, Katolik, Hindu, Budha, atau Konghucu. Wali Songo itu hanya Sunan Kalijaga yang asli berdarah Indonesia (baca: Jawa). Delapan Wali lain berdarah Arab atau campuran Arab-Jawa. Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan lainnya muncul membawa pengaruh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaludin Al-Afghani. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Melihat fakta-fakta ini apa sesungguhnya yang perlu dirisaukan dari HTI, PKS, Salafi, atau gerakan Islam lain yang terpengaruh oleh pemikiran non-Indonesia? Bukankah Muhammadiyah dan organisasi lainnya pun terpengaruh oleh para pemikir asing? Bahkan NU yang disebut-sebut sebagai organisasi Islam tradisionalis sesungguhnya bukan asli Indonesia. Kalau NU mengklaim melanjutkan ajaran para Wali, bukankah itu berarti ajaran yang disebarkan NU adalah ajaran-ajaran “impor”? Bukankah pula mazhab Syafi’i yang dijadikan rujukan utama warga NU juga bukan asli Indonesia? Jadi sangat tidak relevan membenturkan HTI, PKS, Salafi dengan NU-Muhammadiyah dengan isu transnasional dan nasional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;kalau kasusnya adalah mengancam NKRI, inipun sesungguhnya sangat &lt;em&gt;absurd. &lt;/em&gt;Apa yang dimaksud mengancam? Apakah gerakan-gerakan ini melakukan separatisme seperti GAM atau OPM? Sepanjang sejarah organisasi-organisasi ini berdiri sama sekali tidak ada indikasi ke arah sana. Bahkan dalam kasus PKS, organisasi ini malah ikut dalam sistem NKRI: membuat partai dan ikut pemilu. Bukankah ini malah memperkuat NKRI?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;HTI memang mewacanakan berdirinya Khilafah Islamiyah yang beroperasi secara internasional. Namun, sampai hari ini adakah gerakan makar militer yang dilakukan HTI? Bukankah yang dilakukan baru sebatas wacana? Bukankah wacana-wacana itu dapat dengan mudah ditemukan di ruang-ruang publik dan bukan merupakan rahasia. Semua orang dengan mudah dapat membaca bahwa gerakan yang dilakukan oleh HTI ini sifatnya evolusioner. HTI mewujudkan misi dakwahnya dengan marhalah-marhalah yang seandainya semuanya benar-benar akan terjadi, ia akan terjadi pada saat sebagian besar orang menerimanya. Dan pada saat itu, tidak penting lagi berbicara NKRI atau bukan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Isu mengancam NKRI ini lebih &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt; lagi ketika dialamatkan kepada jamaah Salafi. Di negeri asalnya, Saudi Arabia, gerakan ini bukanlah gerakan anti-negara. Ia bahkan gerakan yang mendapat sokongan dari negara. Akan terlihat lebih jelas karakternya ketika kita dalami apa yang menjadi pokok ajaran kelompok ini. Bagi mereka kekuasaan adalah anugerah atau azab. Yang terpenting dakwah memperbaiki akidah dan ibadah umat. Ketika akidah dan ibadah umat sudah benar, dengan sendirinya Allah akan memberikan pemimpin yang adil. Begitu pula sebaliknya. Dari sisi ini, apa yang berbahaya dari gerakan Salafi bagi NKRI. Sama sekali tidak masuk akal kalau gerakan Wahabi semacam ini dianggap sebagai ancaman bagi NKRI. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Adu Domba&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Memperhatikan dari mana munculnya isu Wahabi dan Islam transnasional ini, justru kita patut curiga ada agenda asing di balik semua itu. Sebagian besar proyek yang ujung-ujungnya mendeskriditkan “Islam transnasional” ini dibiayai, atau paling tidak disokong, oleh lembaga-lembaga pro-Barat. Dalam kasus buku &lt;em&gt;Ilusi Negara Islam &lt;/em&gt;jelas-jelas semuanya dibiayai oleh Barat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Pertanyaannya sederhana. Mengapa kalau ada Islam yang terpengaruh oleh Timur Tengah dicurigai sebagai akan mengancam NKRI, sementara proyek-proyek yang dibiayai Barat tidak dicurigai? Bukankah Timur Tengah tidak pernah menjajah negeri ini, sementara Barat penuh sejarah hitam kolonialisme dan penindasan? Sangat aneh negeri yang bersahabat sejak lama dicurigai, tapi negeri yang belum “ikhlas” melepas negara jajahannya merdeka justru dipercaya sepenuhnya. Jelas ini tidak masuk akal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sepanjang sejarah Indonesia merdeka yang banyak mengganggu kedaulatan NKRI justru Barat (baca: Amerika dan Eropa), paling tidak kedaulatan ekonomi. Sudah sejak lama aset-aset negeri ini dihisap oleh Amerika melalui Exxon, Freeport, Chevron, dll. Kekayaan alam negeri ini tidak ada yang luput dari incaran mereka. Tidak ada satupun cerita negara-negara di Timur Tengah yang dituduh sebagai sarang teroris melakukan apa yang dilakukan Amerika terhadap negeri ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Bagaimanapun negara-negara Barat takut kalau umat Islam bersatu. Kekuatan umat Islam sangat besar bila tidak terpecah-pecah. Oleh sebab itu, salah satu strategi Barat menghadapi umat Islam yang masih dipertahankan adalah &lt;em&gt;devide et impera &lt;/em&gt;(pecah belah dan adu domba). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Isu Islam transnasional, dalam konteks ini, sangat jelas adalah usaha baru Barat untuk memecah kekuatan umat Islam. Dahulu umat Islam Indonesia diadu domba dengan isu “tradisionalis-modernis” “NU-Muhammadiyah”. Kini, saat isu itu sudah mereda dan sebagian besar umat Islam sudah menyadari kekeliruannya, dimunculkanlah isu baru. Barat sengaja ingin mengadu antara NU-Muhmmadiyah yang sudah mulai &lt;em&gt;ishlâ&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;h&lt;/span&gt; &lt;/em&gt;dengan gerakan-gerakan Islam baru: PKS, HTI, Salafi, MMI, dan semisalnya. Kalau umat Islam sampai terprovokasi lagi dengan isu-isu murahan semacam ini, kesalahan lama akan terulang lagi. Jangan sekali-kali kita melupakan sejarah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Tiar Anwar Bachtiar, S.S., M.Hum.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Alamat&lt;span&gt; &lt;/span&gt;: Jl. Guntur no. 156 A Garut&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Hp.&lt;span&gt; &lt;/span&gt;: 0815-469-55-764&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;sumber : &lt;a href="http://www.persis.or.id/"&gt;http://www.persis.or.id&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-2466246820305126631?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/2466246820305126631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/10/ancaman-islam-transnasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/2466246820305126631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/2466246820305126631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/10/ancaman-islam-transnasional.html' title='Ancaman Islam Transnasional?'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-4884280797209287275</id><published>2009-09-22T17:01:00.002+07:00</published><updated>2009-09-22T17:01:58.119+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>PAN v PMB : Ujian Independensi Muhammadiyah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td valign="top"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="icon" width="24"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="cattitle"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="itemsubsub"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Orasi&lt;/b&gt; politik Din Syamsuddin pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Mentari Bangsa (PMB) di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat, 25 Juli lalu, mendapat tanggapan dari Partai Amanat Nasional (PAN). Dalam orasinya, ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005-2010 itu memberikan dukungan kepada PMB yang akan ikut meramaikan perhelatan politik paling akbar, Pemilu 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dimintai tanggapan, Wakil Sekjen DPP PAN Teguh Juwarno menjawab dengan tegas bahwa orasi Din Syamsuddin itu diharapkan tidak memengaruhi netralitas Muhammadiyah (&lt;i&gt;Jawa Pos&lt;/i&gt;, 27 Juli 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati politisi PMB tentu berbunga-bunga mendapatkan pasokan energi orang nomor satu Muhammadiyah itu. Sebagai parpol yang baru lahir, PMB membutuhkan pasokan energi supaya berumur panjang. Syukur kalau dalam setiap perhelatan politik, baik lokal maupun nasional, PMB diperhitungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasokan energi itu tentu saja hanya bisa diharapkan dari Muhammadiyah. Mengapa? Menoleh sedikit ke belakang, lahirnya PMB sepertinya mengikuti kecenderungan politik di tanah air yang tidak pernah sepi dari konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya konflik dipicu oleh kekecewaan sementara politisi. Misalnya, tidak mendapat bagian jatah kekuasaan. Kekecewaan lalu berujung pada penarikan dukungan terhadap parpol lama. Berikutnya, parpol baru didirikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiranto, misalnya, mendirikan Hanura setelah kecewa dengan Golkar. PMB mengikuti kecenderungan seperti itu. Konflik di internal PAN memang tidak setelanjang di parpol-parpol lain. Tetapi, munculnya PMB bisa dijadikan petunjuk bahwa PAN sempat menorehkan kekecewaan terhadap anak-anak muda Muhammadiyah yang kemudian membidani lahirnya PMB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tengara kaum muda Muhammadiyah, PAN tidak lagi bisa diharapkan sebagai (satu-satunya) tenda politik warga Muhammadiyah. Lengsernya Amien Rais dari PAN menjadi salah satu faktor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari sudut pandang mana pun, Amien Rais adalah ikon Muhammadiyah. Maka, ketika Amien Rais menduduki posisi penting di PAN, orang-orang Muhammadiyah dengan begitu mudah mengidentifikasikan dirinya dengan Amien &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; PAN. Tanpa diminta pun orang-orang Muhammadiyah akan mendukung Amien Rais. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain, nakhoda PAN pasca-Amien Rais, Soetrisno Bachir, bersemangat menampilkan wajah baru PAN. Salah satu jargon yang sering diusung, PAN merupakan parpol terbuka (inklusif). Mungkin karena jargon tersebut, belakangan PAN sangat akrab dengan para selebriti. Sementara inklusivitas belum terlihat secara nyata, sepertinya, PAN pelan-pelan mulai melupakan kontribusi orang-orang Muhammadiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya gejala itulah yang ditengarai anak-anak muda Muhammadiyah. Akhir cerita, PMB lahir. Seperti ingin menegaskan memori indah orang-orang Muhammadiyah, tampilan simbol PMB mirip dengan Muhammadiyah dan PAN, yakni matahari meski dengan balutan warna berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya PMB berbuah kekhawatiran bagi PAN. Kekuatan PMB tidak boleh dipandang sebelah mata oleh PAN. Ada pendapat menarik dari Muhammad Qadari, direktur Eksekutif Indo Barometer, munculnya PMB, apalagi belakangan mendapat dukungan eksplisit dari Din Syamsuddin, berpotensi kuat menggerus pundi-pundi suara PAN pada Pemilu 2009 (&lt;i&gt;Jawa Pos&lt;/i&gt;, 27 Juli 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Meresponsnya?&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada akhirnya PAN dan PMB bertarung memperebutkan dukungan dari Muhammadiyah, kini yang patut dipertanyakan, bagaimana warga persyarikatan memberikan respons secara arif? Apakah warga persyarikatan bisa menjaga independensi Muhammadiyah? Atau mereka hanyut dalam gelombang pragmatisme politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga persyarikatan seharusnya menjaga independensi karya dan warisan terbesar Ahmad Dahlan. Dalam waktu dekat, bersamaan dengan perhelatan muktamar di Jogjakarta pada 2010 nanti, Muhammadiyah memasuki usia satu abad. Artinya, Muhammadiyah melampaui usia Republik ini. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan PAN dan PMB yang baru berusia seumur jagung. Dalam sejarahnya yang panjang itu, Muhammadiyah sama sekali tidak pernah dibesarkan oleh parpol mana pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apakah Muhammadiyah tidak boleh ditarik dalam politik? Di mana pun tidak ada organisasi yang betul-betul steril dari politik. Muhammadiyah juga tidak bisa mengisolasi diri dari politik. Hanya masalahnya, jika Muhammadiyah ingin dijadikan variabel politik, modus politik seperti apa yang akan dipilih? Apakah "politik Muhammadiyah" atau "politisasi Muhammadiyah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang dipilih "politik Muhammadiyah", yang lebih dikedepankan adalah politik level tinggi atau &lt;i&gt;high politics&lt;/i&gt; seperti sering diungkapkan Amien Rais. Praksis politik dalam modus &lt;i&gt;high politics&lt;/i&gt; lebih mengedepankan kepentingan kebaikan publik, jauh di atas kepentingan diri dan golongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus politik ini bisa menjadi kenyataan jika tunduk pada kredo moral bahwa politik harus memperhatikan kepercayaan (&lt;i&gt;trust&lt;/i&gt; atau amanah) dan pertanggungjawaban &lt;i&gt;(accountability).&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika yang dipilih "politisasi Muhammadiyah", Muhammadiyah hanya jadi objek, alat, dan justifikasi agar politisi memperoleh kekuasaan di level tertentu. Politik yang diimajinasikan Muhammadiyah bukan sekadar agar seseorang yang membawa nama Muhammadiyah meraih kekuasaan, tetapi bagaimana kekuasaan itu didedikasikan bagi kebaikan publik secara universal. Bukan kebaikan bagi kelompok primordial, juga bukan hanya kebaikan bagi warga persyarikatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*DR Syamsul Arifin MSi&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;, kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Unmuh Malang; salah seorang wakil ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Muhammadiyah Jawa Timur. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Verdana,sans-serif; line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;Tulisan ini juga dapat dilihat di : &lt;a href="http://www.jawapos.co.id/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;http://www.jawapos.co.id/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Senin, 28 Juli 2008. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Verdana,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-4884280797209287275?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/4884280797209287275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/pan-v-pmb-ujian-independensi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4884280797209287275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4884280797209287275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/pan-v-pmb-ujian-independensi.html' title='PAN v PMB : Ujian Independensi Muhammadiyah'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-6676130235571234735</id><published>2009-09-21T15:00:00.001+07:00</published><updated>2009-09-21T15:00:30.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Partai Islam Sudah TAMMAT</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kepastian dukungan partai-partai Islam/basis Muslim seperti PKS, PPP, PKB, dan PAN kepada pasangan Capres&amp;nbsp; SBY-Boediono menjadi isyarat besar, pertanda matinya partai Islam di pentas politik Indonesia. &lt;strong&gt;Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kita patut berduka, memohon ampunan kepada Allah Ar Rahmaan, sekaligus meminta maaf kepada Ummat. Ya, inilah akhir dari perjuangan panjang partai politik Islam di pentas nasional. Tanggal 15 Mei kemarin adalah hari bersejarah bagi SBY, Demokrat, dan para pendukungnya; tetapi sekaligus hari MUSHIBAH AKBAR bagi perjuangan politik Islam di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada beberapa indikasi untuk menjelaskan MATINYA partai Islam tersebut, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt; Partai-partai Islam sangat tampak bahwa mereka tidak memiliki target apapun dalam perjuangan politik, selain: Mencari kekuasaan dan jabatan bagi elit-elit partainya. Semua partai Islam tidak memiliki idealisme sama sekali. Idealismenya hanyalah power, power, and power.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt; Partai-partai Islam acuh sama sekali dengan proses Pemilu April 2009 yang akhirnya memenangkan Partai Demokrat dengan perolehan suara 20, 8 %. Tidak ada satu pun partai Islam yang mau menggugat hasil kemenangan Demokrat yang diperoleh melewati proses Pemilu yang paling buruk sepanjang sejarah. Setidaknya, mereka bisa mengatakan satu kalimat saja, “Menang pemilu memang membanggakan, tetapi cara jujur dalam pemilu, itu lebih membanggakan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;[3]&lt;/strong&gt; Kini Partai Demokrat dikelilingi oleh partai-partai Islam, seperti PKS, PPP, PKB, dan PAN. Memang ada partai-partai nasionalis gurem lainnya, tetapi mereka tidak ada pengaruhnya. Lihatlah dengan hati nurani yang jujur, partai-partai lain seperti Golkar, PDIP, Gerindra, dan Hanura, mereka berani bersikap tegas kepada Demokrat. Mereka memiliki harga diri dan tidak haus kuasa. Lalu siapa yang haus kuasa? “Nah, tuh lihat sendiri! Itu para ustadz, kyai, ajengan, guru ngaji, aktivis masjid, habib, pak haji, bu hajjah, dan lainnya. Mereka semua itu yang haus kuasa,” begitu kesimpulan mereka. Sungguh ini adalah &lt;strong&gt;tragedi politik&lt;/strong&gt; yang memilukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;[4]&lt;/strong&gt; Kita tahu, PKS mewakili Muslim perkotaan, intelektual kampus. PKB mewakili Nahdhiyin, PAN mewakili Muhammadiyyah, PPP mewakili komunitas tradisionalis non NU. Mereka ini semua sekarang sedang merapat ke Demokrat, dengan pusat interestnya, SBY. Lalu apa yang nanti akan dilakukan Demokrat terhadap partai-partai itu? Apakah Demokrat akan mensolidkan mereka atau malah memecah-belahnya? Hanya Allah yang tahu. Namun akibat dari perpecahan partai-partai politik itu, nanti dampaknya akan memecah-belah kaum Muslimin di luar partai. Bukan mustahil, pengikut PKS, warga NU, Muhammadiyyah, dan lainnya akan saling bertikai untuk mendapatkan keridhaan paling mulia di sisi SBY-Boediono.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;[5]&lt;/strong&gt; Sifat tamak kuasa, pragmatisme, dan oportunis elit-elit partai Islam dengan sangat tepat digambarkan oleh Ahmad Mubarok dari DPP Partai Demokrat. Dia menyebut sikap penolakan partai-partai Islam terhadap pencalonan Boediono hanya sekedar “olah-raga politik” saja. Berikut pernyataan Mubarak, “Partai Islam butuh butuh genit sedikit untuk dekati PD. Nggak apa-apalah, itu olah raga politik, bagi atlet politik itu hal biasa saja.” (&lt;em&gt;detiknews.com&lt;/em&gt;, Rabu 13 Mei 2009, jam 09.25 WIB). Bahkan begitu yakinnya Mubarak, bahwa partai-partai Islam tidak akan menolak Boediono, dia menyebut kepastian pencalonan itu sudah 99 %, sisa 1 % untuk Tuhan. &lt;em&gt;Laa haula wa laa quwwata illa billah&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;strong&gt;[6]&lt;/strong&gt; Dengan semua sikap tamak kuasa dan miskin rasa malu itu, sudah pasti ia akan memecah belah barisan partai masing-masing. Nanti akan banyak eksodus politik dari partai-partai itu ke partai lain, sekalipun nasionalis. Bukan mustahil tontotan memuakkan yang mereka tunjukkan selama ini akan memperbesar angka golput dan kemarahan publik terhadap praktik politik. Khawatirnya, nanti kalau muncul partai Islam yang beneran, mereka akan mendapat gelombang cercaan akibat ulah orang-orang itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Dengan semua kenyataan di atas dan berbagai kenyataan lain yang tidak perlu dibahas lagi, maka bisa dipastikan bahwa nasib partai Islam di Indonesia sudah TAMMAT. &lt;em&gt;Wis bubar Pakde, Budhe&lt;/em&gt;. Tidak perlu berharap lebih banyak. Semua partai berorientasi jabatan. Padahal Nabi Saw. pernah berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, bahwa siapa yang mencari jabatan, memburunya, maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada jabatan itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Ada kekhawatiran di hati, kalau keberadaan partai-partai “Islam” atau basis massa Islam itu, memang sengaja dimunculkan untuk menghambat aspirasi politik pro Syariat Islam. Benarkah? Bisa jadi memang demikian. Kalau melihat jauhnya partai-partai dari ajaran Islam, bahkan dalam soal “harga diri” saja, jelas tidak mungkin kita berharap mereka akan memperjuangkan Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Kini saatnya, kaum Muslimin yang selama ini berada di luar Parlemen, untuk mulai menyusun kekuatan politik baru yang benar-benar membawa misi perjuangan dan pembangunan Islam. Bukan hanya cover-nya yang Islam, tetapi batinnya juga Islami. Semoga harapan itu benar-benar dimudahkan oleh Allah agar terwujud. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Bandung, 16 Mei 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-6676130235571234735?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/6676130235571234735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/partai-islam-sudah-tammat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6676130235571234735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6676130235571234735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/partai-islam-sudah-tammat.html' title='Partai Islam Sudah TAMMAT'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-5983401893233166428</id><published>2009-09-21T12:03:00.000+07:00</published><updated>2009-09-21T12:03:41.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Budaya "Kharisma Politik Kyai"</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Oleh ; Saripuddin &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="entry-content page-content"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.inilah.com/data/berita/thumbnail/109305.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="310" src="http://www.inilah.com/data/berita/thumbnail/109305.jpg" width="420" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sampai saat ini kyai masih mempunyai peranan penting dalam kehidupan berpolitik di Indonesia. Hal ini dapat dijumpai dibeberapa tempat yang kental dengan budaya jawa dan tradisi masyarakat pesantren. Bagaimana kyai mempunyai peranan penting dalam politik ? dalam tulisan ini akan membicarakan bagaimana budaya politik kyai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Dibeberapa tempat yang pernah saya singgahi, ada banyak kemiripan dibeberapa daerah. Walaupun kyai tidak memiliki peran langsung dalam politik namun pengaruhnya sangat kuat dalam kehidupan berpolitik, khususnya dikalangan masyarakat agamis (Islam). Kyai berperan secara tidak langsung, kita dapat melihatnya disaat kader-kader politik berusaha mendapatkan pengaruh dimasyarakat. Beragam bentuk pendekatan dilakukan politikus demi memperoleh dukungan seorang kyai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Dalam masyarakat pedesaan budaya sungkem seorang pemimpin (kepala desa atau lurah misalnya) kepada kyai masih banyak ditemukan. Budaya ini masih ditemui dibeberapa daerah di Indonesia. Pada saat-saat menjelang pemilihan kepala desa misalnya dukungan dari kyai sangat mempengaruhi pendapatan suara. Calon yang tidak memperoleh dukungan salah satu kyai yang ada, ia akan merasa kurang pantas. Terkadang hal ini menyebabkan terjadinya calon tunggal didalam sebuah pemilihan kepala desa, kadang calon yang tidak mendapat restu dari kyai memilih mundur sebelum diadakannya pemilihan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Sudah menjadi jargon, yang menyatakan masyarakat yang ikut apa kata kyai/ulama maka ia akan selamat. Budaya ini belum tergerus oleh perkembangan zaman walaupun pergeseran-pergeseran nilai terus terjadi setiap masa. Kharisma kyai merupakan senjata paling mujarab untuk mendapatkan pengaruh dimasyarakat, dan masyarakatpun secara sadar menerima.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Ketaatan terhadap Tuhan, cita-cita umah, komunitas politik keagamaan rupanya dijadikan insvestasi untuk mendapatkan atribut-atribut transendental dan keselamatan (salvation).&lt;sup&gt;&lt;a href="http://null/#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Dalam pemilihan kepala desa atau lurah dibeberapa tempat lingkungan pesantren, mereka akan mempertanyakan “dia santrinya pak yai bukan?”. Dan biasanya calon yang berasal dari santri seorang kyai terkemuka akan banyak dipilih oleh masyarakat. Hal ini disebabkjan kepercayaan terhadap kyai masih sangat tinggi, bukan saja kharisma seorang pemimpin secara personal namun sudah mengarahkan kepada penilaian latar belakang, hubungan mereka dengan tokoh kharismatik (kyai).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Politik yang membawa nama besar seorang kyai sudah menjadi budaya yang begitu kental. Meski sudah ada batasan bahwa kyai hanya bertugas mengurus umat dan tidak mau terlibat kedalam politik praksis. Keberadaan kharismanya masih dimanfaatkan untuk kepentingan politik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Setelah menjadi pemimipin, budaya sungkem terhadap kyai tidak pernah ditingalkan, hal ini rupanya untuk melatenkan kekuasaan. Agar dukungan dari kyai tidak lepas, berapa upayapun dilakukan. Bahkan lawan politik tidak jarang yang mempengaruhi kyai untuk mengalihkan dukungannya. Untuk melangengkan kekuasaan maka seorang pemimimpin berusaha meminta nasihat yang akan dijalankan didalam kebijakan politiknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Kebijakan-kebijakan kepala desa misalkan, ia akan mengutamakan bebepa program yang berkaitan dengan keagamaan. Semakin banyak dukungan terhadap kepentingan kyai maka semakin strategis mendapatkan simpati masyarakat. Hal ini pernah terjadi dan saya saksikan, Singkat cerita pada pemilihan wakil daerah pemilu tahun lalu seorang anggota fraksi dari partai PKB memberikan sedekah buat pembangunan masjid didesa kami. Sepontan kharisma dimasyarakat sangat kuat sehingga mendominasi perolehan suaradi TPS kami. Selain itu Ada beberapa kesan yang tidak bisa dilupakan begitu saja, persepsi-persepsi yang menilai kader tersebut dermawan dan dekat dengan tokoh kharismatik memungkinkan menjadi alasan kemenangan yang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Sedekah menjelang pemilu juga telah menjadi budaya politik, walau terkesan sebagai &lt;em&gt;money politic&lt;/em&gt; hal ini tidak dapat dikatakan sebagai suatu pelanggaran dalam hukum adat. Semakin banyak sumbangan yang diberikan untuk kepentingan agama semisal dalam pembangunan masjid dan pesantren maka hubungannya dengan kyai semakin erat. Kyai tidak pernah berkampanye secara langsung untuk mengkampanyekan salah satu kader, namun kedekatan kader politik dimata kyai menjadi isu yang dituturkan dari mulut kemulut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Bukan budaya suap yang dimaksud dalam budaya politik ini, namun hubungan yang erat yang terjalin begtu lama sehingga jasa-jasa kader politik berupa sedekah, sumbangannya dalam mendukung kegiatan agama selalu diperhitungkan di masyarakat. Selain itu sifatnya berbentuk personal dari kekayaan pribadi, sasaran sedekah tidak dberikan kepada kyai secara personal namun bersifat kelembagaan. Meski begitu, budaya masyarakat pesantren sangat sensitif terhadap bentuk penyimpangan. Apabila terdapat penyimpangan, konsekuensinya kader plotik akan kehilangan kepercayaan, apalagi jika seorang kyai sudah mencapnya, memvonis ketidak layakan seorang kader.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Peran santri dalam menyebarkan berita disekitar pesantren kepada masyarakat memiliki peran penting. Banyak politikus menyekolahkan anaknya di pesantren demi mendapatkan simpati dan pengaruh diligkungan pesantern bersangkutan. Jauh hari sebelum terjun kedunia politik, orang mempunyai pandangan strategis dari kebijakan lokal. Menempatkan anak kedalam pesantren bertujuan untuk memperluas pengaruh. Fenomena seperti itu banyak dipraktikan dan ternyata sudah lama menjadi budaya yang tersembunyi yang masih kurang mendapat kritikan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Budaya perkawinan berbau politis demi mendapatkan secercah (cipratan) kharisma dari kyai juga sudah tidak asing. Hubungan keluarga dengan kyai diburu untuk memperoleh kepopuleran dalam dunia politik. Budaya “bebesanan” kalau dalam istilah jawa. Fenomena ini sudah menjamur sejak lama, bisa dilihat dalam sejarah para kyai yang memiliki kharisma dimasyrakat, mereka mengawinkan putra putrinya dengan orang-orang yang memiliki pengaruh yang cukup besar. Perkawianan antar anak kyai, bertujuan menjaga garis keturunan mereka untuk tetap berketurunan ulama. Merupakan salah satu bentuk budaya pernikahan yang dibarengi unsur politis, demi melanggengkan status quo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Kembali pada budaya politik kyai, pada dasarnya budaya politik Islam menempatkan seorang ulama (kyai) dalam posisi strategis, dalam menentukan aturan. Penguasa berperan sebagai penegak aturan untuk mempersatukan ummah. Karakteristik politik ini memang sudah merupakan bawaan semenjak awal mula kemunculan Islam. Hukum Islam yang merupakan hukum syariah adalah hukum suci yang digencarkan ulama atau pemimpin keagamaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Identitas komunitas keagamaan dimantapkan (terutama menurut hukum suci-syariah) yang dilancarkan oleh pemimpin keagamaan, yakni kaum ulama dan diselenggarakan oleh para penguasa. Didalam kelompok ini berkembang suatu hubungan yang sangat unik didalam kalangan ulama merupakan golongan yang pasif secara politik atau patuh kepada para penguasa kendati dalam menjalankan fungsi legal agamanya para ulama ini masih tetap merupakan golongan yang otonom. (lihat J. Schacht “ Law and Justice” dalam Holt dkk.,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;em&gt;Cambridge History of Islam&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.75in;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.75in;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Jadi identitas kebudayaan Islam dalam prakteknya ditegakan oleh kerangka hukum dan dibawa oleh para ulama, dan dilindungi oleh para penguasa yang bercita-cita ingin mempersatukan kembali kaum ummah. Dalam kerangka ini dalam sejarah Islam kita melihat suatu peralihan yang tetap antara kenaikan pergerakan politik keagamaan yang mengarah pada transformasi rezim politik yang menyeluruh melalui cara-cara haram seperti pembunuhan dan pemberontakan, dan dengan pendirian dunia spiritual yang kuat dengan kepasifan hukum, yang membantu tegaknya karakter despotis suatu rezim. &lt;/span&gt;(Eisenstadt &lt;em&gt;Revolusi dan Transformasi Masyarakat&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.75in;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;dari kutipan diatas saya hanya ingin menggambarkanm, bahwasannya budaya politik Islam secara universal bisa dibayangkan begitu adanya. Lalu bagaimana pengaruhnya terhdap budaya politik di Indonesia? Bagi masyarakat jawa terutama yang yang akrab dalam dunia pesantren dimana kyainya masih sangat berpengaruh, hal seperti diatas masih dapat diarasakan. Artinya tidak secara mutlak kyai berpengaruh dalam pembuatan aturan-aturan, namun ada kebijakan tertentu yang merupaka legitimasi dari kebijakan kyai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Kyai selalu diminta pendapatnya dalam pengambilan keputusan penguasa. Semisal dalam pemerintahan desa peraturan atau etika lokal sangat ketat menurut ajaran Islam. Contohnya peraturan pelarangan pendirian tempat hiburan yang dapat merusak akidah uamat, contohnya hiburan malam seperti bar, diskotik, tempat perjudian, minuman keras, tempat pelacuran dan lain-lain. Bahkan ada beberapa kearifan lokal yang masih dipertahankan yang sumbernya berasal dari kyai. Ditempat tertentu penguasa bukanlah satu-satunya orang yang mutlak yang dapat mengesahkan sesuatu. Contohnya pada saat seorang warga berniat mengadakan pesta dengan hiburan pentas dangdut atau layar tancap (sejenis hiburan bioskop). Maka kyailah yang mempertimbangkan acara tersebut diizinkan atau tidak, posisi penguasa atau lurah biasanya hanya formalitas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Apa yang dilakukan penguasa dalam upaya mempertahankan status quonya memiliki teori yang sangat relefan dengan fenomena diatas. Usaha untuk melatenkan kekuasaan terdapat dalam salah satu teori yang dikemukakan Talcott Parsons. Talcott Parsons menyebutkan perluya pemeliharaan pola atau &lt;em&gt;latency,&lt;/em&gt; yang artinya sistem harus mampu melengkapi, memelihara, dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola cultural yang menciptakan dan mendorong motivasi.&lt;sup&gt;&lt;a href="http://null/#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Hal tersebut telah banyak dilakukan para kyai dalam mempertahankan stastus quo, dan tak heran teori tersebut sejalan dengan apa yang dijalankan didalam budaya kyai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Dari beberapa fenomena politik yang dibahas dalam tulisan ini memang penulis sengaja mencoba memaparkan secara fenomenalogis garis-garis terdepan yang dapat ditemukannya ruh sosiologi politik. Masih banyak lagi budaya politik dalam masyrakat pesantren diantaranya adalah budaya dakwah, poligami, dan pengajian. Mengapa ketiga hal itu saya definisikan kedalam budaya politik. Tentu ada alasan, dimana ditempat tertentu ketiga hal tersebut menjadi alat bagi kyai untuk memperluas pengaruh. Salah satunya budaya poligami dikalangan kyai, kemugkinan ada unsur politik mempoligami beberapa anak kyai lain agar terjalin kekeluargaan dimana-mana, dan otomatis pengaruhnya semakin luas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Kadang pengajian dan dakwah dijadikan senjata politis kyai untuk mempengaruhi masyartakat. Kasus yang pernah terjadi ketika seorang kyai mempengaruhi masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap rezim otoriter Soeharto dari adanya kasus Tanjung Priuk. Dakwahnya memiliki sepirit hinnga membakar masyarakat untuk melengserkan Soeharto atas pelanggaran HAM yang terjadi di Tanjung Priuk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1.13in; text-indent: -0.38in;"&gt;Eisenstadt S.N&lt;em&gt;.&lt;/em&gt; 1986&lt;em&gt; Revolusi dan Transformasi Masyarakat&lt;/em&gt; Jakarta : CV. Rajawali&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1.13in; text-indent: -0.38in;"&gt;Ritzer, George. 2004 &lt;em&gt;Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda&lt;/em&gt; Jakarta : Rajawali Pers&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="sdfootnote1"&gt; &lt;a href="http://null/#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym"&gt;1&lt;/a&gt; S.N. Eisenstadt Revolusi dan Transformasi Masyarakat (Jakarta : CV. Rajawali, 1986), hlm. 70&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="sdfootnote2"&gt; &lt;a href="http://null/#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym"&gt;2&lt;/a&gt; George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda” (Jakarta : Rajawali Pers, 2004)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-5983401893233166428?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/5983401893233166428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/budaya-kharisma-politik-kyai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5983401893233166428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5983401893233166428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/budaya-kharisma-politik-kyai.html' title='Budaya &quot;Kharisma Politik Kyai&quot;'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-8757147924651789090</id><published>2009-09-21T11:57:00.000+07:00</published><updated>2009-09-21T11:57:57.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Memahami Pemikiran Max Weber</title><content type='html'>&lt;span style="color: black;"&gt;Oleh: Saripuddin *&lt;/span&gt; &lt;div style="margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.5in;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://levine.sscnet.ucla.edu/images/max_weber.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://levine.sscnet.ucla.edu/images/max_weber.jpg" width="141" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diawali oleh esai etika protestan dan semangat kapitalisme, Weber menyebutkan agama adalah salah satu alasan utama perbedaan antara budaya barat dan timur. Ia mengaitkan efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat. Tujuannya untuk menemukan alasan mengapa budaya barat dan timur berkembang dengan jalur yang berbeda. Weber kemudian menjelaskan temuanya terhadap dampak pemikiran agama puritan (protestan) memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sistem ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, namun tentu saja ini ditopang dengan faktor lain diantaranya adalah rasionalitas terhadap upaya ilmiah, menggabungkan pengamatan dengan matematika, ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi, sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Studi agama menurut Weber semata hanyalah meneliti satu emansipasi dari pengaruh magi, yaitu pembebasan dari pesona. Hal ini menjadi sebuah kesimpulan yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang sangat penting dari budaya yang ada di barat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Max Weber&lt;/span&gt; dengan baik mengaitkan antara Etika Protestan dan Semangat Kapitalis (&lt;em&gt;Die Protestan Ethik Under Giest Des Kapitalis&lt;/em&gt;). Tesisnya tentang etika protestan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kapitalis. Ini sangat kontras dengan anggapan bahwa agama tidak dapat menggerakkan semangat kapitalisme. Studi Weber tentang bagaimana kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat puritan dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern telah melahirkan corak dan ragam nilai, dimana nilai itu menjadi tolak ukur bagi perilaku individu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Karya Weber tentang &lt;em&gt;The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism &lt;/em&gt;menunjukkan dengan baik keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. Etika protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seorang yang bernama Calvin, saat itu muncul ajaran yang menyatakan seorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya di dunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya kalau di dunia ini selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia – juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis. Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh kehidupan dunia – akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan “jaminan” masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi “jaminan” pula bagi individu itu masuk neraka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span&gt;Upaya untuk merebut kehidupan yang indah di dunia dengan “mengumpulkan” harta benda yang banyak (kekayaan) material, tidak hanya menjamin kebahagiaan dunia, tetapi juga sebagai media dalam mengatasi kecemasan. Etika Protestan dimaknai oleh Weber dengan kerja yang luwes, bersemangat, sungguh-sungguh, dan rela melepas imbalan materialnya. Dalam perkembangannya etika Protestan menjadi faktor utama bagi munculnya kapitalisme di Eropa dan ajaran Calvinisme ini menebar ke Amerika Serikat dan berpengaruh sangat kuat disana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan daripada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif seperti yang dikehendaki oleh Kar Marx. Islam pun sebenarnya berbicara tentang kaitan antara makna-makna doktrin dengan orientasi hidup yang bersifat rasional. Dalam salah satu ayat disebutkan bahwa setelah menyelesaikan ibadah shalat, diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi ini dalam rangka mencari karunia Allah SWT. Namun dalam Islam ada mekanisme penyeimbangan yang digunakan untuk membatasi kepemilikan pribadi dengan kewajiban membayar zakat, infaq dan shadaqah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Menurut &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Max Weber&lt;/span&gt; bahwa suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik memiliki ciri-ciri khusus kapitalisme yang dapat mendominasi yang lainnya merupakan kenyataan yang real ketika masa-masa awal revolusi industri, ketika Weber hidup, kenyataan-kenyataan itu mejadi sesuatu yang benar-benar nyata dipraktekkan oleh manusia. Hidup harus dimulai di suatu tempat dan bukan dari individu yang terisolasi semata melainkan sebagai suatu cara hidup lazim bagi keseluruhan kelompok manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" dir="rtl" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt;Kita perlu mengkritik mengenai teorinya Weber tentang etika protestan dan semangat kapitalis ini. Dalam penelusuran sejarah, ternyata setelah Weber mempublikasikan tulisannya mengenai etika protestan justru keadaan ekonomi masyarakat protestan semakin menurun dan disisi lain mayoritas katolik justru sedang bangkit. Ini adalah bola api yang bisa berbalik membakar teorinya Weber sendiri, karna etika protestan dan semangat kapitalis yang menjadi teorinya tidak dapat dijadikan ramalan masa depan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Selain membicarakan tentang kaitan antara Protestan dan Kapitalisme, Weber juga membicarakan tentang agama Tiongkok yakni Konfusionisme dan Taoisme, perhatian Weber pada agama ini tampaknya menunjukkan besarnya perhatian Weber atas kenyataan-kenyataan sosial dalam kehidupan manusia. Dalam tulisan-tulisannya yang lain, Weber juga sempat membicarakan masalah-masalah Islam. Hadirnya tulisan tentang Konfusionisme dan Taoisme dalam karya Weber ini dapat dipandang sebagai perbandingan antara makna agama di Barat dan di Timur. Ia banyak menganalisa tentang masyarakat agama, tentu saja dengan analisa yang rasional dan handal serta sama sekali tidak ada maksud untuk mendiskriminasikan agama tertentu. Agama Tiongkok; Konfusianisme dan Taonisme merupakan karya terbesar kedua dari Weber dalam sosiologi tentang agama. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Weber memusatkan perhatiannya pada unsur-unsur dari masyarakat Tiongkok yang mempunyai perbedaan jauh dengan budaya yang ada di bagian barat bumi (Eropa) yang dikontraskan dengan Puritanisme. Weber berusaha mencari jawaban “mengapa kapitalisme tidak berkembang di Tiongkok?” dalam rangka memperoleh jawaban atas pertanyaan sederhana diatas, Webar melakukan studi pustaka atas eksistensi masyarakat tiongkok. Bagaiman eksistensi itu dipahami Weber dalam rangka menuntaskan apa yang menjadi kegelisahan empiriknya, maka yang dilakukana adalah memahami sejarah kehidupannya,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span&gt;Dalam berbagai dokumen yang diteliti oleh Weber, bahwa masyarakat Tiongkok memiliki akar yang kuat dengan kehidupan nenek-moyang mereka sejak tahun 200 SM, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Tiongkok pada saat itu merupakan tempat tinggal para pemimpin kekaisaran yang membentuk benteng-benteng di kota-kota Tiongkok, disitu juga merupakan pusat perdagangan, namun sayangnya mereka tidak mendapatkan otonomi politik, ditambah warganya yang tidak mempunyai hak-hak khusus, hal ini disebabkan oleh kekuatan jalinan-jalinan kekerabatan yang muncul akibat keyakinan keagamaan terhadap roh-roh leluhur. Hal lainnya adalah gilda-gilda yang bersaing merebutkan perkenan kaisar. Sebagai imbasnya warga kota-kota Tiongkok tidak pernah menjadi suatu kelas setatus terpisah. Namun jika kita cermati dinegara beragamakan Taoisme dan Konfucuisme kini mampu berkembang dan banyak kapitalis dimana-mana mungkin hal itu sudah tidak relevan lagi dengan fakta sosial saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pada bagian awal buku ini weber menuliskan tentang politik dan kekuasaan, ada berbagai hal yang menarik untuk diulas bagi banyak teoritik sosial. Tentang Negara Weber mendifinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, definisi ini menjadi sangat berharga karna sumbangsihnya dalam studi tentang ilmu politik barat modern. Pada bagian satu buku ini diterangkan tentang adanya tiga justifikasi batiniah yang menjadi legitimasi dasar bagi dominasi. Legitimasi dasar bagi dominasi ini yang pertama ialah otoritas atas masa lalu abadi atau sering disebut sebagai dominasi tradisional, karma disini ada otoritas atas adat istiadat yang dikeramatkan. Otoritas seperti ini dipakai patriach dan penguasa patrimonial dimasa lalu, salah satunya adalah adat yang mengangkat seorang pemimpin atas dasar darah keturunan atau dari suku tertentu. Yang kedua merupakan otoritas kharismatik diantaranya; ketaatan personal absolut dan keyakinan personal pada wahyu, heroisme, atau bisa juga kualitas lain yang istimewa dari kepemimpinan individual. Sebagai contohnya seperti yang diperaktikan seorang Nabi, pangliama perang terpilih, atau pemimpin-pemimpin politik yang memang mempunyai sebuah kharisma. Yang ketiga merupakan dominasi karma legalitas, dominasi ini didasari oleh sebuah hukum yang memang sudah terbentuk. Legalitas ini timbul karena keyakinan pada keabsahan statula legal dan komnpetensi fungsional yang beralas pranata yang dibuat secara rasional. Contohnya pemimpin yang dipilih secara demokratis melalui pemilu yang berdasarkan undang-undang yang berlaku seperti halnya Negara kita dan Negara-negara lain yang demokratis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;Ada yang perlu dikritik dalam karya Weber mengenai perkembangan rasionalisasi hukum, menurutnya perkembangan hukum diawali pewahyuan &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;ala&lt;/span&gt; kharismatik, tahapan ini merupakan penciptaan hukum dari ketiadaan hukum sama sekali. Tahapan ini ditandai dengan mode bersifat kharimatik. Tahapan yang kedua menurut Weber adalah penciptaan hukum secara empiris, pengadaan hukum empiris ini tercipta melalui proses teknis yang merupakann kreatifitas manusia itu sendiri, tahapan kedua ini ditandai dengan metodenya yang bersifat empirical. Selanjutnya adalah tahapan imposition atau pembebanan hukum oleh kekuatan-kekuatan sekuler, dan yang terakhir merupakan tahapan profesional, artinya hukum yang dibuat oleh orang-orang yang benar-benar mempunyai kemampuan didalamnya karna mereka mendapatkan pendidikian formal dengan metode ilmiah dan logis formal. Kesimpulanya Weber melihat masyarakat selalu akan berkembang dari kharismatik tradisional menuju tahapan-tahapan yang sudah ditentukan diatas. Tapi jika kita melihat berbagai perkembangan hukum, proses itu tak berjalan linier menaiki tangga secara berurutan, justru perubahannya bisa saja terjadi secara gradual atau acak. Hal ini bisa ditemukan pada kondisi masyarakat yang mengalami revolusi. Ditengah-tengah dunia modern kita masih menemukan fakta banyaknya masyarakat tradisional yang begitu kesulitan dalam menyesuaikan hukum yang mengikatnya oleh hukum formal yang diciptakan negara, ini mengakibatkan kementalan antara kualitas hukum dan kualitas masyarakat, alasannya adanya masyarakat yang tak bisa mencerna hukum sehingga terjadi pemboikotan secara tidak langsung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;Ada kasus yang lebih menarik dikaitkan dengan perkembangan hukum manusia saat ini, contoh beberapa negara yang menggunakan syariat Islam, tentu saja bisa merupakan penolakan mentah-mentah atas teorinya Weber. Apa yang disebut sebagai hukum tuhan yang berpedoman pada wahyu dari teks-teks suatu kitab suci masih berlaku sepanjang zaman yang dijadikan hukum manusia saat ini. Tentu tidak serta merta dapat dikatakan ketinggalan, karna berada pada tahap satu dari perkembangan manusia yang diungkapkan Weber sebelunya, justru kharismatik tradisional mapu melampaui hukum manusia profesiaonal sekalipun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Buku ini bisa di ibaratkan pohon yang memiliki beberapa tandan buah, beberapa tandan dari buku yang berkafer biru ini diantaranya mengulas tentang agama, kekuasaan, ilmu pengetahuan dan politik. Pada bagian yang kedua dalam buku ini merupakan esai tentang kekuasaan, didalamnya ada banyak sekali pembahasan diantaranya mengenai struktur kekuasaan, mengenai kelas social, status dan partai, juga birokrasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Weber selain dari salah satu pendiri ilmu sosiologi juga merupakan pendiri administrasi Negara modern, dalam karyanya weber banyak menulis tentang ekonomi dan pemerintahan. Kaitannya dengan birokrasi weber mengutarakan banyak hal termasuk didalamnya tentang karakteristik sebuah birokrasi. Ada beberapa karakteristik sebuah birokrasi yang merupakan kepiawaian modern yang berfungsi secara spesifik diantaranya : adanya prinsip area yurisdiksional yang sudah ditetapkan dan resmi, adanya prinsip-prinsip hirarki jabatan dan tingkat-tingkat kewenangan, manajemen yang yang didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis juga adanya menejemen yang benar-benar terspesialisai. Pada bagian yang tak kalah pentingnya, Weber mengulas bagaimana pemangkuan jabatan itu merupakan sebuah panggilan. Hingga pada sebuah kesimpulan Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik rasionalisasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Cukup banyak yang bisa ditemukan dari ide-ide cemerlang &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Max Weber&lt;/span&gt; mengenai birokrasi, sehingga saya pikir ini adalah PR bagi pembaca untuk dapat menghatamkan tulisan dalam buku yang penuh makna ini. Bagian ini memang merupakan acuan mengapa Weber dikatakan sebagai salah satu pendiri adanya administrasi modern. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Buku ini merupakan jendela melihat masa lalu untuk memahami kerangka teoritik Weber. Ia tak kalahnya dengan hantu tua &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Karl Marx&lt;/span&gt; bahkan ia menjadi salah seorang yang membalikan perspektif teoritik Marx. Diantaranya ketika Weber mengatakan pada suatu kesimpulan bahwa faktor material bukanlah satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi gagasan, namun sebaliknya gagasan itu sendiri mempengaruhi struktur material. Weber juga mencoba melengkapi kekurangan dari marx terbukti didalam karyanya mengenai stratifikasi dimana stratifikasi sosial diperluas hingga mencakup stratifikasi berdasarkan prestis, status atau kekuasaan. Pada dasarnya karya Weber lebih menekankan tentang proses rasionalisasi yang selalu mendasari semua teoritiknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Isi buku yang diterbitkan oleh pustaka pelajar ini mempunayai bobot nutrisi kaya teori, namun tingkat kesulitan dalam memahami bagaimana inti permasalahannya menjadi kendala utama dalam menguasai teori dalam buku ini. Masalah seperti ini memang sering kita temui ketika membaca karya-kaya terjemahan asing. Banyak para tokoh yang menjelaskan teori weber ini dalam bahasa yang sangat sderhana sehingga mudah untuk dipahami, Weber merupakan penulis yang paling buruk dibandingkan dengan tokoh sosiologi lain dalam menjelaskan ide gagasannya, makanya banyak kalangan begitu kesulitan menangkap pemikiran Weber sehingga lebih memilih buku yang sudah dianalisa oleh tokoh lain sesudah Weber. Namun dibalik itu semua Weber mempunyai ide yang cemerlang, ia mempunyai pemikiran yang hebat yang bisa ditemukan dalam buku ini. Kerumitan dalam memahami buku sosiologi &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Max Weber&lt;/span&gt; ini dapat diatasi dengan kesungguhan mempelajarinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Buku ini seperti sebuah sumur yang dalam, dengan air sebagai gambaran dari teorinya yang tak pernah kering sepanjang masa. Gagasan &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Max Weber&lt;/span&gt; seakan tak pernah surut menghadapi musim silih berganti, ditengah-tengah bayak teoritis baru bermunculan justru ia dapat berjasa dalam perkembangan sosiologi sepanjang zaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Menurut hemat penulis, buku ini sangat penting dibaca oleh Dosen, Mahasiswa, pemerhati masalah-masalah agama, politik, birokrasi dan siapa saja yang memiliki perhatian pada dunia ilmu. Buku ini tidak hanya menjadi “wajib’ dibaca oleh ilmuan-ilmuan sosial, melainkan mereka yang &lt;em&gt;concern &lt;/em&gt;pada masalah-masalah agama dan politik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Saripuddin adalah Mahasiswa Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunanan Kalijaga, &lt;span class="yshortcuts" style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204);"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr size="1" /&gt;We won’t tell. Get more on &lt;a href="http://us.rd.yahoo.com/evt=49980/*http://tv.yahoo.com/collections/265" rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;shows you hate to love&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-8757147924651789090?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/8757147924651789090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/memahami-pemikiran-max-weber.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/8757147924651789090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/8757147924651789090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/memahami-pemikiran-max-weber.html' title='Memahami Pemikiran Max Weber'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-3571237586233511844</id><published>2009-09-21T09:21:00.000+07:00</published><updated>2009-09-21T09:21:46.658+07:00</updated><title type='text'>It's My Family</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Srbh6HsM2yI/AAAAAAAAAOM/qfVR4O27EuE/s1600-h/20092009488.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Srbh6HsM2yI/AAAAAAAAAOM/qfVR4O27EuE/s400/20092009488.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Srbhl6rP_bI/AAAAAAAAAN8/n8ZZKwhzMWs/s1600-h/20092009484.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Srbhl6rP_bI/AAAAAAAAAN8/n8ZZKwhzMWs/s320/20092009484.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SrbhuqvNOFI/AAAAAAAAAOE/NI3mdxKgVDo/s1600-h/20092009486.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SrbhuqvNOFI/AAAAAAAAAOE/NI3mdxKgVDo/s400/20092009486.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SrbhaB8AOvI/AAAAAAAAAN0/RU-BVgs7zP4/s1600-h/20092009487.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SrbhaB8AOvI/AAAAAAAAAN0/RU-BVgs7zP4/s400/20092009487.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-3571237586233511844?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/3571237586233511844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/its-my-family.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/3571237586233511844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/3571237586233511844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/its-my-family.html' title='It&apos;s My Family'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Srbh6HsM2yI/AAAAAAAAAOM/qfVR4O27EuE/s72-c/20092009488.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-4246638561362235937</id><published>2009-09-19T19:12:00.000+07:00</published><updated>2009-09-19T19:24:13.820+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Isi Khutbah Idul Fitri Syeikh Abu Bakr Ba'asyir</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: arial;" class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;Irfan S. Awwas&lt;/p&gt; &lt;p&gt;إِنَّ الْحَمْدَ للهِ, نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأُمَّتِهِ الْمُطِيْعِيْنَ الْمَجَاهِدِيْنَ.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَقُوْلُوا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيْمًا. أَمَّا بَعْدُهُ : أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengawali khutbah ini, terlebih dahulu marilah kita memupuji kebesaran Ilahy yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari ini kita dapat melaksanakan perintah agama, shalat Idul Fithri di tempat ini. Kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah menciptakan segala sesuatu, dan menurunkan syari’at sebagai petunjuk jalan bagi makhluk ciptaan-Nya dalam mengarugi kehidupan dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-788"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, para shahabat, tabi’it-tabi’in serta seluruh kaum Muslimin yang setia mengikuti beliau dengan baik hingga hari kiamat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian, sebagai khatib pada kesempatan khutbah hari raya ini, perkenankan kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Marilah peningkatan taqwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar menjadi manusia ideal menurut Islam. Yakni, menjadi manusia mulia dan dimuliakan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya (yang artinya):&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (Qs. Al-Hujurat, 49:13)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di zaman kita sekarang sedikit orang yang menjadikan taqwa sebagai agenda hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari’at Allah. Kebanyakan umat Islam adalah ‘Muslim Otodidak’ yang mengamalkan Islam menurut pemahaman dan penghayatan pribadinya, sehingga adakalanya benar dan lebih sering keliru dalam memahami dan mengamalkan perintah taqwallah (takut pada Allah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekalipun kalimat taqwa menjadi bagian dari sumpah jabatan para pejabat Negara, tapi faktanya, pemerintah belum pernah memberi contoh yang benar tentang praktik taqwa pada Allah Swt. Yang kita saksikan justru sebaliknya, berbagai penolakan dan pelanggaran terhadap ajaran Islam yang dilakukan masyarakat dan pejabat Negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika ada orang Islam mengimplementasikan pola hidp taqwa dengan mengamalkan syari’at Islam dan menuntut pelaksanaannya melalui lembaga Negara, malah dicurigai sebagai fundamentalis. Belum adanya standar hidup taqwa dalam agenda pemerintahan Negara, menyebabkan penilaian masyarakat menjadi kacau. Orang shalih dianggap salah, mengenakan pakaian taqwa (jibab) bagi Muslimah dipersulit bekerja di perusahaan atau masuk lembaga pendidikan karena dianggap budaya Arab, sementara para koruptor dimanjakan, sebaliknya lembaga pemberantas korupsi dicurigai dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada hari ini kita tengah menapaki hari perdana di bulan Syawal 1430 H dengan menunaikan shalat ‘Idul Fithri sebagai penutup kesempurnaan zikir, mengingat dan menyebut asma Allah Swt. Marilah kita bersungguh-sungguh di dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dan menjauhi kesalahan dan dosa agar kita beruntung dengan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang banyak sesudah mati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini bulan suci Ramadhan telah berlalu, dan ia akan menjadi saksi yang menguntungkan atau memberatkan atas amalan-amalan yang telah kita kerjakan. Jika selama bulan Ramadhan yang kita lakukan adalah amal-amal yang shalih, hendaklah kita memuji Allah atas hal itu dan hendaklah bergembira dengan pahala yang baik. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang berbuat kebajikan. Sebaliknya, siapa yang melakukan amal yang buruk, hendaklah ia segera bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha, karena sesungguhnya Allah menerima taubat orang yang bertaubat kepada-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya kaum Muslimin sangat merindukan kembalinya kejayaan Islam, agar dapat menciptakan dunia yang penuh kedamaian, kesejahteraan, kasih sayang, keadilan dan persatuan bagi segenap umat manusia. Harapan ini merupakan missi Islam yang diproklamirkan oleh Rasulullah Saw sejak beliau memulai dakwahnya di Makkah yang dikenal dengan misi Rahmatan lil Alamin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebenarnya banyak sekali umat Islam dewasa ini yang siap menerima apapun yang sesuai dengan ajaran Islam, tetapi semua ini cepat berubah manakala muncul konflik antara Islam dan kekafiran. Kelemahan ini bahkan terdapat di kalangan orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela-pembela Islam. Mereka meneriakkan puji-pujian terhadap Islam, melakukan aktivitas keislaman, membentuk jamaah zikir dengan puluhan ribu pengikutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, jika diseru supaya melaksanakan syari’at Islam dalam urusan pribadi, keluarga, Negara, relasi-relasi bisnis, lembaga pendidikan, dan di segala aspek kehidupan, mereka akan menjawab: “Negara kita bukan Negara Islam, lebih baik kita abaikan dulu untuk sementara waktu menunggu momentum yang tepat agar kita tidak dicurigai.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kapankah kondisi yang aman damai itu akan tiba, sehingga kebenaran dapat disampaikan dengan terus terang? Hingga hari kiamat sekalipun kondisi demikian tidak akan pernah datang, karena orang-orang kafir akan terus membuat makar untuk mendiskreditkan dakwah Islam. Ingatlah nasihat Khalifah Umar bin Khathab bahwa, “Kebenaranlah yang membuat kamu menjadi kuat, dan bukan kekuatan kamu yang membuat jayanya kebenaran.” Sedangkan Khalifah Utsman berpesan, “Kejayaan umat ini akan terpelihara selama Al Qur’an berdampingan dengan kekuatan. Bilamana kekuatan tanpa Qur’an akan menjadi anarkhis dan bilamana Qur’an tanpa kekuatan tidak bermakna bagi kehidupan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesan yang kini sangat dominan di kalangan kaum Muslimin, bahwa menegakkan kehidupan berbasis Islam seakan ancaman terhadap keselamatan dirinya. Ada juga di kalangan umat Islam yang salah faham terhadap ajaran Allah Rabbul Alamin. Bila Allah Swt memerintahkan suatu perbuatan tertentu, mereka menganggap akan merugikan dan menyusahkan hidupnya, sedang bila dilarang mengerjakan tindakan tertentu, justru melanggar larangan dianggap menguntungkan dirinya. Hal ini tercermin pada keengganan umat Islam untuk berterus terang dengan agamanya dan menerima stigmatisasi musuh-musuh Islam, seolah-olah Islam adalah agama yang telah kehilangan relevansi untuk terus dipertahankan di era globalisasi ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan stigmatisasi seperti ini menjadi berat bagi tokoh-tokoh Islam, terutama para politisinya, untuk mengibarkan bendera syari’at Islam secara jujur dan terus terang. Kondisi demikian menciptakan hubungan yang tegang, saling mencurigai diantara komunitas Muslim sehingga muncul pengelompokan Islam moderat dan radikal, toleran versus ektrem, inklusif versus eksklusif, dan nasional versus transnasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemetaan seperti ini sengaja dibuat oleh musuh-musuh Islam, sehingga kekuatan Islam dipecah-pecah sesuai program mereka. Sehingga menjadi beban berat bagi umat Islam yang memiliki komitmen tinggi terhadap agamanya. Dampak negatifnya, muncullah perasaan tertindas, tertekan di kalangan Muslim; merasa teraniaya dan hidupnya menjadi sengsara. Mentalitas yang merasa sengsara karena Islam, merasa tertindih beban berat bila mengamalkan Al-Qur’an dikoreksi dan mendapat teguran keras dari Allah Swt:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orangyang takut kepada Allah.” (Qs. Thaha, 20:2-3).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Qur’anul Karim diturunkan bukan untuk menjadikan manusia hidup dalam tatanan yang membawa kesengsaraan, kemiskinan, penderitaan dan saling menindas. Tetapi untuk memberikan tatanan hidup yang dapat membangun kasih sayang, berbuat kebajikan, perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati martabat manusia satu dengan lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibarat kafilah di tengah padang sahara yang sedang kehabisan bekal perjalanan. Tidak cukup untuk meneruskan perjalanan dan tidak pula cukup digunakan buat kembali ke tempat asal. Di saat kebingungan dan rasa panik, datanglah seorang pengembara menawarkan pertolongan, mengajak mereka ke suatu taman nan hijau di tengahnya membentang kolam air yang jernih dan menyegarkan. Di antara anggota kafilah itu ada yang belum puas dan ingin di ajak ke tempat yang lebih nyaman, tapi sebagian lain menyatakan, “kami puas dengan keadaan ini dan kami ingin tinggal menetap disini.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitulah perumpamaan kehadiran Nabi Muhammad Saw dengan Al-Qur’an, pemberi petunjuk bagi kafilah manusia yang kebingungan di tengah sahara tandus, kehilangan kompas kehidupan, terlunta di tengah kegelapan akibat maksiat dan kemungkaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengawasi Juru Dakwah&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada masa akhir-akhir ini, kondisi yang mencekam dan menakutkan menimpa kaum Muslimin, terutama ketika Islam dikait-kaitkan dengan terorisme. Munculnya gagasan aparat keamanan untuk mengawasi juru dakwah dengan dalih pemberantasan terorisme, mengundang kekhawatiran mendalam. Apalagi, dengan mudahnya mengidentifikasikan seseorang sebagai jaringan teroris, melalui atribut pakaian berjubah, bercadar bagi Muslimah, memanjangkan jenggot dan celana komprang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya juru dakwah merupakan urat nadi kehidupan sosial, bukan pengacau dan bukan pula penyebar teror. Adakalanya seorang juru dakwah tampil sebagai tabib di tengah-tengah masyarakat, atau menjadi pengamat sosial yang berinisiatif mengubah masyarakat yang bobrok, jorok atau bodoh menjadi masyarakat yang terhormat. Bahkan seorang juru dakwah bisa menjadi pendamping yang produktif bagi si kaya, dan sekaligus menjadi pendamping yang kreatif bagi si miskin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun kini, umat Islam di berbagai belahan dunia justru mengalami terror dari musuh-musuh Islam, bahkan diteror di dalam hatinya sendiri. Ketika terdapat tokoh dan orang-orang tertentu yang tidak bersahabat dengan Islam, dan merusak citra Islam dengan mengatakan, bahwa salah satu ayat Qur’an dalam surat Al Maidah ayat 44, 45, 47, tentang penguasa kafir, faseq dan zalim, merupakan pemicu terorisme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah teror terhadap umat Islam yang dilakukan oleh orang yang mengaku beragama Islam. Padahal sepanjang sejarahnya, Islam tidak ada kaitannya dengan terorisme. Memang Islam memerintahkan jihad fisabilillah, dan jihad jelas bukan terorisme. Maka, dalam kaitan ini kita perlu menyampaikan himbauan Islam kepada para penguasa agar tidak membiarkan aparat keamanan untuk mencari-cari kesalahan rakyat apalagi mengintimidasi mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Saw bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : إِنَّ الأَمِيْرَ إِذَا ابْتَغَىْ الرِّيْبَةَ فِي النَّاسِ أَفْسَدَهُمْ [رواه أبوداود]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dari Abu Umamah, Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya apabila penguasa mencari-cari hal yang mencurigakan dari rakyatnya, maka dia akan menghancurkan rakyatnya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila rakyat terus menerus dimata-matai intelijen, dengan dalih pemberantasan terorisme, rakyat jadi kehilangan inisiatif untuk berprestasi. Dari fakta sejarah kita ketahui bahwa akar terorisme sebenarnya adalah kezaliman dan ketidakadilan penguasa. Inilah yang dengan kasat mata kita saksikan, bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya di Negara-negara Muslim seperti Iraq, Afghanistan, Pakistan, dan negeri-negeri lain termasuk Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenyataan ini mengingatkan kita ke zaman Fir’aun, 2500 tahun SM, yang sezaman dengan Nabi Musa As. Ketika itu terjadi kezaliman dan berbagai bentuk ketidak adilan yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap bani Israel. Rakyat diintimidasi dan diprovokasi seperti termatub dalam firman Allah Swt :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan ingatlah ketika Kami selamatkan kamu dan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu sikasaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabmu.” (Qs. Al Baqarah, 2:49).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rezim fir’aun menyembelih anak-anak, menelantarkan kaum wanita dan mematai-matai gerak gerik setiap orang dari bani Israel karena distigmatisasai sebagai ancaman terhadap Negara. Akibat dari sikap paranoid Fir’aun dan rezimnya, maka kaum ibu bani Israel takut melahirkan bayi laki-laki, sebab hal ini berarti menjadi alasan penguasa untuk membunuh bayinya dan sekaligus memenjarakan ibunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika hendak mmemberantas terorisme, maka hentikan kezaliman dan hentikan kerjasama dengan penguasa jahat, baik di barat maupun di timur. Pemerintah hendaknya menjauhkan diri dari kezaliman dalam kebijakannya, terutama sekali berkaitan dengan pengelolaan alam untuk tidak diserahkan pada orang asing. Pemerintah jangan memosisikan diri sebagai elite penguasa yang memandang Indonesia sebagai pasar kapitalis global, sehingga rakyat tetap terpuruk dalam perjuangan mencapai kesejahteraan. Harus ada keberanian menghadapi tekanan asing yang menginginkan kekuatan Islam di Indonesia menjadi lumpuh seperti yang dilakukan kaum salibis di Spanyol lima abad yang lalu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Saw menasihati para penguasa agar berbuat adil dan menjauhi kezaliman, dalam sabdanya:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [رواه مسلم]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Saw bersabda: “Jauhilah kedzaliman, karena sesungguhnya kedzaliman membuahkan kegelapan pada hari kiamat.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kezaliman akan semakin merajalela bila rakyat tidak berani mencegahnya. Maka bila ada ulama yang berani mencegah kezaliman penguasa, rakyat harus bersyukur dan membelanya karena dia telah berusaha mencegah malapetaka dan murka Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar walillhil Hamdu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaum Muslimin bangsa Indonesia supaya menyadari posisi dirinya sebagai pemilik sah negeri ini. Karena hanya umat Islam satu-satunya yang paling konsistensi mempertahankan NKRI. Sedang umat lain, justru menuntut keluar dari Indonesia seperti yang dilakukan oleh pengikut Kristen di Papua dan kelompok RMS di Maluku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para tokoh Islam baik di organisasi politik maupun massa tidak menjadi bagian dari agenda musuh Islkam untuk mengerdilkan peran umat Islam di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh JIL, Islam oderat yang mengajak umat Islam untuk menukar aqidahnya dengan pluralisme atau tata dunia baru yang berbaris pada doktrin zionisme dan HAM. Karena sikap-sikap ambivalen hanya akan melahirkan orang Islam yang sekadar puas menjalankan ibadah, tetapi mengabaikan ajaran Islam sebagai jalan kehidupan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama jangan pernah memosisikan diri sebagai terompet jahat musuh Islam, dengana menolak berlakunya syariat Islam di lembaga Negara. Merekalah yang seharusnya memimpin rakyat agar berani meluruskan apa yang bengkok dari penguasa, berani berkata benar secara terus terang. Rasulullah Saw bersabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;عَنْ مُعَاوِيَةَ بْن أَبِيْ سُفْيَان ، عَنِ النَّبِيِّ قال : يَكُوْنُ أُمَرَاءَ يَقُوْلُوْنَ وَلاَ يُرَدُّ عَلَيْهِمْ ، يَتَهَافَتُوْنَ فِي النَّارِ يَتْبَعُ بَعْضُهُمْ بَعْضاً [رواه الطبراني]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dari Mu’awiyah bin Abu sufyan, dari Nabi Saw bersabda: “Akan muncul para penguasa yang berkata sesuka mereka dan tidak ada yang membantahnya. Mereka akan berjatuhan masuk neraka beriringan satu demi satu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;DO’A&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ma’asyiral Muslim Rahimakumullah…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil Hamdu &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengakhiri khutbah ini, merilah kita berdo’a, dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran. Semoga Allah memperkenankan do’a hamba-Nya yang ikhlas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بِهِ بَيْنَتَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَاتُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَآئِبَ الدُّنْياَ اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَابِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَاأَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظََلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَتَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا وَلاَتَجْعَلِ الدُّنْياَ أَكْبَرَ هَمِّنَا وَمَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَتُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا. اَللَّهُمَّ الْعَنِ الْكَفَرَةَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ اَوْلِيَآءَكَ. اَللَّهُمَّ اَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَاَبْصَارِنَا وَقُلُوْبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya Allah, ya Rab kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang dapat kiranya menghalang antara kami dan ma’siat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke sorga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya meringankan beban musibah dunia kami. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya Allah, ya Rab kami, senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan –penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, tidak juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami (HR. Tirmidzi dan ia berkata hadist ini hasan.)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya Allah, laknatilah orang-orang kafir ahli kitab dan orang-orang musyrik yang menghalang-haalangi jalan-Mu, mendustakan Rasul-rasul-Mu, dan membunuh kekasih-kekasih-Mu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan serta entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Dan jauhkanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami, dan ampunilah kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Shalawat atas Nabi Muhammad SAW dan ahli keluarga serta sahabat-sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-4246638561362235937?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/4246638561362235937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/isi-khutbah-idul-fitri-syeikh-abu-bakr.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4246638561362235937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4246638561362235937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/isi-khutbah-idul-fitri-syeikh-abu-bakr.html' title='Isi Khutbah Idul Fitri Syeikh Abu Bakr Ba&apos;asyir'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-9138109581549921197</id><published>2009-09-16T18:43:00.001+07:00</published><updated>2009-09-16T18:43:50.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Pengantar Ekonomi Politik</title><content type='html'>Produksi Barang-Barang Kebutuhan Adalah&lt;br /&gt;Basis Dari Kehidupan SosialKita&lt;br /&gt;harus memulainya dari&lt;br /&gt;pemahaman yang sangat mendasar. Bahwa untuk&lt;br /&gt;mempertahankan dan melanjutkan hidupnya, manusia harus dapat mencukupi&lt;br /&gt;kebutuhan utamanya yaitu: makanan, pakaian dan tempat tinggal. Oleh karena itu&lt;br /&gt;manusia harus memproduksi semua kebutuhan-kebutuhannya II.&lt;br /&gt;Hubungan Produksi, Tenaga Produktif dan Cara Produksi&lt;br /&gt;Dalam&lt;br /&gt;suatu aktivitas proses produksi guna memenuhi kebutuhannya manusia berhubungan&lt;br /&gt;dengan manusia lain. Karena Proses produksi selalu merupakan hasil saling&lt;br /&gt;hubungan antar manusia, maka sifat dari produksi juga selalu bersifat sosial.&lt;br /&gt;Saling hubungan antar manusia dalam suatu proses produksi ini disebut sebagai hubungan&lt;br /&gt;sosial produksi. Dari kegiatan produksi ini kemudian muncul kegiatan&lt;br /&gt;berikutnya yaitu distribusi dan pertukaran barang. Hubungan sosial produksi&lt;br /&gt;dalam sebauh masyarakat bisa bersifat kerja sama atau bersifat penghisapan.&lt;br /&gt;Hal ini tergantung siapakah yang memiliki atau menguasai seluruh alat-alat&lt;br /&gt;produksi (alat-alat kerja dan obyek kerja). III.&lt;br /&gt;Kelas-Kelas Dalam Masyarakat&lt;br /&gt;Berdasarkan&lt;br /&gt;Posisi dan hubungannya dengan alat-alat produksi inilah masyarakat kemudian&lt;br /&gt;terbagi kedalam kelompok-kelompok yang disebut kelas-kelas. Misalnya&lt;br /&gt;Dalam suatu masyarakat berkelas selalu terdapat dua kelas utama yang berbeda&lt;br /&gt;yang saling bertentangan berdasarkan posisi dan hubungan mereka dengan&lt;br /&gt;alat-alat produksi. Tetapi, tidak semua cara produksi masyarakat terdapat&lt;br /&gt;pembagian kelas-kelas.KAPITALISME&lt;br /&gt;Kapitalisme,&lt;br /&gt;adalah sebuah nama yang diberikan terhadap sistem sosial dimana alat-alat&lt;br /&gt;produksi, tanah, pabrik-pabrik dan lain-lain dikuasai oleh segelintir orang&lt;br /&gt;yaitu kelas kapitalis (pemilik modal). Jadi kelas ini hidup dari&lt;br /&gt;kepemilikannya atas alat-alat produksi. Sementara kelas lain (buruh) yang&lt;br /&gt;tidak menguasai alat produksi, hidup dengan bekerja (menjual tenaga kerjanya)&lt;br /&gt;kepada kelas kapitalis untuk mendapatkan upah.I. NILAI &lt;br /&gt;LEBIH&lt;br /&gt;Kelas&lt;br /&gt;buruh yang tidak memiliki alat produksi harus menjual tenaga kerjanya untuk&lt;br /&gt;mendapatkan upah untuk membeli sejumlah barang untuk kebutuhan hidupnya. Tetapi&lt;br /&gt;apakah upah itu? Bagaimana&lt;br /&gt;upah itu ditentukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-9138109581549921197?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/9138109581549921197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/pengantar-ekonomi-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/9138109581549921197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/9138109581549921197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/pengantar-ekonomi-politik.html' title='Pengantar Ekonomi Politik'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-5137594097995326878</id><published>2009-09-16T18:34:00.000+07:00</published><updated>2009-09-16T18:39:44.043+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Neoliberalisme Atau Demokrasi</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Ditulis dalam dua bagian, buku ini adalah kritik bagi neo-liberalisme di mana macewan, pada bagian kedua, mengusulkan alternatif &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;  google_ad_client = "pub-4335781802185356"; google_alternate_ad_url ="http://www.shvoong.com/ads/?w=300&amp;amp;h=250&amp;amp;lang=ID&amp;amp;ch=6235413917+5120072815+1999655801"; google_adsafe = 'high';  google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; google_ad_format = "300x250_as"; google_ad_type = "text_image"; google_language="ID"; google_adsafe = 'high'; google_ad_channel = "6235413917+5120072815+1999655801"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "4242e8"; google_color_text = "000000"; google_color_url = "4242e8"; &lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt; google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad); &lt;/script&gt;  &lt;iframe allowtransparency="true" hspace="0" id="google_ads_frame2" marginheight="0" marginwidth="0" name="google_ads_frame" src="http://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-4335781802185356&amp;amp;format=300x250_as&amp;amp;output=html&amp;amp;h=250&amp;amp;w=300&amp;amp;lmt=1016209674&amp;amp;channel=6235413917%2B5120072815%2B1999655801&amp;amp;ad_type=text_image&amp;amp;alternate_ad_url=http%3A%2F%2Fwww.shvoong.com%2Fads%2F%3Fw%3D300%26amp%3Bh%3D250%26amp%3Blang%3DID%26amp%3Bch%3D6235413917%2B5120072815%2B1999655801&amp;amp;color_bg=FFFFFF&amp;amp;color_border=FFFFFF&amp;amp;color_link=4242e8&amp;amp;color_text=000000&amp;amp;color_url=4242e8&amp;amp;flash=0&amp;amp;hl=ID&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fid.shvoong.com%2Flaw-and-politics%2Fpolitics%2F1928961-neoliberalisme-atau-demokrasi%2F&amp;amp;ref=http%3A%2F%2Fid.shvoong.com%2Flaw-and-politics%2F&amp;amp;dt=1016209681453&amp;amp;prev_fmts=728x90_as&amp;amp;correlator=1016209677406&amp;amp;frm=0&amp;amp;ga_vid=1310037091.1016204569&amp;amp;ga_sid=1016208554&amp;amp;ga_hid=1726632274&amp;amp;ga_fc=1&amp;amp;u_tz=420&amp;amp;u_his=22&amp;amp;u_java=1&amp;amp;u_h=768&amp;amp;u_w=1024&amp;amp;u_ah=738&amp;amp;u_aw=1024&amp;amp;u_cd=32&amp;amp;u_nplug=4&amp;amp;u_nmime=12&amp;amp;biw=1007&amp;amp;bih=591&amp;amp;fu=0&amp;amp;ifi=2&amp;amp;dtd=15&amp;amp;xpc=YpEGbzCz61&amp;amp;p=http%3A//id.shvoong.com" style="left: 0pt; position: absolute; top: 0pt;" vspace="0" frameborder="0" height="250" scrolling="no" width="300"&gt; &lt;/iframe&gt;  realistis sistem ekonomi dengan sebuah " strategy pembangunan ekonomi demokrasi ". pada bagian i macewan berpendapat bahwa sistem kapitalis dijalankan oleh para elite yang kuat, untuk kepentingan elit yang kuat dan bukan keajaiban untuk kepentingan semua pihak. buku ini membahas secara rinci prinsip-prinsip utama neo-liberalisme: perdagangan bebas, peraturan minimal, investasi langsung di luar negeri, dan pendapatan yang tidak seimbang, menjelaskan pembenaran bagi posisi ekonomi neo-liberal. dia berpendapat bahwa dalam teori dan praktek gagasan-gagasan seperti itu membuat, baik demokrasi maupun ekonomi tidak masuk akal misalnya, bukti sejarah menunjukkan bahwa proteksionisme digunakan oleh amerika serikat, inggris, jepang dan eropa barat. pasar hanya dibuka secara bertahap untuk menjadi "bebas" pada saat industri dalam negeri mereka kuat. baru-baru ini, korea selatan telah melakukan hal yang sama, dengan keberhasilan ekonominya. washington melalui konsensusnya masih menekan negara-negara miskin dengan industri pemula sebelum mereka dapat bertahan hidup untuk membuka pasarnya.&lt;br /&gt;macewan juga membawa semua bukti yang menunjukkan bahwa pembenaran neo-liberal atas ketidaksetaraan pendapatan adalah tidak benar sebagai sebuah rasa sakit jangka pendek ianya bukanlah satu-satunya jalan, dan bahkan bukan cara yang pasti, untuk membawa pertumbuhan ekonomi jangka panjang. sebenarnya kesetaraan pendapatan dapat membawa pertumbuhan ekonomi, misalnya sebagai kesetaraan berarti lebih banyak prasarana pendidikan, yang berarti lebih memiliki kemampuan teknologi dan tenaga kerja produktif, yang mendorong pertumbuhan.&lt;br /&gt;mitos tentang pasar tersebut benar-benar menghilangkan prasangka secara luas dan kritik yang mendalam terhadap doktrin neo-liberal, memperlihatkan berbagai kekurangan baik dalam teori dan praktek.&lt;br /&gt;macewan juga membahas pasar apa yang sebenarnya, bagaimana dibuat dan bagaimana mereka beroperasi. dia berpendapat bahwa pasar tidak muncul dengan sendirinya, tetapi dibangun, dan terus-menerus direkonstruksi oleh pemerintah, perusahaan, gerakan-gerakan sosial dan individu. dengan demikian mustahil untuk ”membiarkan segala sesuatunya kepada pasar”, seolah-olah itu adalah wasit yang netral, yang berarti meninggalkan segala sesuatunya kepada sejarah. oleh karena itu pertanyaan tentang pasar tidak harus diatur mereka, tapi bagaimana mengatur mereka.&lt;br /&gt;bagian kedua dari buku ini menjabarkan kebijakan, memperdebatkan strategi pengembangan ekonomi demokratis yang memungkinkan rakyat untuk melakukan kontrol terhadap urusan ekonomi mereka, melibatkan rakyat dalam memecahkan permasalhan ekonomi mereka dan menyiapkan materi yang dibutuhkan oleh mayoritas terbesar.&lt;br /&gt;macewan menggambarkan bagaimana kebijakan dapat diimplementasikan dalam kerangka sosio-ekonomi terbaru, menyatakan bahwa kebijakan seperti ini jauh lebih bagus baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. ia juga mengatakan bahwa pembangunan ekonomi demokrasi adalah "suatu proses perubahan yang demokratis alami dan membawa masyarakat kepada kemajuan demokrasi," menjelaskan bahwa partisipasi politik merupakan kunci bagi proses strategi tersebut. tujuan-tujuan lain dari strategi ini meliputi tidak hanya meningkatnya produktivitas ekonomi tetapi juga tersedianya kebutuhan dasar dan pendapatan yang relatif setara, ketahanan lingkungan hidup dan pelestarian (penciptaan) masyarakat.&lt;br /&gt;macewan menggambarkan bagaimana strategi semacam ini memungkin melalui kebijakan makroekonomi termasuk perluasan pajak yang non-regresif, realokasi pengeluaran pemerintah dan pengurangan korupsi serta pemborosan, kontrol modal internasional. hal ini juga akan melibatkan perluasan program-program sosial, yang dapat melibatkan partisipasi masyarakat luas dalam perencanaan pembangunan dan pengoperasian.&lt;br /&gt;penekanan pada perluasan program-program sosial, terutama pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;perusahaan akan didorong melalui pemberian insentif untuk memperluas pelatihan dan pengembangan keahlian angkatan kerja, sementara nilai produksi lokal akan diakui dalam hal efeknya pada lingkungan, pekerjaan dan kohesi masyarakat, menggunakan kombinasi pajak, subsidi dan peraturan yang diperlukan .&lt;br /&gt;neo-liberalisme dan demokrasi dirangkum secara utuh dalam buku ini yang selanjutnya kritikan-kritikan tersebut juga diikuti oleh usulan realistis untuk suatu sistem yang lebih baik. walaupun ditulis satu dekade yang lalu, buku ini masih merupakan bacaan yang tepat sebagai jawaban terhadap sistem perekonomian yang saat krisis diilustrasikan bahwa neo-liberalisme sama sekali tidak berhasil seperti yang diharapkan. hari ini kita melihat ke lebih kepada peraturan pasar dan keuangan internasional, sesuatu yang ditekankan oleh macewan dalam buku ini. mungkin kita harus serius melihat proposal dalam bagian kedua dari bukunya sebagai upaya kita untuk membuat yang jauh lebih egaliter dan sistem ekonomi yang berkelanjutan, serta mudah-mudahan kita bahkan mampu membangun sesuatu yang tidak hanya memfokuskan pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga sosial, politik, lingkungan dan infrastruktur fisik untuk dunia yang lebih baik. pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan masyarakat dan pembangunan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-5137594097995326878?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/5137594097995326878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/neoliberalisme-atau-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5137594097995326878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/5137594097995326878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/neoliberalisme-atau-demokrasi.html' title='Neoliberalisme Atau Demokrasi'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-869740246809893198</id><published>2009-09-16T18:30:00.000+07:00</published><updated>2009-09-16T18:32:15.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Huqūq Allah Dan Huqūq Al-''Ibād: Sebuah Hukum Alam Heuristis Untuk Hak Asasi Manusia</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Artikel ini menunjukkan bahwa awal Muslim jurists sering membuat peraturan yang tidak memiliki dasar dalam Alquran atau sunnah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;  google_ad_client = "pub-4335781802185356"; google_alternate_ad_url ="http://www.shvoong.com/ads/?w=300&amp;amp;h=250&amp;amp;lang=ID&amp;amp;ch=6235413917+5120072815+1999655801"; google_adsafe = 'high';  google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; google_ad_format = "300x250_as"; google_ad_type = "text_image"; google_language="ID"; google_adsafe = 'high'; google_ad_channel = "6235413917+5120072815+1999655801"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "4242e8"; google_color_text = "000000"; google_color_url = "4242e8"; &lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt; google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad); &lt;/script&gt;  &lt;iframe allowtransparency="true" hspace="0" id="google_ads_frame2" marginheight="0" marginwidth="0" name="google_ads_frame" src="http://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-4335781802185356&amp;amp;format=300x250_as&amp;amp;output=html&amp;amp;h=250&amp;amp;w=300&amp;amp;lmt=1016209202&amp;amp;channel=6235413917%2B5120072815%2B1999655801&amp;amp;ad_type=text_image&amp;amp;alternate_ad_url=http%3A%2F%2Fwww.shvoong.com%2Fads%2F%3Fw%3D300%26amp%3Bh%3D250%26amp%3Blang%3DID%26amp%3Bch%3D6235413917%2B5120072815%2B1999655801&amp;amp;color_bg=FFFFFF&amp;amp;color_border=FFFFFF&amp;amp;color_link=4242e8&amp;amp;color_text=000000&amp;amp;color_url=4242e8&amp;amp;flash=0&amp;amp;hl=ID&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fid.shvoong.com%2Flaw-and-politics%2Fpolitics%2Fcomparative-politics%2F1879895-huq%25C5%25ABq-allah-dan-huq%25C5%25ABq-al%2F&amp;amp;ref=http%3A%2F%2Fid.shvoong.com%2Flaw-and-politics%2Fpolitics%2Fcomparative-politics%2F&amp;amp;dt=1016209205328&amp;amp;prev_fmts=728x90_as&amp;amp;correlator=1016209203796&amp;amp;frm=0&amp;amp;ga_vid=1310037091.1016204569&amp;amp;ga_sid=1016208554&amp;amp;ga_hid=1378154818&amp;amp;ga_fc=1&amp;amp;u_tz=420&amp;amp;u_his=14&amp;amp;u_java=1&amp;amp;u_h=768&amp;amp;u_w=1024&amp;amp;u_ah=738&amp;amp;u_aw=1024&amp;amp;u_cd=32&amp;amp;u_nplug=4&amp;amp;u_nmime=12&amp;amp;biw=1007&amp;amp;bih=591&amp;amp;fu=0&amp;amp;ifi=2&amp;amp;dtd=15&amp;amp;xpc=VOhATTbPQy&amp;amp;p=http%3A//id.shvoong.com" style="left: 0pt; position: absolute; top: 0pt;" vspace="0" frameborder="0" height="250" scrolling="no" width="300"&gt; &lt;/iframe&gt;  Successors mereka diadopsi ini dilihat sebagai preseden berwibawa dan adil pada mereka. Mereka memberikan alasan alasan latar belakang tercermin nilai-nilai tentang inheren kualitas perorangan dan masyarakat harus menjunjung tinggi barang dalam rangka memberikan substantif konten mereka hukum determinations. Kembali ke nilai-nilai ini, baik implisit atau eksplisit, menggambarkan bagaimana Muslim jurists naturalis reasoning tergabung dalam analisis yuridis. Untuk membuktikan mereka naturalisme implisit, artikel ini berfokus pada bagaimana Sunni Muslim jurists terutama dari 2nd/8th-10th/16th abad menggunakan heuristis konseptual dari "hak Allah" dan "hak-hak individu" (huqūq Allah, huqūq Al-i '' ibād) sebagai mekanisme untuk interpretif bingkai naturalis asumsi mereka dan menerapkannya dalam analisa hukum untuk membuat dan mendistribusikan hak, kewajiban, dan komitmen masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-869740246809893198?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/869740246809893198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/huquq-allah-dan-huquq-al-ibad-sebuah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/869740246809893198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/869740246809893198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/huquq-allah-dan-huquq-al-ibad-sebuah.html' title='Huqūq Allah Dan Huqūq Al-&apos;&apos;Ibād: Sebuah Hukum Alam Heuristis Untuk Hak Asasi Manusia'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-2552213189950763641</id><published>2009-09-16T18:27:00.000+07:00</published><updated>2009-09-16T18:30:02.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritikan'/><title type='text'>Soempah PEMOEDA...SUMPAH POCONG...SUMPAH JABATAN...GUE SUMPAHIN LO</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebelum membaca ringkasan ini, silakan lihat berikut tentang " SAAT KORUPTOR TERMAKAN &lt;a href="http://id.shvoong.com/tags/sumpah/"&gt;SUMPAH&lt;/a&gt;" di harian Pikiran Rakyat Bandung &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;  google_ad_client = "pub-4335781802185356"; google_alternate_ad_url ="http://www.shvoong.com/ads/?w=300&amp;amp;h=250&amp;amp;lang=ID&amp;amp;ch=6235413917+6113587601+1999655801"; google_adsafe = 'high';  google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; google_ad_format = "300x250_as"; google_ad_type = "text_image"; google_language="ID"; google_adsafe = 'high'; google_ad_channel = "6235413917+6113587601+1999655801"; google_color_border = "FFFFFF"; google_color_bg = "FFFFFF"; google_color_link = "4242e8"; google_color_text = "000000"; google_color_url = "4242e8"; &lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt; google_protectAndRun("ads_core.google_render_ad", google_handleError, google_render_ad); &lt;/script&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;( http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=26008 )&lt;br /&gt;Tulisan ini dibuat bukan ingin latah atau ingin menyambut Hari &lt;a href="http://id.shvoong.com/tags/sumpah/"&gt;Sumpah&lt;/a&gt; Pemuda tetapi hanya sebatas memaknai apa yang dimaksud dengan SUMPAH itu sendiri.&lt;br /&gt;Tanggal 28 Oktober 1928, kita mengenalnya sebagai suatu peristiwa sejarah yang pernah terjadi di negeri ini yaitu berkumpulnya sebagian besar Pemuda Pemudi dari seluruh penjuru tanah air. Mereka melakukan ikrar untuk menyatakan satu dalam perbedaan, dan dikenallah dengan SOEMPAH PEMOEDA yang isinya adalah :&lt;br /&gt;* PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;* KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;br /&gt;* KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Soempah Pemoeda itulah yang menjadi pijakan untuk melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda saat itu dan menyatakan untuk memerdekan diri dari belenggu penjajahan sehingga tercapailah tujuan yang diinginkan yaitu PROLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 1945.&lt;br /&gt;Kemerdekaan negeri ini membuat seluruh eksponen masyarakat mulai bergerak dan menyusun rencana yang jelas bagi kesejahteraan, kemakmuran dan kehormatan bangsa Indonesia di mata dunia, maka dibuatlah konsep pembanguanan yang pas untuk mencapai tujuan tersebut di atas.&lt;br /&gt;Dengan segala pernak-pernik perjalanan sejarah bangsa ini baik senang maupun susah tetap saja ada ekses yang sepertinya menjadi momok yaitu menyikapi suatu &lt;a href="http://id.shvoong.com/tags/jabatan/"&gt;jabatan&lt;/a&gt; ataupun kekuasaan. Rupanya Soempah Pemoeda belum cukup untuk menghilangkan faktor psikologis, filosofis dan budaya mengenai penyikapan atas jabatan/kekekuasaan sehingga timbullah di masyarakat kalangan bawah untuk meyakinkan/mempercayai Sumpah Pocong sebagai bagian dalam mengambil keputusan agar mempunyai kekuatan hukum yang tetap.&lt;br /&gt;Sumpah pocong adalah sumpah yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan terbalut kain kafan seperti layaknya orang yang telah meninggal (pocong). Sumpah ini tak jarang dipraktekkan dengan tata cara yang berbeda, misalnya pelaku sumpah tidak dipocongi tapi hanya dikerudungi kain kafan dengan posisi duduk.&lt;br /&gt;Sumpah pocong biasanya dilakukan oleh pemeluk agama Islam dan dilengkapi dengan saksi dan dilakukan di rumah ibadah (mesjid). Di dalam hukum Islam sebenarnya tidak ada sumpah dengan mengenakan kain kafan seperti ini. Sumpah ini merupakan tradisi lokal yang masih kental menerapkan norma-norma adat. Sumpah ini dilakukan untuk membuktikan suatu tuduhan atau kasus yang sedikit atau bahkan tidak memiliki bukti sama sekali. Konsekuensinya, apabila keterangan atau janjinya tidak benar, yang bersumpah diyakini mendapat hukuman atau laknat dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_pocong&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya memang menyeramkan/horor dan sebagian orang cenderung memandangnya sebagai klenik walaupun masih banyak masyarakat kita melakukan sumpah pocong.&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah apakah Soempah Pemoeda dan Sumpah Pocong bisa menjamin bahwa orang-orang/kelompok yang mempunyai jabatan/kekuasaan di negeri akan menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat?&lt;br /&gt;Ternyata dibutuhkan lagi satu sumpah bagi para pejabat publik yaitu Sumpah Jabatan yang dilakukan dalam setiap pelantikan dengan disaksikan oleh orang banyak dan diletakkan kitab suci baik Al Qur'an, Injil, Weda, dan lain-lain di atas kepala pejabat publik dengan harapan pejabat publik ini dengan ikhlas dan jujur menjalankan amanah yang telah dibacakan sendiri olehnya.&lt;br /&gt;SOEMPAH PEMOEDA sudah, SUMPAH POCONG sudah, SUMPAH JABATAN sudah tetapi kenapa masih ada korupsi, kolusi dan nepotisme. Orde terus berganti mulai dari orde lama, orde baru orde reformasi sampai sekarang tetapi masalah kepercayaan/keyakinan masyarakat terhadap masa depan bangsa dan negara ini seperti kehilangan harapan dan makin terpuruk walaupun kita masih ada yang optimis. Dimana itu sumpah-sumpah yang telah diucapkan dan diikrarkan apalagi membawa-bawa nama Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Apakah perlu disumpahin tuh para pejabat pubik ataupun yang memegang kekuasaan agar perubahan cepat terjadi?????&lt;br /&gt;GUE SUMPAHIN :&lt;br /&gt;PEJABATNYA SADAR DAN TOBAT UNTUK TIDAK MELAKUKAN KKN&lt;br /&gt;PEMEGANG KEKUASAAN SADAR UNTUK MENDAHULUKAN KEPENTINGAN RAKYAT DARIPADA KEPENTINGAN DIRI/GOLONGAN&lt;br /&gt;SELURUH MASYARAKAT INDONESIA SADAR DAN TAKUT KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA YANG SELALU MELIHAT, MENDENGAR DAN MENCATAT APA YANG TELAH KITA PERBUAT&lt;br /&gt;INDONESIA MENJADI BANGSA DAN NEGARA YANG DIHORMATI OLEH BANGSA-BANGSA DI DUNIA&lt;br /&gt;INDONESIA MAJU DALAM SEGALA BIDANG BAIK EKONOMI, POLITIK, SOSIAL, BUDAYA DAN PERTAHANAN KEAMANAN&lt;br /&gt;INDONESIA MEMPUNYAI MASYARAKAT YANG SOPAN SANTUN, GOTONG ROYONG, DAN TIDAK BERINGAS&lt;br /&gt;MASYARAKAT INDONESIA MEMPUNYAI TOLERASI YANG TINGGI (TEPO SELIRO) TERHADAP SELURUH UMAT MANUSIA DI DUNIA TANPA MELIHAT AGAMANYA, SUKU BANGSANYA, WARNA KULITNYA, DAN STATUS HIDUPNYA....&lt;br /&gt;PENULIS DAN YANG MEMBACA TULISANNYA MASUK SURGA SERTA DAPAT BERTATAP MUKA DENGAN SANG PENCIPTA TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;SUMPEH LO...........??????????????????&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-2552213189950763641?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/2552213189950763641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/soempah-pemoedasumpah-pocongsumpah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/2552213189950763641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/2552213189950763641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/09/soempah-pemoedasumpah-pocongsumpah.html' title='Soempah PEMOEDA...SUMPAH POCONG...SUMPAH JABATAN...GUE SUMPAHIN LO'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-9102708575372137114</id><published>2009-08-27T21:23:00.000+07:00</published><updated>2009-08-27T21:32:19.451+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Macam-macam bid'ah dan Hukum-hukumnya</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGERTIAN BID'AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bid'ah menurut bahasa, diambil dari bida' yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badiiu' as-samaawaati wal ardli&lt;br /&gt;"Artinya : Allah pencipta langit dan bumi"  [Al-Baqarah : 117]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qul maa kuntu bid'an min ar-rusuli&lt;br /&gt;"Artinya : Katakanlah : 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul". [Al-Ahqaf : 9].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Ta'ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dikatakan juga : "Fulan mengada-adakan bid'ah", maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perbuatan bid'ah itu ada dua bagian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Perbuatan bid'ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Perbuatan bid'ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)". Dan di dalam riwayat lain disebutkan : "Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MACAM-MACAM BID'AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bid'ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Bid'ah qauliyah 'itiqadiyah : Bid'ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu'tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Bid'ah fil ibadah : Bid'ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari'atkan oleh Allah : dan bid'ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]. Bid'ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari'at Allah Ta'ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari'atkan, shiyam yang tidak disyari'atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Bid'ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Bid'ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari'atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama'ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d]. Bid'ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari'atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari'at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya'ban (tanggal 15 bulan Sya'ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari'atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUM BID'AH DALAM AD-DIEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk bid'ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat". [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat lain disebutkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat dan tertolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya bahwa bid'ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid'ahnya, ada diantaranya yang menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo'a kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid'ah seperti bid'ahnya perkataan-perkataan orang-orang yang melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu'tazilah. Ada juga bid'ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo'a disisinya. Ada juga bid'ah yang merupakan fasiq secara aqidah sebagaimana halnya bid'ah Khawarij, Qadariyah dan Murji'ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid'ah yang merupakan maksiat seperti bid'ahnya orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dengan tujuan menghentikan syahwat jima' (bersetubuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Orang yang membagi bid'ah menjadi bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid'ah adalah sesat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid'ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid'ah) mengatakan tidak setiap bid'ah itu sesat, tapi ada bid'ah yang baik !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya "Syarh Arba'in" mengenai sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Setiap bid'ah adalah sesat", merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : "Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak". Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bid'ah itu ada yang baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu 'anhu pada shalat Tarawih : "Sebaik-baik bid'ah adalah ini", juga mereka berkata : "Sesungguhnya telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)", yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur'an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jawaban terhadap mereka adalah : bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini ada rujukannya dalam syari'at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu 'anhu : "Sebaik-baik bid'ah adalah ini", maksudnya adalah bid'ah menurut bahasa dan bukan bid'ah menurut syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam syariat sebagai rujukannya jika dikatakan "itu bid'ah" maksudnya adalah bid'ah menurut arti bahasa bukan menurut syari'at, karena bid'ah menurut syariat itu tidak ada dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pengumpulan Al-Qur'an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur'an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama'ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu 'anhu menjadikan mereka satu jama'ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bid'ah dalam Ad-Dien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga halnya penulisan hadits itu ada rujukannya dalam syariat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena ada permintaan kepada beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara umum adalah ditakutkan tercampur dengan penulisan Al-Qur'an. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur'an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang ; semoga Allah Ta'ala memberi balasan yang baik kepada mereka semua, karena mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu 'alaihi wa sallam agar tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah perbuatan orang-orang yang selalu tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari buku Al-Wala &amp;amp; Al-Bara Tentang Siapa Yang harus Dicintai &amp;amp; Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo, hal 47-55, penerjemah Endang Saefuddin.]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-9102708575372137114?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/9102708575372137114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/macam-macam-bidah-dan-hukum-hukumnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/9102708575372137114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/9102708575372137114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/macam-macam-bidah-dan-hukum-hukumnya.html' title='Macam-macam bid&apos;ah dan Hukum-hukumnya'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-7140052751861467011</id><published>2009-08-26T21:47:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T21:50:00.943+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Definisi bid'ah masih disalah pahami</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ketika membicarakan bid’ah maka kita harus mengerti bahwa ada definisi bid’ah dari segi bahasa dan istilah. Dari segi bahasa, bid’ah bermaksud membuat sesuatu yang tidak ada contoh sebelumnya. Jadi sangat umum definisinya. Sedangkan dari segi istilah ada beberapa definisi bid’ah.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Salah satu definisi bid’ah yang terbaik adalah seperti yang dikemukan oleh al-Imam Abu Ishaq al-Syatibi rahimahullah (790H) dalam kitab al-I’tishom. Beliau adalah seorang muhaddith, ahli fiqh dan usul fiqh terkenal dari Andalus yang bermazhab Malik.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-363"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;. Membuat sesuatu yang baru dalam urusan agama. Dalam hal ini terbagi dua yaitu yang ada contohnya dalam syariat dan yang tidak ada contohnya dalam syariat. Yang dimaksud bid’ah dalam definisi ini adalah bid’ah dalam urusan agama yang tidak ada contohnya dalam syariat. Dengan menggunakan definisi ini maka perbuatan yang baru dalam urusan agama seperti ilmu nahu, saraf, mufradat bahasa, Usul al-Fiqh, Usul al-Din, dan segala ilmu yang mendukung syariat, tidak dianggap bid’ah, karena dasar-dasarnya ada dalam syarak. Dengan menggunakan definisi ini pula, sesuatu yang baru dalam urusan dunia tidak dianggap bid’ah, seperti membuat barang-barang, kenderaan, dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;. Membuat sesuatu yang baru sehingga seolah-olah menyerupai syarak. Padahal ia bertentangan dengan syarak karena beberapa sebab:&lt;/p&gt; &lt;ul style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt; Meletakkan batasan-batasan yang tidak ditetapkan oleh syarak seperti seorang yang bernazar untuk puasa berdiri tanpa duduk, mengasingkan diri untuk beribadah, dan sebagainya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan dengan cara dan bentuk tertentu, seperti berzikir ramai-ramai, menyambut hari kelahiran Nabi SAW, dan sebagainya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan dengan ibadah tertentu dalam waktu tertentu, seperti berpuasa pada hari Nifsu Sya’ban dan bersolat pada malam harinya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;. Membuat sesuatu yang baru dalam ibadah dengan alasan supaya lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Mungkin ada yang tidak setuju dengan definisi al-Syatibi. Mereka mengatakan toh ada ulama lain yang cara pembagian bid’ah berlainan dengan dengan cara al-Syatibi. Salah satunya adalah pembagian bid’ah oleh al-Imam ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam rahimahulah (660H). Kita lihat beliau lebih awal dari al-Syatibi dalam membuat definisi bid’ah. Beliau dalam kitab Qawa’id al-Ahkam fi Masalih al-Anam membagi bid’ah kepada lima kategori:&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt;Bid’ah Wajibah (bid’ah wajib)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bid’ah Muharramah (bid’ah yang diharamkan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bid’ah Mandubah (bid’ah yang disunnahkan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bid’ah Makruhah (bid’ah makruh)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bid’ah Mubahah (bid’ah yang dibolehkan)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Mungkin ada yang bersorak kegirangan “Tuh kan apa aku bilang, kan ada bid’ah wajib. Kamu jangan suka membid’ahkan orang lah”. Tapi tunggu sebentar bro. Sebelum keburu senang kita harus mengetahu terlebih dahulu apa definisi bid’ah menurut beliau.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ternyata definisi beliau tentang bid’ah sangatlah luas dan umum. Beliau berkata bid’ah adalah perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasulullah. Ini sih termasuk perkara ibadah dan urusan dunia yang melibatkan syarak. Kalau masih tidak percaya coba kita dengar apa yang beliau maksudkan dengan bid’ah wajib. Menurut beliau contoh bid’ah wajib adalah belajarilmu nahu supaya bisa memahami kalam Allah. Kalau menurut al-Imam al-Syatibi, contoh itu tidak termasuk di dalam bid’ah dari segi syarak. Selanjutnya al-Imam al-Syatibi menolak pembagian al-Imam ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam karena hakikat bid’ah adalah sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh syar’i baik dalam bentuk nas-nas maupun metode-metodenya. al-Imam al-Syatibi berkata tidak wajar dinamakan bid’ah perkara-perkara yang wajib atau sunat.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kesimpulannya bid’ah yang dimaksudkan oleh al-Imam ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam tidak jauh berbeda dengan al-Imam al-Syatibi. Cuma cara pembagian bid’ah kepada wajib, sunnah, dll, itulah yang tidak disetujui oleh al-Imam al-Syatibi. Bagaimana tidak? Ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakan pembagian bid’ah oleh al-Imam ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam untuk menyesatkan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Bagaimana pegangan al-Imam al-Nawawi rahimahullah (676H), seorang ulama besar mazhab al-Syafi’i? Beliau setuju dengan pembagian bid’ah al-Imam ‘Izz al-Din ‘Abd al-Salam. Tapi kalau diteliti karya-karya al-Imam al-Nawawi, beliau tidak pernah menganggap bid’ah hasanah seperti yang disangka oleh orang ramai pada masa kini. Contohnya:&lt;/p&gt; &lt;ul style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt; al-Imam al-Nawawi tidak pernah pernah menamakan perbuatan membaca al’Quran ketika mengiringi jenazah sebagai bid’ah hasanah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;al-Imam al-Nawawi tidak menganggap penambahan waBarakatuh setelah salam sebagai bid’ah Musahabbah (yang disunatkan). Malah beliau menganggap itu bid’ah karena ketiadaan dalil yang shahih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;al-Imam al-Nawawi menganggap menyediakan makanan oleh keluarga si mati untuk orang ramai adalah bid’ah yang tidak disukai. Beliau tidak memasukkannya ke dalam kategori bid’ah hasanah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Terus bagaimana pendapat al-Imam al-Sayuti rahimahullah (911H)? Pendapat beliau bisa dibaca di kitabnya mengenai bid’ah yaitu al-Amr bi al-Ittiba’ wa al-Nahy ‘an al-Ibtida. Menurut beliau bid’ah hasanah adalah bid’ah yang tidak menyalahi kaidah-kaidah syarak sedikitpun. Contohnya seperti membuat mimbar mesjid, benteng pertahanan, sekolah, rumah musafir, dan sebagainya yang membawa kepada kebaikan tapi tidak ada pada zaman Islam. Memakai definisi al-Imam al- al-Syatibi apa yang disebutkan di atas tidak sepatutnya dimasukkan kedalam definisi bid’ah. Kalau masih belum percaya, al-Imam al-Sayuti menolak solat sunat Raghaib, malam Nisfu Sya’ban, melafaskan niat sebelum sholat. al-Imam al-Sayuti tidak menganggap itu sebagai bid’ah hasanah.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kesimpulannya telah berlaku salah paham di kalangan masyarakat bahkan di kalangan penceramah dan agamawan terhadap istilah bid’ah pada saat ini. Apa yang dimaksudkan oleh tokoh-tokoh ulama diatas tidak sama maksudnya dengan yang dimaksudkan oleh maysarakat, penceramah, agamawan pada saat ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;Diringkas dari buku:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Bid’ah Hasanah: Istilah Yang Disalah Pahami&lt;br /&gt;Dr. Mohd. Asri Zainul Abidin&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-7140052751861467011?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/7140052751861467011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/definisi-bidah-masih-disalah-pahami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/7140052751861467011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/7140052751861467011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/definisi-bidah-masih-disalah-pahami.html' title='Definisi bid&apos;ah masih disalah pahami'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-7122020376138067057</id><published>2009-08-26T21:35:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T21:41:49.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tar'/><title type='text'>Istri bekerja???</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sekarang ini isu boleh tidaknya wanita bekerja adalah isu sensitif. Tidak percaya? Coba saja bawa topik ini ke dalam sebuah forum dan katakan bahwa wanita sebaiknya tinggal di rumah menjaga anak. Tidak perlu menunggu terlalu lama, balasan bertubi-tubi akan menyerang anda. Anda akan dituduh menzalimi wanita, tidak adil terhadap mereka, dan banyak lainnya. Saya tidak melarang wanita bekerja. Akan tetapi ada keadaan-keadaan tertentu yang tidak dipenuhi oleh wanita masa kini ketika ingin bekerja di luar rumah. Hal inilah yang menimbulkan kesan-kesan negatif wanita bekerja di luar rumah. Jadi sebelum menyerang saya, silakan dibaca tulisan saya dengan kepala dingin. Setuju? &lt;img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" class="wp-smiley" /&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;span id="more-695"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dulunya negara-negara barat memerlukan pekerja wanita untuk menggantikan kaum laki-laki yang banyak mati dalam perang dunia pertama dan kedua. Selain itu juga disebabkan oleh pesatnya revolusi industri dimana tenaga kerja wanita yang murah dan mudah diperintah dapat memberikan keuntungan ekonomi berlipat ganda. Bagaimana dengan umat Islam? Apa ingin melihat kehancuran akhlak wanitanya seperti yang terjadi di negara-negara barat?&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Mengapa kaum wanita ingin bekerja?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pada umumnya alasan wanita keluar bekerja adalah karena uang. Wanita ini biasanya berasal dari keluarga miskin. Kalau sudah menikah mungkin suaminya sangat miskin dan hanya mampu bekerja sebagai tukang pungut sampah, jualan bakso, atau jadi kuli bangunan. Padahal mereka punya banyak anak seperti kebiasaan orang miskin. Suaminya mau berkerja di pabrikpun agak susah, karena pihak pabrik biasanya lebih memilih kaum wanita karena mudah diperintah dan murah gajinya. Tiada jalan lain bagi istrinya kecuali bekerja, guna menambah pendapatan.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kondisi keuangan juga menjadi alasan bagi perempuan yang berasal dari keluarga yang miskin yang punya banyak adik-beradik. Karena dia satu-satunya yang mampu mencari uang (orang-tuanya sudah tua dan sakit-sakitan), maka mau tidak mau dia harus bekerja untuk menafkahi adik-adiknya. Wanita dari kelompok ini banyak hidup di negara-negara miskin, misalnya seperti Indonesia dan jumlahnya bisa mencapai jutaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kalau wanita dari kelompok pertama memang terpaksa bekerja untuk membantu suaminya atau keluarganya, maka wanita yang berasal dari kelompok kedua bekerja bukan karena uang. Mereka bekerja karena beberapa alasan di bawah ini:&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;1.&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Meningkatkan kenyamanan hidup&lt;/strong&gt;. Sebenarnya suaminya mampu menyediakan nafkah secukupnya seperti mampu menyewa rumah atau bahkan membeli rumah yang sederhana, punya sepeda motor atau mobil bekas yang sederhana, mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah pemerintah, dll. Akan tetapi karena menginginkan kualitas hidup yang lebih tinggi, maka bekerjalah si istri. Mereka memimpikan untuk membeli rumah yang lebih besar, mobil baru, menyekolahkan anak di swasta, dan jalan-jalan ke luar negeri.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;2. Desakan orang tua&lt;/strong&gt;. Orang tuanya telah mengeluarkan uang yang banyak untuk menyekolahkan anak perempuannya. Maka tiada kebahagian lain bagi orang dengan melihat anaknya sukses mendapatkan kerja. Ini juga bisa menaikkan gengsi orang tua di depan kenalan dan saudara-saudaranya. Selain itu kalau anaknya tidak bekerja maka akan menyia-nyiakan uang yang dihabiskan dan gelar yang diperoleh.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;3. Membayar hutang pemerintah&lt;/strong&gt;. Mendapatkan beasiswa memang suatu rezki. Orang tua menjadi lega karena tidak perlu mengeluarkan biaya kuliah yang sangat mahal. Tapi jangan gembira dulu, ada biaya tersembunyi yang harus ditanggung oleh si penerima beasiswa ketika telah lulus kuliah yaitu terikat kontrak kerja dengan pemerintah. Kalau misalnya 1 tahun belajar S1 (degree) kontraknya 2 tahun, maka kalau 4 tahun belajar, harus bekerja dengan pemerintah selama 8 tahun. Kalau mau memutuskan kontrak boleh saja. Tapi harus membayar kembali semua beasiswa yang diperoleh.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;4. Menghilangkan ketergantungan (independent) terhadap suami&lt;/strong&gt;. Wanita dari kelompok ini bangga karena mampu mencari uang sendiri dan memiliki percaya diri yang tinggi. Mereka berkerja karena takut sewaktu-waktu ditinggal bercerai atau mati oleh suaminya. Menurut Islam untuk kasus seperti itu si wanita tidak perlu bekerja, tapi orang tuanya yang akan menanggungnya atau ahli warisnya kalau orang-tuanya sudah meninggal. Bagaimana dengan anak-anak? Kalau ayahnya masih hidup, maka kewajiban si ayah untuk membiayai anak-anaknya, walaupun sudah bercerai dengan istrinya. Kalau si ayah sudah meninggal, maka tanggung jawab ahli warisnya yang akan membiayai anak-anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Namun karena Islam sudah ditinggalkan jauh pada saat ini, penyelesaian di atas kebanyakan tidak diketahui atau diabaikan oleh orang banyak. Banyak kasus setelah bercerai suami lenyap dengan istri barunya tanpa mempedulikan nafkah bagi anak-anaknya. Akibatnya istri harus bekerja keras untuk membiayai hidup dirinya dan anak-anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ada juga yang terlambat menikah atau tidak mau menikah sama sekali, supaya tidak tergantung dengan kaum laki-laki. Makanya banyak wanita di negara-negara kaya yang terlambat menikah supaya bisa mengumpulkan uang yang banyak dulu demi kehidupan yang stabil sebelum menikah.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;5. Menaikkan identitas sosial&lt;/strong&gt;. Ini hanya berlaku bagi kaum wanita yang bekerja di perkantoran baik pemerintah ataupun swasta. Orang-orang akan melihatnya dengan perasaan takjub. Apalagi kalau wanita itu memegang posisi penting di tempat kerjanya. Wanita dari kelompok ini akan mati-matian mengejar karir dengan bersaing sesama lelaki. Mereka bangga kalau bisa mengalahkan laki-laki dalam persaingan itu. Mereka kemudian menganjurkan program-program atau seminar-seminar untuk mengajak wanita lain mengikuti jejak mereka. Orang-tuanya, saudara-saudaranya dan teman-temannya merasa bangga dengan segala kesuksesannya. Bila suatu saat timbul kesadaran wanita itu untuk berhenti kerja, segera mendapat tentangan dari mereka-mereka yang naik status sosialnya karena kesuksesan wanita tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;6. Desakan masyarakat&lt;/strong&gt;. Apabila pada suatu tempat kebanyakannya wanita bekerja di luar rumah, maka wanita yang hanya menjaga anak di rumah akan dipandang rendah oleh masyarakat. Pertanyaan yang selalu ditanya adalah “Dimana kamu bekerja?”, “Kenapa istri kamu tidak bekerja, kan dia ada pendidikan tinggi?”. Ini lama-kelamaan membuat wanita yang duduk di rumah juga ingin bekerja, karena tidak tahan dengan anggapan rendah tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Kesan Negatif Wanita Bekerja&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;1. Merampas pekerjaan kaum laki-laki&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kesibukan perempuan dalam merebut lapangan pekerjaan menyebabkan banyaknya pengangguran laki-laki. Terutamanya apabila perempuan terjun di profesi-profesi pegawai negeri. Akibatnya banyak sekali laki-laki pemilik ijazah sekolah lanjutan dan sarjana yang menganggur sehingga mereka memenuhi kedai kopi dan mengetuk pintu kantor-kantor untuk mencari pekerjaan. Masalah yang bermacam-macam pun mulai timbul akibat sisi kehidupan ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sekitar tahun 2006, saya pernah melihat sebuah program TV di Australia. Program ini menunjukkan bahwa suami yang duduk di rumah menjaga anak dan istri kerja di kantor sudah menjadi kenyataan. Si suami dengan santainya mengatakan bahwa dia tidak malu untuk tinggal di rumah sedangkan istrinya bekerja di luar. Pada awalnya si suami yang bekerja dan berhenti kerja karena sesuatu hal. Mencari kerja yang lain tidak mudah seperti yang disangka. Akhirnya lama-lama ekonomi keluarga tersebut ditanggung oleh si istri. Hal ini tentu bukan yang diinginkan dalam Islam. Dalam Islam suamilah yang mencari nafkah. Cuma karena banyak pekerjaan sudah diambil alih oleh wanita, laki-laki terpaksa duduk di rumah karena ketiadaan kerja.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;2. Meningkatkan resiko penyakit&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Penyakit jantung yang banyak menyerang kaum laki-laki, kini mulai menimpa kaum perempuan juga. Hal ini dikarenakan perempuan telah banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;3. Meningkatnya kriminalitas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Selain itu perempuan yang bekerja juga kini turut merasakan dan memasuki masalah-masalah yang dihadapi kaum laki-laki. Salah satu akibatnya adalah meingkatnya kriminalitas di kalangan perempuan yang disebabkan kelebihan pengangguran di kalangan perempuan terdidik.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Seorang doktor pernah menyatakan bahwa penyebab krisis keluarga di Amerika dan banyaknya kriminalitas di masyarakat adalah karena seorang istri telah meninggalkan rumahnya, sehingga bertambahlah kerusakan keluarga. Oleh karena itu bertambahlah kerusakan masyarakat dan menjadi rendahlah akhlak mereka.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Wanita-wanita yang bekerja di luar rumah juga cenderung menimbulkan fitnah kepada kaum laki-laki. Mereka akan memakai pakaian yang akan menaikkan syahwat lelaki, memaki wangi-wangian yang tercium hingga 10 meter, berbicara dengan manja, dsb. Semuanya mampu meruntuhkan keimanan para laki-laki. Dengan adanya perempuan yang bekerja di kantor-kantor atau pabrik-pabrik akan meningkatkan penyelewengan suami-istri. Bukankah ini akan menimbulkan kegoncangan rumah tangga?&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;4. Kehilangan sifat kewanitaannya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Perempuan yang bekerja pada sarana angkutan umum,di pertambangan,di perindustrian yang berat, bahkan di bagian pengaspalan jalan dan kebersihan, mereka telah kehilangan sifat kewanitaannya. Perempuan-perempuan yang bekerja di kantor pun makin lama makin jauh hubungan kekeluargaannya karena lelah yang luar biasa baik di rumah maupun di luar rumah.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;5. Tidak mampu melayani suami dan anaknya dengan sempurna&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Suami yang mengizinkan istrinya bekerja juga turut menikmati gaji si istri menjadi tidak memiliki hak untuk misalnya:&lt;/p&gt; &lt;ul style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt;Menyuruh istrinya selalu tersenyum ketika bertemu dengannya. Bagaimana mungkin menyuruh istrinya tersenyum yang telah dipenuhi dengan kelelehaan dan stress yang diperoleh di tempat kerjanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tempat suami mengadu masalah dan mendapatkan dukungan. Jangan diharaplah, karena istri juga punya segudang masalah untuk diadukan ke suami.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meminta ide dari istri untuuk suami yang sedang buntu dalam masalah kerja. Istri juga sama-ama buntu dalam urusan kerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengurus badan suami. Seperti biasa suami paling senang kalau dipijit oleh istrinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyuruh istrinya mendiamkan anak-anaknya yang menangis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyuruh istrinya mencuci piring, baju, menyapu rumah, dll. Dalam hal ini, suami harus berbagi beban dengan istri dalam hal mengurus rumah. Sangat tidak adil memaksa istri untuk tempat mendapatkan uang dan pada saat yang bersamaan meminta istri sendiri untuk mengurusi semua urusan rumah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan banyak contoh lainnya yang tidak mungkin untuk disebutkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;6. Terpaksa membayar pembantu/pengasuh&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Bagi keluarga miskin yang tidak mampu membayar pengasuh mereka terpaksa minta tolong orang-tua nya atau saudara-saudaranya untuk mengasuh dan menjaga anak mereka. Sedangkan bagi yang memiliki uang, mereka mampu untuk membayar pembantu dan pengasuh. Mengharapkan seorang pembantu untuk mengurus rumah dan menjaga anaknya sekaligus adalah suatu tindakan yang zalim dan beresiko. Memang biaya lebih murah kalau seorang pembantu mampu melakukan kedua tugas sekaligus. Tapi pembantu seorang manusia juga. Dia bisa kelelahan dalam mengurus rumah, sehingga ketika mangsuh anak majikan bawaannya marah-marah terus. Kadang-kadang sampai dipukul, toh majikan tidak melihat. Selain itu kebanyakan pembantu berpendidikan rendah. Mereka tidak tahu bagaimana cara mendidik anak yang baik. Kalau kedua orang-tuanya tidak sigap dengan keadaan tersebut, si anak akan mengikuti level intelensia pembantu.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sebagai jalan keluarnya, mereka bisa membayar seorang pengasuh lagi atau mengantarkan anaknya ke sebuah lembaga asuhan. Lembaga asuhan (nursery) juga bukan jaminan kalau anak mendapat cinta yang cukup. Banyak anak yang harus diperhatikan oleh pengasuh-pengasuh tersebut. Memang kelebihannya si anak mampu bersosialisasi denga banyak teman.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kalau tidak mampu kedua-duanya, terpaksalah meminta orang-tuanya untuk melakukan tugas menjaga rumah dan mengasuh anaknya. Di sini bisa terjadi konflik dalam pendidikan. Orang-tuanya maunya anaknya dididik dengan metode mereka, sedangkan kakek-nenek si anak menggunakan cara lain. Ini bisa menyebabkan konflik. Selain itu apakah tega menyuruh orang-tua mengasuh anak kita? Padahal seharusnya di usia tuanya mereka menikmati hasil jerih payah selama mereka muda.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;7. Suami menjadi tergantung kepada penghasilan istri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pada awalnya pihak laki-laki malu menerima gaji istrinya. Tapi lama-lama menjadi keenakan. Akibatnya suami tidak mau memberikan gajinya kepada istri untuk urusan rumah tungga. Suami menganggap gaji istrinya sudah cukup untuk urusan dapur. Terkadang suami juga meminjam uang dari istrinya, tapi pura-pura lupa untuk mengembalikannya. Kalau sampai pada tahap yang parah, si suami tidak mau bekerja lagi dan bergantung pada gaji istrinya. Ini semua sudah bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam Islam, suami yang memberi rezeki, bukan istri. Istri tidak boleh dipaksa secara langsung atau tidak langsung untuk membiayai rumah tangganya. Jangan sangka kasus ini hanya sedikit yang terjadi. Banyak terjadi, cuma sudah menjadi kebiasaan untuk mencampur aduk antara harta suami dan istri.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;8. Kenderaan untuk istri bekerja&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ini hanya berlaku bagi istri yang bekerja di kantor-kantor. Untuk transportasi, mau tidak mau sebuah mobil lagi harus dibeli. Ini berarti ongkos bensin tambahan dan pemeliharaan kenderaan. Kalau gaji si istri cuma sekedarnya, hasil yang diperoleh setiap bulanpun tidak terlalu banyak. Belum lagi harus dipotong untuk biaya membayar pembantu dan mengasuh anak.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kalaupun memilih kenderaan umum untuk transportasi maka muncul resiko-resiku yang lain. Seperti berdesak-desakkan di dalam bus, yang tentu saja sudah tidak memperdulikan lagi batasan-batasan Islam. Juga rasa aman menjadi hilang, karena pada kebanyakan waktu si istri harus pergi sendiri dan mungkin pulangnya bisa malam.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;9. Tidak bisa menyusui anak dengan sempurna&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Apa beda minum susu langsung dari payudara ibunya dengan minum susu ibu yang dimasukkan ke dalam botol susu. Kedua-duanya mampu memberikan sumber gizi yang sama karena berasal dari ibu bukan susu formula. Bedanya adalah ikatan batin yang diperoleh oleh si anak. Apabila menyusu dari payudara ibunya, bayi akan mempunyai ikatan batin 80% lebih kuat dari yang diberikan melalui botol dan lebih menyintai ibunya. Menyusu langsung dari payudara seorang ibu, hanya mungkin dilakukan oleh ibu yang tidak bekerja.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Selain masalah ikatan batin, biaya juga turut menentukan ketika ingin membeli sebuah pemeras susu. Ibu-ibu yang berasal dari keluarga miskin, tidak mampu membeli pemeras susu yang mahal. Lagipula setelah diperas mau ditaruh dimana susunya? Di rumah belum tentu ada pendingin (kulkas), apalagi di tempat kerja seperti di pabrik-pabrik. Mana ada fasilitas pendingin untuk pekerja wanitanya dan waktu khusus yang diberikan untuk memerah susu. Padahal kalau susu tidak diperas saja lebih dari satu jam akan menyebabkan air susu keluar dan hal ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi si ibu yang sedang bekerja. Jadi air susu yang diperas tidak cocok untuk ibu-ibu yang bekerja dikilang.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Penelitian juga menunjukkan, ibu yang turun tangan langsung mengasuh anak pada tiga tahun pertama kehidupannya akan mendapatkan hasil yang terbaik. Sebab, pada masa itu si ibu memiliki kesempatan untuk memainkan peranan penting dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial maupun sosial anak. Kalau begitu setelah tiga tahun, si ibu bisa keluar kerja dengan tenang dong? Belum tentu juga. Anak-anak mudah dibentuk apabila umur mereka di bawah sepuluh tahun. Pada saat itulah kesempatan si ibu untuk menanamkan nilai-nilai agama bagi anaknya yang tidak akan diperoleh dari pelajaran agama di sekolah. Ibu juga memiliki kesempatan untuk membimbing anaknya dalam pelajaran sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Jenis Pekerjaan Yang Cocok Untuk Perempuan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sesungguhnya tugas wanita yang pertama dan yang paling besar yang tidak ada pertentangan padanya adalah mentarbiyah generasi yang telah dipersiapkan oleh Allah, baik secara fisik maupun jiwa. Wajib bagi wanita untuk tidak melupakan risalah yang mulia ini disebabkan karena pengaruh materi atau modernisasi apa pun adanya, karena tidak ada seorang pun yang mampu melakukan tugas agung ini yang sangat menentukan masa depan ummat kecuali dia.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;1. Pekerjaan untuk melayani kaum perempuan sendiri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dokter kandungan, dokter bedah, perawat, guru, dll adalah contoh-contoh pekerjaan yang betul-betul diperlukan untuk melayani kaum wanita. Guru sekolah merupakan pekerjaan yang ideal bagi perempuan. Tante saya cuma mengajar di sekolah dasar 3 kali seminggu. Itupun tidak sampai sore. Jadi tante saya banyak meluangkan waktunya dengan anak-anaknya di rumah. Terbukti anak-anaknya sukses semua menempuh pendidikan tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;2. Pekerjaan yang bisa dilakukan di dalam rumah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Pekerjaan dari jenis ini adalah dari jenis bisnis seperti membuka tempat pengasuhan anak, tempat kursus, menjahit, katering, menyediakan pelaminan, konsultan keuangan keluarga, novelis, dll. Pekerjaan dari jenis ini jarang dilirik oleh perempuan karena mungkin tidak dianggap bergengsi. Lebih bergengsi kalau bekerja dikantor, walaupun penghasilannya belum tentu lebih tinggi daripada yang dilakukan di rumah. Alasan lain salain prestise adalah kaum perempuan banyak bersekolah di tempat yang tidak cocok dengan mereka. Harusnya mereka melanjutkan pendidikan di bidang pengasuhan anak misalnya, sebaliknya mereka masuk ke juruskan teknik elektro (Electrical Engineering). Lulusannya terpaksa bekerja di industri-industri yang berada di luar rumah. Jadi kalau anda punya anak perempuan, sekolahkan mereka ditempat yang sepatutnya. Ajarkan mereka ketrampilan menjahit, memasak, membuat kueh, bisnis, dll.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Syarat-Syarat Kalau Wanita Ingin Bekerja&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Bila wanita itu bekerja maka harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut (Prof. Dr Md Uqlah Al-Ibrahim antaranya ( Nizam Al-Usrah, 2/282 ; Al-Mar’ah Bayna Al-bayt Wal Mujtama’, hlm 18)):&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;1. Keperluan yang sangat mendesak&lt;/strong&gt; sehingga harus keluar bekerja yang diakibatkan oleh kejadian-kejadian ini:&lt;/p&gt; &lt;ul style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt; Kematian suami dan memerlukan biaya hidup.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memberikan bantuan kepada dua ibu bapa yang sangat miskin atau suami yang uzur tubuhnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membantu bisnis suami yang memerlukan banyak tenaga dan biaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempunyai keistemewaan yang hebat sehinggakan kemahiran ini sangat diperlukan oleh masyarakat umumnya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;2. Pekerjaan ini sesuai dengan fitrah seorang wanita dan kemampuan phisiknya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;3. Menutup aurat dan selalu menjauhi fitnah di tempat kerja&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Hendaknya jenis pekerjaannya memang tidak dilarang, artinya pada dasarnya kerja itu tidak diharamkan dan tidak mengarah pada perbuatan haram seperti menjadi seorang penari yang membangkitkan syahwat dan keinginan bersifat duniawi, atau bekerja di bar-bar yang menghidangkan khamr.&lt;/p&gt; &lt;div id="attachment_701" class="wp-caption alignleft" style="width: 184px; font-family: arial;"&gt;&lt;a href="http://iemasen.files.wordpress.com/2008/11/menggoda.jpg"&gt;&lt;img class="size-full wp-image-701" title="menggoda" src="http://iemasen.files.wordpress.com/2008/11/menggoda.jpg?w=174&amp;amp;h=188" alt="Menggoda laki-Laki" height="188" width="174" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="wp-caption-text"&gt;Menggoda laki-Laki&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sudah menjadi fitrah seorang wanita untuk mencari berbagai jalan agar dipuji penampilannya oleh orang lain. Kesempatan ini terbuka luas ketika mereka berada di luar rumah. Mereka akan memakai pakaian-pakaian yang mampu menaikkan syahwat laki-laki. Tidak semestinya pakaian itu berupa rok mini, bisa juga pakaian berjilbab yang ketat. Mungkin mereka berpikir cukup dengan menutup kepala saja, sedangkan badan lainnya dibiarkan dibalut dengan busana ketat. Terkadang masih terbelah lagi rok bawahnya. Selain itu minyak wangi menjadi santapan wajib bagi para wanita. Makin banyak laki-laki yang mencium minyak wanginya, makin bangga wanita itu dengan penampilannya. Belum lagi ditambah dengan rias muka. Itulah semua hal yang menimbulkan fitnah terhadap kaum laki-laki.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;4. Tidak berdua-duaan dengan laki-laki dan bercampur baur dengan laki-laki lainnya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Seperti bekerja sebagai pembantu pada seseorang yang belum menikah atau sekretaris khusus bagi seorang direktur kemudian berduaan&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;5.  Mendapat izin wali atau suami.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kalau tidak ada izin dari suami, jangan coba-coba nekat bekerja diluar walaupun didesak sama orang-tua sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;6. Tidak mengorbankan kewajiban rumah tangganya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Seperti kewajibannya terhadap suaminya dan anak-anaknya yang merupakan kewajiban pertama dan tugasnya yang asasi.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;7. Tujuan dan niat utama bekerja bukanlah kerana keasyikan dan keghairahan kepada mengumpul harta dan niat semata-mata menyaingi lelaki.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;8. Berhenti bekerja ketika didapati masalah dalam pendidikan anaknya.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Seorang kenalan istri saya bekerja part-time di sebuah sekolah mengajar bahasa Arab. Akan tetapi ketika anaknya jatuh sakit hingga harus meninggalkan sekolah dalam waktu yang lama, si ibu langsung memutuskan untuk berhenti kerja. Si ibu melihat anaknya jatuh dalam pelajaran sekolah karena banyak ketinggalan. Mengharapkan bapaknya untuk mengajar anaknya juga tidak mungkin, karena bapaknya kembali ketika sore menjelang. Alhamdulillah dengan ketekunan ibunya mengajar anaknya yang berumur tujuh tahun, prestasi sekolah anaknya meningkat kembali.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;strong&gt;9. Bekerja tidak sampai pensiun.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Sangat disarankan supaya bekerja dalam tempo tertentu saja dan bukan sampai pensiun. Sepatutnya berhenti sejurus suami mempunyai kemampuan menanggung seluruh keluarga dengan baik. Kecuali jika mempunyai keahlian yang amat diperlukan oleh masyarakat umum.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Fasilitas Untuk Wanita Bekerja&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Menurut Dr. Yusuf Al-Qharadawi yang dituntut dari masyarakat Islam adalah mengatur segala persoalan hidup dan mempersiapkan sarananya sehingga kaum wanita bisa bekerja apabila hal itu membawa kemaslahatan bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya, tanpa menghilangkan perasaan malunya atau bertentangan dengan keterikatannya dengan kewajibannya terhadap Rabbnya, dirinya, dan rumahnya. Dan hendaknya lingkungan secara umum mendukung untuk melaksanakan kewajibannya dan memperoleh haknya. Bisa saja dengan cara wanita diberi separuh pekerjaan dengan separuh gaji (tiga hari dalam satu minggu) umpamanya, sebagaimana sepatutnya masyarakat memberikan kepada wanita libur yang cukup pada awal pernikahan, demikian juga pada saat melahirkan dan menyusui.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Di antara yang harus ditertibkan adalah membangun sekolah-sekolah fakultas-fakultas dan perguruan tinggi khusus untuk kaum wanita yang dengan itu mereka bisa melakukan latihan olah raga dan permainan yang sesuai dengan mereka. Dan hendaknya mereka diberi kebebasan untuk beraktifitas dan melakukan berbagai kegiatan.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Di antaranya juga membangun bidang dan lahan tersendiri khusus untuk para karyawan dan pekerja wanita dalam kementerian, kantor-kantor dan bank-bank, yang jauh dari fitnah, dan lain sebagainya dari berbagai sarana yang beragam dan aktual yang tidak terhitung. Allah-lah yang berkata benar dan Dia-lah yang memberi petunjuk.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial;"&gt;sumber ; http://iemasen.wordpress.com/2008/11/10/perlukah-wanita-bekerja/&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-7122020376138067057?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/7122020376138067057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/istri-bekerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/7122020376138067057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/7122020376138067057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/istri-bekerja.html' title='Istri bekerja???'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-6595217895330646815</id><published>2009-08-26T21:30:00.001+07:00</published><updated>2009-08-26T21:34:05.333+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Hadist-hadist palsu di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Setiap Ramadhan, para penceramah mendapat tambahan kesibukan. Mereka diundang ke berbagai tempat untuk berceramah seputar puasa dan Ramadhan. Agar ceramahnya memiliki bobot ilmiah, mereka banyak mengutip dan menguraikan maksud ayat-ayat Alquran, Hadis atau kata-kata hikmah para ulama. Hadis-hadis yang mereka sampaikan bervariasi kualitasnya, ada yang shahih, hasan, dhaif, bahkan ada yang sangat dhaif sekali, yaitu hadis-hadis yang dikategorikan sebagai maudhu, matruk, munkar, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Untuk mengetahui hadis palsu berkaitan dengan Ramadhan, berikut akan dituliskan minimal tujuh hadis maudhu (palsu) atau matruk (semi palsu) agar dapat diketahui kepalsuannya, sehingga tidak disebut- sebut lagi dalam ceramah-ceramah Ramadhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hal itu mengingat ada Hadis Nabi SAW: Siapa yang meriwayatkan hadis dariku sedangkan dia tahu bahwa hadis itu dusta, maka dia termasuk salah satu dari para pendusta (HR Ibn Majah). Dalam Shahih Bukhari juga disebutkan bahwa Nabi SAW besabda: Orang yang sengaja mendustakan aku, siap-siaplah ia untuk masuk neraka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;1. Ramadhan diawali rahmat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis ini selengkapnya seperti yang populer di masyarakat adalah: Bulan Ramadhan diawali rahmat, tengahnya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis tersebut diriwayatkan al-Uqaili, Ibn Adiy, al-Khatib al-Baghdadi, al-Dailami, dan Ibn Asakir. Menurut Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, hadis ini nilainya munkar, yaitu hadis yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang parah kekuatan hafalannya, pelupa, atau sering melakukan maksiat (fasiq).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis munkar adalah termasuk hadis yang dikategorikan sangat lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah. Ia menempati ranking ketiga dalam urutan hadis-hadis yang paling parah kedhaifannya sesudah hadis matruk (semi palsu) dan maudhu (palsu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sumber kelemahan hadis ini adalah adanya dua orang rawi dalam sanadnya, masing-masing bernama Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al- Shalt. Menurut kritikus hadis Ibnu Adiy (w. 365 H), Sallam bin Sawwar (Sallam bin Sulaiman bin Sawwar) adalah munkar al-Hadis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk. Secara etimologis matruk berarti ditinggalkan. Sedangkan menurut disiplin ilmu hadis, matruk adalah rawi yang sehari-harinya pendusta dan ketika meriwayatkan hadis ia dituduh dusta. Hadis yang rawinya seperti itu disebut hadis matruk. Hadis matruk adalah ‘adik’ hadis maudhu (palsu), karena kedua-duanya lahir dari rawi yang pendusta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis ini juga diriwayatkan Imam Ibnu Khuzaimah dengan redaksi yang sangat panjang. Di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ali bin Zaid bin Ju’dan. Menurut tokoh kritikus hadis Imam Yahya bin Ma’in, Ju’dan tidak dapat dijadikan hujjah. Menurut Imam Abu Zur’ah, Ju’dan tidak kuat hadisnya. Dan begitu pula menurut imam-imam yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dalam kaidah ilmu kritik rawi hadis (Ilmu al-Jarh wa al-Ta’dil), rawi yang mendapatkan penilaian seperti yang di atas tadi, apabila ia meriwayatkan hadis, maka hadisnya tidak dapat dijadikan dalil dalam agama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;2. Tidak makan kecuali lapar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis ini lengkapnya: Kami adalah orang-orang yang tidak makan sehingga lapar, dan apabila kami makan kami tidak sampai kenyang. Hadis yang sangat populer dalam ceramah-ceramah Ramadhan ini ternyata bukan hadis. Dalam kitab al-Rahmah fi al-Thibb wa al-Hikmah karya Imam al-Suyuthi disebutkan, ungkapan tersebut adalah perkataan seorang dokter dari Sudan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kisahnya begini, ada empat orang dokter ahli berkumpul di istana Kisra Persia. Kisra adalah sebutan untuk raja-raja imperium Persia. Empat dokter ini masing-masing berasal dari Irak, Romawi, India, dan Sudan. Di antara keempat dokter ini yang paling cerdas adalah dokter dari Sudan. Kepada keempat dokter ini, Kisra minta resep atau obat- obatan yang paling manjur dan tidak membawa efek sampingan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dokter dari Irak mengatakan, obat yang tidak membawa efek sampingan adalah minum air hangat tiga teguk setiap pagi ketika bangun tidur. Dokter dari Romawi mengatakan, obat yang tidak membawa akibat sampingan adalah menelan biji rasyad (sejenis sayuran) setiap hari. Sedangkan dokter yang dari India mengatakan, obat yang tidak membawa akibat sampingan adalah memakan tiga biji ihlilaj yang hitam tiap hari. Ihlilaj adalah sejenis gandum yang tumbuh di India, Afghanistan, dan Cina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika tiba giliran dokter dari Sudan berbicara, dia diam saja. Kisra bertanya, ”Mengapa kamu diam saja?” Ia menjawab, ”Wahai Tuanku, air hangat itu dapat menghilangkan lemak ginjal dan menurunkan lambung. Biji rasyad dapat membikin kering jaringan tubuh. Sekarang ihlilaj juga dapat membikin kering jaringan tubuh yang lain.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;”Kalau begitu menurut kamu, obat apa yang tidak mengandung akibat sampingan?” tanya Kisra kepadanya. Dokter dari Sudan itu menjawab, ”Wahai Tuanku, obat yang tidak mengandung akibat sampingan adalah Anda tidak makan kecuali sesudah lapar. Dan apabila Anda makan, angkatlah tangan Anda sebelum Anda merasa kenyang. Apabila hal itu Anda lakukan, maka Anda tidak akan terkena penyakit kecuali penyakit mati.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mendengar jawaban itu, dokter-dokter lain membenarkannya. Demikian penuturan Imam al-Suyuthi. Oleh karena itu, apabila ungkapan tersebut diklaim berasal dari Nabi SAW, maka ia menjadi hadis palsu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;3. Ramadhan setahun penuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Teks hadis ini adalah: Seandainya umatku mengetahui pahala ibadah pada bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar setahun penuh menjadi Ramadhan semua. Hadis tersebut merupakan penggalan dari hadis yang sangat panjang yang diriwayatkan Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Ya’la, Imam al-Baihaqi, dan Imam al-Najjar, kemudian dinukil oleh Imam al-Mundziri dalam kitabnya al-Targhib wa al-Tarhib.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis itu di dalam sanadnya terdapat rawi bernama Jarir bin Ayyub al-Bajali. Para ulama kritikus hadis menilai al-Bajali sebagai pemalsu hadis. Maka dengan demikian, hadis ini masuk dalam kategori hadis maudhu (palsu) atau minimal matruk (semi palsu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;4.Tidurnya orang berpuasa ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Teks hadis ini adalah: Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan (pahalanya), doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis ini diriwayatkan Imam al-Baihaqi dari Abdullah bin Aufa al- Aslami. Di dalam sanadnya terdapat rawi-rawi yang lemah. Dan yang paling parah kelemahannya adalah rawi yang bernama Sulaiman bin Umar al-Nakha’i yang menurut al-Hafizh al-Iraqi ia adalah seorang pendusta. Karenanya, hadis tersebut nilainya maudhu (palsu) atau sekurang-kurangnya matruk (semi palsu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis ini sangat berpengaruh bagi perilaku orang-orang berpuasa, sehingga mereka pada siang hari malas beraktifitas dan memilih tidur karena menganggap tidurnya suatu ibadah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;5. Shalat tarawih delapan rakaat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Teks hadis ini: Rasulullah SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan sebanyak delapan rakaat dan witir. Hadis ini diriwayatkan Ja’far bin Humaid sebagaimana dikutip kembali lengkap dengan sanadnya oleh al- Dzahabi dalam kitabnya Mizan al-I’tidal dan Imam Ibn Hibban dalam kitabnya Shahih Ibn Hibban dari Jabir bin Abdullah. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ‘Isa bin Jariyah yang menurut Imam Ibnu Ma’in, adalah munkar al-Hadis (Hadis-hadisnya munkar). Sedangkan menurut Imam al-Nasa’i, ‘Isa bin Jariyah adalah matruk (pendusta). Karenanya, hadis shalat tarawih delapan rakaat adalah hadis matruk (semi palsu) lantaran rawinya pendusta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;6. Shalat tarawih 20 rakaat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Teks hadis ini adalah dari Ibn Abbas, ia berkata: Nabi SAW melakukan shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan witir. Hadis ini diriwayatkan Imam al-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman yang menurut Imam al-Tirmidzi, hadis-hadisnya adalah munkar. Imam al-Nasa’i mengatakan hadis-hadis Abu Syaibah adalah matruk. Imam Syu’bah mengatakan Ibrahim bin Utsman adalah pendusta. Oleh karenanya hadis shalat tarawih dua puluh rakaat ini nilainya maudhu (palsu) atau minimal matruk (semi palsu).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Namun, perlu diketahui, hal itu bukan berarti shalat delapan rakaat atau dua puluh rakaat itu tidak boleh. Sebab yang dibahas di sini adalah bahwa hadis shalat tarawih delapan rakaat dan hadis tarawih dua puluh rakaat itu kedua-duanya maudhu atau minimal matruk. Jadi shalat tarawih dengan delapan rakaat atau dua puluh rakaat, kedua- duanya boleh dilakukan karena tidak ada keterangan yang konkret tentang jumlah rakaat shalat tarawih Nabi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Keterangan yang shahih, Nabi Saw tidak membatasi jumlah rakaat shalat tarawih (Qiyam al-Lail). Misalnya hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah r.a dimana Nabi mengatakan, ”Siapa yang shalat pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah, maka allah akan mengampuni dosanya (yang kecil-kecil).”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dan khusus bagi yang menjalankan shalat tarawih dua puluh rakaat, ada dalil tambahan, yaitu ijma (konsensus) para sahabat Nabi SAW, di mana pada masa Khalifah Umar bin al-Khattab, Ubay bin Ka’ab menjadi imam shalat tarawih dua puluh rakaat, dan tidak ada satu pun dari sahabat Nabi yang memprotes hal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;7. Ramadhan tergantung zakat fitrah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Teks hadis ini berbunyi: (Ibadah) bulan Ramadhan digantungkan antara langit dan bumi dan tidak diangkat kepada Allah kecuali dengan zakat fitrah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Asakir dan ditulis pula oleh Imam Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Wahiyat. Menurut Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, di dalam sanad Hadis ini terdapat rawi yang majhul (tidak dikenal identitasnya) dan matannya juga bermasalah. Sebab seandainya hadis ini shahih, maka itu berarti ibadah seseorang pada bulan Ramadhan tidak akan diterima oleh Allah sebelum yang bersangkutan mengeluarkan zakat fitrah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Padahal tidak ada satu pun ulama yang mengatakan tentang hal itu. Karena zakat fitrah dan ibadah bulan Ramadhan, masing-masing berdiri sendiri tidak seperti wudhu dan shalat yang merupakan keterkaitan antara syarat dan masyrut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Lagi pula zakat fitrah itu bila dibanding dengan ibadah bulan Ramadhan (puasa, tarawih, i’tikaf, membaca Alquran, shadaqah, memberi makanan untuk berbuka puasa, dan lain-lain), maka zakat fitrah terlalu kecil. Tampaknya tidak logis jika amanlan ibadah yang sekian besarnya tergantung pada ibadah yang sangat kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Selanjutnya, setelah diketahui bahwa hadis-hadis tersebut adalah bermasalah karena nilainya palsu atau semi palsu, maka hadis itu harus dikubur dalam-dalam dan tidak boleh dimunculkan atau disebarluaskan kecuali dalam rangka untuk menjelaskan kepalsuan hadis-hadis tersebut seperti yang dimaksud oleh tulisan ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&amp;amp;id=105632&amp;amp;kat_id=105&amp;amp;kat_id1=147&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Jumat, 29 Nopember 2002&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;PROF ALI MUSTAFA YAQUB MA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;- Guru Besar Ilmu Hadis IIQ Jakarta&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-6595217895330646815?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/6595217895330646815/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/hadist-hadist-palsu-di-bulan-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6595217895330646815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6595217895330646815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/hadist-hadist-palsu-di-bulan-ramadhan.html' title='Hadist-hadist palsu di Bulan Ramadhan'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-3198337659659379465</id><published>2009-08-22T10:57:00.000+07:00</published><updated>2009-08-22T11:00:04.106+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Persoalan Seputar Madzhab</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh M. Shiddiq Al-Jawi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(source : http://hizbut-tahrir.or.id/2008/07/03/persoalan-seputar-mazhab-oleh-m-shiddiq-al-jawi/)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengantar Redaksi:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam sering menghadapi beberapa persoalan dan pertanyaan di seputar mazhab (fikih), misalnya: bagaimana sejarah lahirnya mazhab; apakah bermazhab itu dibolehkan atau tidak; bagaimanakah bermazhab secara benar; apakah Hizbut Tahrir suatu mazhab atau bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bertujuan menjawab beberapa persoalan seputar mazhab tersebut. Maka dari itu, di sini akan ditelaah kitab Asy-Syakhshiyah Al-Islâmiyyah Jilid I karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994) serta beberapa referensi lain yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Mazhab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazhab menurut bahasa Arab adalah isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I‘ânah ath-Thalibin, I/12). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya, “tempat pergi”, yaitu jalan (ath-tharîq) (Abdullah, 1995: 197; Nahrawi, 1994: 208).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut istilah ushul fiqih, mazhab adalah kumpulan pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawâ’id) dan landasan (ushûl) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh (Nahrawi, 1994: 208; Abdullah, 1995: 197). Menurut Muhammad Husain Abdullah (1995:197), istilah mazhab mencakup dua hal: (1) sekumpulan hukum-hukum Islam yang digali seorang imam mujtahid; (2) ushul fikih yang menjadi jalan (tharîq) yang ditempuh mujtahid itu untuk menggali hukum-hukum Islam dari dalil-dalilnya yang rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kendatipun mazhab itu manifestasinya berupa hukum-hukum syariat (fikih), harus dipahami bahwa mazhab itu sesungguhnya juga mencakup ushul fikih yang menjadi metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) untuk melahirkan hukum-hukum tersebut. Artinya, jika kita mengatakan mazhab Syafi’i, itu artinya adalah, fikih dan ushul fikih menurut Imam Syafi’i. (Nahrawi, 1994: 208). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dua unsur mazhab ini dengan berkata, “Setiap mazhab dari berbagai mazhab yang ada mempunyai metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) dan pendapat tertentu dalam hukum-hukum syariat.” (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/395).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya Mazhab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai mazhab fikih lahir pada masa keemasan fikih, yaitu dari abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-4 H dalam rentang waktu 250 tahun di bawah Khilafah Abbasiyah yang berkuasa sejak tahun 132 H (Al-Hashari, 1991: 209; Khallaf, 1985:46; Mahmashani, 1981: 35). Pada masa ini, tercatat telah lahir paling tidak 13 mazhab fikih (di kalangan Sunni) dengan para imamnya masing-masing, yaitu: Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H), Abu Hanifah (w. 150 H), al-Auza’i (w. 157 H), Sufyan ats-Tsauri (w. 160 H), al-Laits bin Sa’ad (w. 175 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Sufyan bin Uyainah (w. 198 H), asy-Syafi’i (w. 204 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), Dawud azh-Zhahiri (w. 270 H), Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), Abu Tsaur (w. 240 H), dan Ibn Jarir ath-Thabari (w. 310 H) (Lihat: al-’Alwani, 1987: 88; as-Sayis, 1997: 146). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mazhab-mazhab itu lahir di tengah masyarakat dalam kurun sejarah saat itu? Seperti dijelaskan Nahrawi (1994: 164-168), terdapat berbagai faktor dalam masyarakat yang mendorong aktivitas keilmuan yang pada akhirnya melahirkan berbagai mazhab fikih, antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kestabilan politik dan kesejahteraan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kesungguhan para ulama dan fukaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, perhatian para khalifah terhadap fikih dan fukaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, pembukuan ilmu-ilmu (tadwîn al-‘ulûm). Pada masa ini telah dilakukan pembukuan berbagai cabang ilmu seperti hadis, fikih, dan tafsir yang memudahkan tersedianya rujukan untuk mengembangkan ilmu fikih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, adanya berbagai perdebatan dan diskusi (munâzharât) di antara ulama. Ini merupakan faktor terbesar yang merangsang perkembangan ilmu fikih (Nahrawi, 1994: 164-168. Lihat juga: Al-Hudhari Bik, 1981: 174-182; Khallaf, 1985: 46-48; Al-Hashari, 1991: 209-213).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbentuknya Mazhab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana terbentuknya mazhab-mazhab itu sendiri? Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994: 386), berbagai mazhab itu terbentuk karena adanya perbedaan (ikhtilâf) dalam masalah ushûl maupun furû‘ sebagai dampak adanya berbagai diskusi (munâzharât) di kalangan ulama. Ushul terkait dengan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth), sedangkan furû‘ terkait dengan hukum-hukum syariat yang digali berdasarkan metode istinbâth tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh An-Nabhani menerangkan bagaimana dapat terjadi perbedaan metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) hukum tersebut. Ini disebabkan adanya perbedaan dalam 3 (tiga) hal, yaitu: (1) perbedaan dalam sumber hukum (mashdar al-ahkâm); (2) perbedaan dalam cara memahami nash; (3) perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash (An-Nabhani, 1994: 387-392). Penjelasannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perbedaan sumber hukum, hal itu terjadi karena ulama berbeda pendapat dalam 4 (empat) perkara berikut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metode mempercayai as-Sunnah serta kriteria untuk menguatkan satu riwayat atas riwayat lainnya. Para mujtahidin Irak (Abu Hanifah dan para sahabatnya), misalnya, berhujjah dengan sunnah mutawâtirah dan sunnah masyhûrah; sedangkan para mujtahidin Madinah (Malik dan sahabat-sahabatnya) berhujjah dengan sunnah yang diamalkan penduduk Madinah. (Khallaf, 1985: 57-58). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fatwa sahabat dan kedudukannya. Abu Hanifah, misalnya, mengambil fatwa sahabat dari sahabat siapa pun tanpa berpegang dengan seorang sahabat, serta tidak memperbolehkan menyimpang dari fatwa sahabat secara keseluruhan. Sebaliknya, Syafi’i memandang fatwa sahabat sebagai ijtihad individual sehingga boleh mengambilnya dan boleh pula berfatwa yang menyelisihi keseluruhannya. (Khallaf, 1985: 58-59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kehujjahan Qiyas. Sebagian mujtahidin seperti ulama Zhahiriyah mengingkari kehujahan Qiyas sebagai sumber hukum, sedangkan mujtahidin lainnya menerima Qiyas sebagai sumber hukum sesudah al-Quran, as-Sunnah, dan Ijma. (Khallaf, 1985: 59). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Subyek dan hakikat kehujjahan Ijma. Para mujtahidin berbeda pendapat mengenai subyek (pelaku) Ijma dan hakikat kehujjahannya. Sebagian memandang Ijma Sahabat sajalah yang menjadi hujjah. Yang lain berpendapat, Ijma Ahlul Bait-lah yang menjadi hujah. Yang lainnya lagi menyatakan, Ijma Ahlul Madinah saja yang menjadi hujah. Mengenai hakikat kehujjahan Ijma, sebagian menganggap Ijma menjadi hujjah karena merupakan titik temu pendapat (ijtimâ‘ ar-ra‘yi); yang lainnya menganggap hakikat kehujjahan Ijma bukan karena merupakan titik temu pendapat, tetapi karena menyingkapkan adanya dalil dari as-Sunnah. (An-Nabhani, 1994: 388-389).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perbedaan dalam cara memahami nash, sebagian mujtahidin membatasi makna nash syariat hanya pada yang tersurat dalam nash saja. Mereka disebut Ahl al-Hadîts (fukaha Hijaz). Sebagian mujtahidin lainnya tidak membatasi maknanya pada nash yang tersurat, tetapi memberikan makna tambahan yang dapat dipahami akal (ma‘qûl). Mereka disebut Ahl ar-Ra‘yi (fukaha Irak). Dalam masalah zakat fitrah, misalnya, para fukaha Hijaz berpegang dengan lahiriah nash, yakni mewajibkan satu sha’ makanan secara tertentu dan tidak membolehkan menggantinya dengan harganya. Sebaliknya, fukaha Irak menganggap yang menjadi tujuan adalah memberikan kecukupan kepada kaum fakir (ighnâ’ al-faqîr), sehingga mereka membolehkan berzakat fitrah dengan harganya, yang senilai satu sha‘ (1 sha‘= 2,176 kg takaran gandum). (Khallaf, 1985: 61; Az-Zuhaili, 1996: 909-911). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perbedaan dalam sebagian kaidah kebahasaan untuk memahami nash, hal ini terpulang pada perbedaan dalam memahami cara pengungkapan makna dalam bahasa Arab (uslûb al-lughah al-‘arabiyah). Sebagian ulama, misalnya, menganggap bahwa nash itu dapat dipahami menurut manthûq (ungkapan eksplisit)-nya dan juga menurut mafhûm mukhâlafah (pengertian implisit yang berkebalikan dari makna eksplisit)-nya. Sebagian ulama lainnya hanya berpegang pada makna manthûq dari nash dan menolak mengambil mafhûm mukhâlafah dari nash. (Khallaf, 1985: 64). &lt;br /&gt;Tentang Bermazhab&lt;br /&gt;Bolehkan kita bertaklid (mengikuti) mazhab tertentu? Menjawab pertanyaan ini, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani (1994:232) menyatakan, sesungguhnya Allah Swt. tidak memerintahkan kita mengikuti seorang mujtahid, seorang imam, ataupun suatu mazhab. Yang diperintahkan Allah Swt. kepada kita adalah mengikuti hukum syariat dan mengamalkannya. Itu berarti, kita tidak diperintahkan kecuali mengambil apa saja yang dibawa Rasulullah saw. kepada kita dan meninggalkan apa saja yang dilarangnya atas kita. (QS al-Hasyr [59]: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, An-Nabhani menandaskan, secara syar‘î kita tidak dibenarkan kecuali mengikuti hukum-hukum Allah; tidak dibenarkan kita mengikuti pribadi-pribadi tertentu. (An-Nabhani, 1994: 232).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, fakta menunjukkan, tidak semua orang mempunyai kemampuan menggali hukum syariat sendiri secara langsung dari sumber-sumbernya (Al-Quran dan as-Sunnah). Mereka mengambil hukum syariat yang digali oleh orang lain, yaitu para mujtahidin. Karena itu, di tengah-tengah umat kemudian banyak yang bertaklid pada hukum-hukum yang digali oleh seorang mujtahid. Mereka pun menjadikan mujtahid itu sebagai imam mereka dan menjadikan hukum-hukum hasil ijtihadnya sebagai mazhab mereka (An-Nabhani, 1994: 232). Persoalannya, apakah bermazhab ini sesuatu yang dibenarkan syariat Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nabhani menjawab, hal itu bergantung pada persepsi umat terhadap masalah ini. Jika mereka berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah hukum-hukum syariat yang digali oleh seorang mujtahid maka bermazhab adalah sesuatu yang sahih dalam pandangan syariat Islam. Sebaliknya, jika umat berpaham bahwa yang mereka ikuti adalah pribadi mujtahid (syakhsh al-mujtahid), bukan hukum hasil ijtihad mujtahid itu, maka bermazhab seperti ini adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan syariat Islam (An-Nabhani, 1994: 232).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, para pengikut mazhab wajib memperhatikan hal ini dengan sangat seksama; sekali lagi, sangat seksama, yaitu bahwa yang mereka ikuti hanyalah hukum syariat yang digali oleh mujtahid, bukan pribadi mujtahid yang bersangkutan. Kalau seseorang bermazhab Syafi’I, misalnya, maka wajiblah dia mempunyai persepsi, bahwa yang dia ikuti bukanlah Imam Syafi’i sebagai pribadi (taqlîd asy-syaksh), melainkan hukum syariat yang digali oleh Imam Syafi’i (taqlîd al-ahkâm). Jika persepsinya tidak demikian, maka para pengikut mazhab pada Hari Kiamat kelak akan ditanya oleh Allah Azza wa Jalla, mengapa mereka meninggalkan hukum Allah dan mengikuti pribadi-pribadi yang statusnya juga sesama hamba-Nya seperti halnya para pengikut mazhab itu? (An-Nabhani, 1994: 232 &amp;amp; 394). &lt;br /&gt;Bermazhab Secara Benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengikut mazhab, di samping wajib mempunyai persepsi yang benar tentang bermazhab (seperti diuraikan sebelumnya), wajib memahami setidaknya 2 (dua) prinsip penting lainnya dalam bermazhab (Abdullah, 1995: 372), yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, wajib atas muqallid suatu mazhab untuk tidak fanatik (ta‘âshub) terhadap mazhab yang diikutinya (Ibn Humaid, 1995: 54). Tidaklah benar, ketika Syaikh Abu Hasan Abdullah al-Karkhi (w. 340 H), seorang ulama mazhab Hanafi, berkata secara fanatik, “Setiap ayat al-Quran atau hadis yang menyalahi ketetapan mazhab kita bisa ditakwilkan atau dihapus (mansûkh).” (Abdul Jalil Isa, 1982: 74). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jika terbukti mazhab yang diikutinya salah dalam suatu masalah, dan pendapat yang benar (shawâb) ada dalam mazhab lain, maka wajib baginya untuk mengikuti pendapat yang benar itu menurut dugaan kuatnya. Para imam mazhab sendiri mengajarkan agar kita tidak bersikap fanatik. Ibnu Abdil Barr meriwayatkan, bahwa Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Idzâ shaha al-hadîts fahuwa madzhabî (Jika suatu hadis/pendapat telah dipandang sahih maka itulah mazhabku).” (Al-Bayanuni, 1994: 90). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hakim dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan, bahwa Imam Syafi’i pernah mengatakan hal yang sama. Dalam satu riwayat, Imam Syafi’i juga pernah berkata, “Jika kamu melihat ucapanku menyalahi hadis, amalkanlah hadis tersebut dan lemparkanlah pendapatku ke tembok.” (Al-Dahlawi, 1989: 112). &lt;br /&gt;Kedua, sesungguhnya perbedaan pendapat (khilâfiyah) di kalangan mazhab-mazhab adalah sesuatu yang sehat dan alamiah, bukan sesuatu yang janggal atau menyimpang dari Islam, sebagaimana sangkaan sebagian pihak. Sebab, kemampuan akal manusia berbeda-beda, sebagaimana nash-nash syariat juga berpotensi memunculkan perbedaan pemahaman. Perbedaan ijtihad di kalangan sahabat telah terjadi sejak zaman Rasulullah saw. Beliau pun membenarkan hal tersebut dengan taqrîr-nya. (Abdullah, 1995: 373).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hizbut Tahrir Sebuah Mazhab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persoalan yang juga menarik adalah, apakah Hizbut Tahrir itu suatu mazhab atau bukan? Jawabnya, Hizbut Tahrir bukanlah sebuah mazhab, melainkan sebuah partai politik yang berideologi Islam. Hizbut Tahrir adalah sebuah kelompok yang berdiri di atas dasar ideologi Islam yang diyakini para anggotanya, yang diperjuangkan untuk menjadi pengatur interaksi masyarakat dalam segala aspek kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam kitab Hizbut Tahrir (1995: 22) bab Keanggotaan Hizbut Tahrir, bahwa Hizbut Tahrir adalah partai bagi seluruh kaum Muslim tanpa melihat lagi faktor kebangsaan, warna kulit, dan mazhab mereka, karena Hizbut Tahrir memandang mereka semua dengan pandangan Islam. (Lihat: Hizbut Tahrir, 1995: 22). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, jika umat Islam menaruh kepercayaan (tsiqah) kepada kualitas keilmuan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, radhiyallâhu ‘anhu, pendiri Hizbut Tahrir, maka dimungkinkan akan dapat terwujud mazhab An-Nabhani—bukan mazhab Hizbut Tahrir—pada masa mendatang. Sebab, beliau adalah mujtahid mutlak yang memiliki metode istinbâth (ushul fikih) tersendiri dan meng-istinbâth hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut. Ihsan Sammarah dalam kitabnya Mafhûm Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyah (1991: 267) berkata, “Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fukaha dan mujtahidin, namun beliau tidak mengikuti satu mazhab dari mazhab-mazhab yang telah dikenal. Sebaliknya, beliau mengadopsi ushul fikih yang khas bagi beliau dan menggali hukum-hukum syariat berdasarkan ushul fikih tersebut.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallâhu a‘lam. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah, M. Husain. 1995. Al-Wadhîh fî Ushûl sl-Fiqh. Beirut: Darul Bayariq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad-Dahlawi, Syah Waliyullah. 1989. Lahirnya Mazhab-Mazhab Fiqh (Al-Inshâf fî Bayân Asbâb al-Ikhtilâf). Terjemahan oleh Mujiyo Nurkholis. Bandung: CV Rosda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-‘Alwani, Thaha Jabir. 1987. Adâb Al-Ikhtilâf fî al-Islâm. Washington: Al-Ma’had Al-‘Alami li Al-Fikr Al-Islami (IIIT). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bakri, As-Sayyid. T.t. I‘ânah ath-Thâlibîn. Jld. I. Semarang: Maktabah wa Mathba’ah Toha Putera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bayanuni, M. Abul Fath. 1994. Studi Tentang Sebab-Sebab Perbedaan Mazhab (Dirâsât fî al-Ikhtilâfât al-Fiqhiyah). Terjemahan oleh Zaid Husein Al-Hamid. Surabaya: Mutiara Ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hashari, Ahmad. 1991. Târîkh al-Fiqh al-Islami Nasy’atuhu, Mashâdiruhu, Adwâruhu, Madârisuhu. Beirut: Darul Jil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nabhani, Taqiyuddin. 1994. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah. Jld. I. Beirut: Darul Ummah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sayis, M. Ali. 1997. Fiqih Ijtihad Pertumbuhan dan Perkembangannya (Nasy’ah al-Fiqh al-Ijtihâdi wa Athwâruhu). Terjemahan oleh M. Muzamil. Solo: CV Pustaka Mantiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Az-Zuhaili, Wahbah. 1996. Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu. Jld. II. Beirut: Darul Fikr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bik, M. Al-Hudhari. 1981. Târîkh Tasyrî‘ al-Islâmi. T.tp.: Maktabah Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Humaid, Shalih Abdullah. 1995. Adab Berselisih Pendapat (Adab al-Khilâf). Terjemahan oleh Abdul Rosyad Shiddiq. Solo: Khazanah Ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isa, Abdul Jalil. 1982. Masalah-Masalah Keagamaan Yang Tidak Boleh Diperselisihkan Antar Sesama Umat Islam (Mâ Lâ Yajûzu fîhi al-Khilâf bayna al-Muslimîn). Terjemahan oleh M. Tolchah Mansoer &amp;amp; Masyhur Amin. Bandung: PT Alma’arif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khallaf, Abdul Wahhab. 1985. Ikhtisar Sejarah Hukum Islam (Khulâshah Târîkh at-Tasyrî‘ al-Islâmî). Terjemahan oleh Zahri Hamid &amp;amp; Parto Djumeno. Yogyakarta: Dua Dimensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmashani, Subhi. 1981. Filsafat Hukum Dalam Islam (Falsafah at-Tasyrî‘ fî al-Islâm). Terjemahan oleh Ahmad Sudjono. Bandung: PT Alma’arif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahrawi, Ahmad. 1994. Al-Imâm asy-Syâfi‘i fî Mazhabayhi al-Qadîm wa al-Jadîd. Kairo: Darul Kutub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sammarah, Ihsan. 1991. Mafhûm al-’Adalah al-Ijtimâ‘yah fî al-Fikri al-Islâmî al- Mu‘âshir. Beirut: Dar An-Nahdhah Al-Islamiyah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-3198337659659379465?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/3198337659659379465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/persoalan-seputar-madzhab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/3198337659659379465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/3198337659659379465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/persoalan-seputar-madzhab.html' title='Persoalan Seputar Madzhab'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-4177085868307348977</id><published>2009-08-22T09:42:00.000+07:00</published><updated>2009-08-22T09:45:14.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Profil Panutanku - Rizal Mallarangeng</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Profil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KELUARGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal Mallarangeng lahir pada tanggal 29 Oktober 1964 di Makasar, Sulawesi Selatan. Kedua orangtuanya, baik ayah, Andi Mallarangeng maupun ibunya, Andi Asny, masih tergolong kerabat bangsawan Kerajaan Bone. Bahkan kakek buyutnya dari pihak ibu, La Temu Page Arung Labuaja, adalah seorang Panglima Perang terakhir Kerajaan Bone yang bertahan secara heroik sampai batas akhir, saat menghadapi invasi Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal kecil yang akrab dengan sapaan Celli sudah harus berpisah dari ayahnya sejak usia 7 tahun. Ayahnya, Andi Mallarangeng, adalah seorang walikota Parepare. Beliau meninggal dunia karena serangan jantung, pada bulan April 1972, hanya beberapa hari sebelum ia meletakkan jabatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi Mallarangeng adalah lulusan UGM yang sejak kecil berteman dekat dengan Rahman Tolleng, aktivis terkenal tahun 70an. Bersama Tolleng, dia mendapatkan beasiswa untuk sekolah ke Jawa. Andi Mallarangeng mengambil jurusan ilmu politik di UGM, Yogyakarta, sedangkan Tolleng mengambil jurusan Kimia di ITB, Bandung. Setelah tamat dari UGM, Andi balik ke Sulawesi dan merintis kariernya di lingkungan birokrasi Sulawesi Selatan, hingga kemudian terpilih sebagai walikota Parepare (1969-1972). Sampai kini, masyarakat Parepare mencatatnya sebagai walikota muda paling sukses di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematiannya meninggalkan duka mendalam bagi istri dan anak-anaknya. Tapi, ia mewariskan kecerdasan, determinasi, dan semangat hidup yang tinggi kepada anak-anaknya. Sepeninggal ayahnya, Rizal bersama kakaknya, Andi Alifian Mallarangeng, dan ketiga adiknya, Zulkarnain, Nina, dan Zulfikar (alm) melanjutkan hidup dalam asuhan ibu dan kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal yang berdarah Bugis menemukan jodohya di Yogyakarta. Ia menikahi gadis Jawa temannya semasa kuliah, Dewi Tjakrawati. Dewi adalah putri kedua dari lima bersaudara pasangan Marsekal Madya (Purn) Sugiantoro, dan Retnaning Winastuti. Ayah Dewi adalah seorang penerbang TNI – AU dengan jabatan terakhir adalah Gubernur AKABRI. Pasangan Rizal – Dewi dikaruniai dua orang putra, Guntur Mallarangeng dan Surya Mallarangeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang baik rupanya menjadi perhatian utama kedua orang tua Rizal pada anak-anaknya. Melewati pendidikan kanak-kanak di TK Katolik Pare-Pare, Rizal kecil kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya di SD dan SMP Frater Makasar. Dalam soal pendidikan agama, orang tua Rizal secara khusus mendatangkan guru mengaji dari Bone. Karena itu tak mengherankan kalau baik Rizal maupun kakaknya, Andi Mallarangeng sudah khatam Al-Qur’an pada saat usia mereka belum genap 10 tahun, berbarengan dengan saat disunat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dihabiskan untuk belajar dan bermain, masa kecil Rizal juga dihabiskan dengan mengikuti les main tenis. Berkat kegigihannya dalam berlatih, dia berhasil menjadi juara tenis junior pada tingkat provinsi Sulawesi Selatan. Pertama kali juara pada tahun 1977, ketika ia berusia 13 tahun. Prestasinya dalam bidang tenis ini kemudian membawanya ke Jakarta. Inilah yang menjelaskan kenapa ia bersekolah di SMA Ragunan. Sebagai juara nasional yang dipersiapkan untuk bertanding di tingkat dunia, Rizal bergabung dengan olahragawan lain di pusat pelatihan Ragunan. Di asrama Ragunan, dia tinggal sekamar dengan Suharyadi, yang kemudian menjadi suami petenis nasional Yayuk Basuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi tertinggi Rizal dalam bidang tenis adalah juara kedua tingkat Junior Asean, pada tahun 1981 di Thailand. Dia tak menyangka bahwa dia akhirnya harus mengakui keunggulan teman sekamarnya, Suharyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tamat SMA, Rizal melanjutkan studinya di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Dia masih terus berlatih tenis, tapi darah politik yang diwariskan ayahnya tampak lebih mendominasi. Dia mengambil Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Di lingkungan aktifis mahasiswa Yogyakarta, Rizal dikenal sebagai mahasiswa yang menonjol. Meski dia lebih intens dalam kegiatan kelompok study, tapi dalam suasana represif Orde Baru saat itu, tak jarang juga ikut ’turun ke jalan’ memimpin demonstrasi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bentuk komitment nyata Rizal pada kemanusiaan diwujudkannya dengan bergabung dalam misi perdamaian yang dikenal dengan sebutan human shields pada tahun 1991. Saat itu Rizal berangkat bersama sahabatnya dari UGM, Taufik Rahzen dan wartawan Kompas, Satrio Arismunandar ke perbatasan Iraq-Jordania guna mencegah terjadinya Perang Teluk I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal berhasil lulus dari FISIP-UGM dengan nilai yang sangat memuaskan. Prestasinya di UGM mengantarkannya meraih beasiswa Fulbright untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Dia memilih Ohio State University (OSU), salah satu universitas terbaik di AS dalam bidang comparative politics. Di universitas ini ada Profesor William Liddle, ahli Indonesia ternama, yang kemudian menjadi pembimbing dan sekaligus mentornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. KARIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas menyesaikan pendidikan sarjananya Rizal mengawali kariernya sebagai asisten dosen di Jurusan Komunikasi FISIP UGM. Sambil mengajar di almamaternya Rizal juga menjadi Redaktur di Harian Bernas Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum akhirnya menyelesaikan program doktoralnya di Ohio State University, Rizal juga sempat menjadi asisten dosen di kampus tersebut. Selanjutnya setelah lulus, ia menjadi dosen tetap di jurusan ilmu politik OSU, sebuah prestasi yang jarang didapatkan oleh mahasiswa asing di universitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal mengajar di OSU selama dua tahun. Karena merasa jenuh dan ingin mendapatkan tantangan baru, dia meninggalkan posisinya yang sangat nyaman itu. Dia kembali ke Indonesia, berjudi dengan keadaan yang tak pasti. Dia memulai karirnya di Indonesia sebagai peneliti di CSIS. Tapi Rizal tak lama di sana, karena tantangan yang lebih besar kemudian datang kepadanya. Dia ditawari memimpin sebuah lembaga think tank, yang mirip dengan CSIS. Lalu, berdirilah Freedom Institute, di mana dia berperan menjadi Direktur Eksekutifnya, sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freedom Institute adalah basis di mana Rizal kemudian secara lebih leluasa dapat mengekspresikan ide, mengeksplorasi gagasan, dan menerapkan pemikirannya. Di lembaga inilah Rizal memerankan dirinya, bukan hanya sebagai intelektual, tapi sebagai seorang ahli politik yang berusaha menerapkan ilmunya. Pada 2001, Rizal menjadi penasehat dan sekaligus penulis pidato Megawati. Ketika pemerintahan berganti, Rizal menjadi tim ahli Menteri Koordinator Bidan Perekonomian dan kemudian tim khusus Menko Kesra, sambil terus menjaga hubungan baik dengan Megawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiawaian Rizal dalam berunding tak diragukan lagi. Dia pernah memimpin organisasi dan menjalankan tugas yang rumit. Di bawah kementrian Menko Kesra, dia pernah memimpin proyek sosial dengan skala besar dan perundingan rumit menyangkut nama baik negara. Proses perdamaian di Poso, jaringan pesantren di Ponorogo, dan penanggulangan kelaparan di Yahukimo adalah beberapa contoh keberhasilan Rizal. Perundingan Blok Cepu dan konferensi Perubahan Iklim di Bali adalah contoh keberhasilannya yang lain dalam menjalankan negosiasi tingkat internasional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-4177085868307348977?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/4177085868307348977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/profil-panutanku-rizal-mallarangeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4177085868307348977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4177085868307348977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/profil-panutanku-rizal-mallarangeng.html' title='Profil Panutanku - Rizal Mallarangeng'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-7164769639238849672</id><published>2009-08-21T14:25:00.000+07:00</published><updated>2009-08-21T14:26:36.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>TAHLILAN DALAM TIMBANGAN ISLAM</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255); font-family: arial;" class="post-title entry-title"&gt; &lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur’an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Semoga Allah subhanahu wata’ala mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255); font-family: arial;"&gt;Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.&lt;br /&gt;Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.&lt;br /&gt;Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.&lt;br /&gt;Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: “wajib”) untuk dikerjakan dan sebaliknya, bid’ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.&lt;br /&gt;Para pembaca, pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan, namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.&lt;br /&gt;Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (artinya):&lt;br /&gt;“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)&lt;br /&gt;Historis Upacara Tahlilan&lt;br /&gt;Para pembaca, kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?&lt;br /&gt;Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.&lt;br /&gt;Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.&lt;br /&gt;Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam&lt;br /&gt;Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:&lt;br /&gt;Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.&lt;br /&gt;Kedua: Penyajian hidangan makanan.&lt;br /&gt;Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.&lt;br /&gt;Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.&lt;br /&gt;1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.&lt;br /&gt;Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan?&lt;br /&gt;Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)&lt;br /&gt;Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ&lt;br /&gt;“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)&lt;br /&gt;Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)&lt;br /&gt;Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):&lt;br /&gt;“Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)&lt;br /&gt;Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)&lt;br /&gt;Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ&lt;br /&gt;“Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)&lt;br /&gt;Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:&lt;br /&gt;فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ&lt;br /&gt;“Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”&lt;br /&gt;Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:&lt;br /&gt;مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ&lt;br /&gt;“Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.&lt;br /&gt;Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):&lt;br /&gt;“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).&lt;br /&gt;2. Penyajian hidangan makanan.&lt;br /&gt;Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)&lt;br /&gt;Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)&lt;br /&gt;Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).&lt;br /&gt;Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?&lt;br /&gt;Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:&lt;br /&gt;اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ&lt;br /&gt;“Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)&lt;br /&gt;Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU PELAKSANAAN TAHLILAN&lt;br /&gt;Tahlilan atau upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal, biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai dengan hari ke-tujuh, selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, ke-satu tahun pertama, kedua, ketiga dst. Dan ada juga yang melakukan pada hari ke-1000. Dalam upacara dihari-hari tersebut, keluarga si mayyit mengundang orang untuk membaca beberapa ayat dan surat Al-Quran, tahlil, tasbih, tahmid, shalawat dan do'a. Pahala bacaan Al-Quran dan dzikir tersebut dihadiahkan kepada si mayyit.&lt;br /&gt;Menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebut diadopsi oleh para da'i terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme, agama Budha dan Hindu. Menurut kepercayaan Animisme, Hinduisme dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul-kumpul dan mengadakan upacara-upacara sesaji, seperti membakar kemenyan, dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk (sumerup) ke dalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mati. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan-kawan atau masyarakat tidak tidur, membaca mantera-mantera atau sekedar kumpul-kumpul. Hal semacam itu dilakukan pada malam pertama kemtian, selanjutnya malam ketiga, ketujuh, ke-100, satu tahun, dua tahun dan malam ke-1000.&lt;br /&gt;Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam, mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. Sebagai langkah awal, para da'i terdahulu tidak memberantasnya, tetapi mengalihkan dari upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk-pauk untuk shodaqoh. Mantera-mantera digantika dengan dzikir, do'a dan bacaan-bacaan Al-Quran. Upacara semacam ini kemudian dianamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majelis muthala’ah dewan asatidzah tahdzibul washiyyah&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;Mohon penjelasan dari redaksi al-qudwah tentang latar belakang adanya upacara dan acara tahlilan.&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;Adanya perjamuan tahlilan ini diakibatkan oleh pemutar balikan informasi, masyarakat dengan yakin menganggap bahwa hal tersebut merupakan bagian dan sunnah nabi. Padahal, jika ditelusuri asal-usulnya dan dalil yang mendasarinya, tidaklah demikian.&lt;br /&gt;Pengertian tahlilan&lt;br /&gt;Tahlil secara bahasa adalah bacaan kalimat thayyibah (laa illa ha ilallah) namun kemudian kalimat tahlil menjadi sebuah istilah untuk rangkaian acara dan upacara ritual memperingati hari kematian yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Berupa bacaan beberapa dzikir, al-qur’an dan doa tertentu yang dibacakan untuk mendoakan orang yang sudah mati. Dari sekian materi yang bacaanya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang, maka acara tersebut biasa dikenal dengan istilah tahlilan.&lt;br /&gt;Tahlilan biasanya dilakukan pada hari pertama sampai dengan hari ketujuh, selanjutnya dilakukan padahari ke 40,100,1 tahun pertama kedua dan ketiga dan seterusnya.&lt;br /&gt;Dan ada juga yang melakukannya padahari ke-1000.dalam upacara di hari-hari tersebut, keluarga si mayit mengundang orang untuk membaca beberapa ayat dan surat al-quran,tahlil, tasbih, tahmid, shalawat dan doa. Pahala bacaan a-quran dan dzikir tersebut dihadiahkan pada si mayit.&lt;br /&gt;Sejarah tahlilan&lt;br /&gt;Menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebu berasal dariupacara kepercayaan animism, agama budha dan hindu.&lt;br /&gt;Menurut kepercayaan animisme,hinduisme dan budhisme bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang kerumah padamalam hari mengunjungikeluarganya.jika dalam rumah taditidak ada orang ramai yang berkumpul-kumpul dan mengadakan upacara-upacara sesaji,seperti membakar kemenyan, dan sesajiterhadap yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, mka ruh orang mati tadi akan marahdan masuk menyurup kedalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga simati.Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan-kawan atau masyarakat tidak tidur, membaca mantera-mantera atausekedar kumpul-kumpul. Hal semacam itudiakukan padamalampertama kematian, selanjutnya malam ketiga,ketujuh, 100, 1 tahun, 2tahun, malam ke 1000.&lt;br /&gt;Adapun acara dan upacara itu kemudian menjadi tradisi dalammasyarakat Indonesia,maka hal itu tidak terlepas dari sejarah masuknya Islam pada abad ke-17. Dan lebih spesifik lagi adanya tradisi tersebut tidak terlepas dari proses Islamisasi masyarakat jawa oleh para wali/sunan. Strategi para sunan untuk menyebarkan agama Islammenggunakan cara-cara yang halus dengan tujuan agar proses Islamisasi tidak menyakiti orang Jawa sehingga kepercayaan tersebut dirubah sedikit demi sedikit,salah satunya adalah melalui pendekatan tradisi.&lt;br /&gt;Pada waktu walisanga tidak menentang tradisi Hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat,namun membiarkan tradisi itu berjalan hanya saja isinya diganti dengan nilai-nilai Islam,tradisi dulu bila ada orang mati maka sanak family dan tetangga berkumpul di rumah duka yang dilakukan bukannya mendoakan simati malah bergadang dan bermain judi atau mabuk-mabukan.&lt;br /&gt;Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam,mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. WaliSanga tidak sertamerta membubarkan tradisi tersebut,masyarakat dibiarkan tetapberkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit,sedangkan bentuk upacaranya dialikan dari upacara yang bersifat hindu dan budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam.Sesajidigantidengan nasi dan lauk-pauk untuk shodaqoh.Mantera-mantera digantikan dengan dzikir, doa dan bacaan-bacaan Alquran.&lt;br /&gt;Pada perkembangan berikutnya tradisi seperti itu dilestarikan olehpara kyiai dari Nahdhatul Ulama (NU). Karena dakwah NU pada awalnya menggunakan pendekatan seperti yang dilakukan walisanga,yakni dalam merekrut pengikut menggunakan pendekatan tradisi.&lt;br /&gt;Sedangkan acara dan upacara seperti itu berakar di masyarakat Islam Sunda tidakterlepas dari proses Islamisasi di tatar Sunda yang selain dibentuk melalui media seni yang digemari masyarakat. Ketika ulama masih sangata jarang kitab suci masih barang langka dan kehidupan masih diwarnai unsur mistis,penyampaian ajaran Islam yang dianggap lebih tepat padawaktu itu adalaha melalui media seni dalam upacara-upacara tradisi, seperti upacara tujuh bulanan, upacara kelahiran, kematian, hingga perkawinan yang semula berawal daritradisi lama diwarnai budaya Islam dengan pembacaan barzanji, marhabaan, salawat, dan tahlil.&lt;br /&gt;Makan-makan di rumah orang kematian.&lt;br /&gt;Soal : Apakah perkataan yang saya bacakan ini, hadis nabi atau tidak? Dan bagaimanakah sanadnya? Adakah shah? Dan apa maksudnya?&lt;br /&gt;“adalah kami menganggap,bahwa bekumpul di rumah mayit dan mereka membuat makanan sesudah ditanam mayit itu,setengah daripada meratap(ratapan atas mayit itu adalah menangis dengan menyebut-nyebut kebaikan si mati)”&lt;br /&gt;Jawab : adapun perkataan itu,diriwayatkan oleh ahmad dariJabir Bin Abdullah Al-Badali,dan sanad dari riwayat itu shahih.&lt;br /&gt;Perkataan itu bukan hadis,hanya menunjukan bagaimana tanggapan sahabatdan tabi’in tentang hal itu. Maksud perkataan ini bahwa berkumpul-kumpul di rumah ahlimayit dan mereaka membuat makanan untuk orang yang dating it, oleh sahabat dan tabi’in dianggap meratap.&lt;br /&gt;Alhasil bikin kenduriyang dikatakan olehorang sebelah sini,malamdua,malam tiga, tujuh, seratus haridll.Adalah termasuk dalam ratapan yang diharamkan oleh Nabi sendiri,dan diriwayatkan&lt;br /&gt;“Berkata ‘Abdullah bin Ja’far : tatkala datanh kabar,bahwa ja’far tlah terbunuh,berkata Nabi SAW : bikinlah makanan untuk ahli rumah ja’far, karena sesungguhnya telah dating kepada mereka itu, satu perkara yang menduka citakan mereka. (H.S.R Syafi’I dan Ahmad)”&lt;br /&gt;Maksudnya hadis ini, bahwa tatkala datang kabar kematian ja’far, maka Nabi menyuruh supaya orang lain membuat makanan untuk ahli rumah ja’far, bukanlah ahli mayit itu, yang akan memberi makanan-makanan buat orang-orang yang datang.&lt;br /&gt;Soal : Bagaimanakah hukum bertahlil, dan selamatan di rumah ahli mayit pada tiga harinya dan seterusnya?&lt;br /&gt;Jawab : bertahlil itu maksidnya disini adalah membaca la ilaha ilallah, bacaan itu baik sekali,tetapi tidak selamanya barang baik itu manjadi baik selama dikerjakanya bukan pada tempatnya.&lt;br /&gt;Sembahyang itu baik, tetapi jikalau dikerjakan bukan pada masanya yang tertentu maka menjadi tidak baik. Adapun bertahlil di rumah orang kematian itu Nabi kita SAW dan sahabatnya tidak pernah menjalankannya atai memerintah supaya mengerjakannya.&lt;br /&gt;Hal ini tidak ada khilafnya di antara ulama-ulama ahlufiqh yang mahsyur, terlebih-lebih imam yang empat.Maka keterangan ini menunjukan bahwa berdzikir dengan cara tersebut adalah bid’ah belaka. Mengerjakan selamatan sebagaimana yang biasa dilakukan di Inonesia hukumnya bid’ah,dan bid’ah tersebut seringkali mencelakakan orang –orang yang tidak mampu yang terkadang menjual barang-barangnya ataumenggadaikan atau meminjam uang gna mngadakan selamatan,sehingga hal ini merea bias menjadi tambah susah dan miskin.&lt;br /&gt;Sesungguhnya menurut fikiran yang waras,bahwa orang susah itu tidak boleh dibikin tambah kesusahannya, tetapi harus diberi kesenangann yang bisa menghilangkan kesusahannya. Lantaran itu Nabi SAW menruruh supaya ahlumayit itu diberi makanan yang cukup.&lt;br /&gt;“telah berkata ‘Abdullah bin ja’far : padakeike tersiar kabar terbunuhnya ja’far,bersabda Nabi SAW . hendaklah kamu bikinkan makanan untuk ahli rumah ja’far lantaran mereka itu telah kedatangan perkara yang menyusahkan mereka.” (H.S.R Ahmad, Abu Dawud, Turmudzie, Ibnu Majah, Syafi’ie dan thabarani)&lt;br /&gt;Hadis ini menunjukan bahwa menurut sunah hendaklan ahlumayititu diberi makanan . bukan merekan yang mmberi makanan sebagaimana keadaan yang berlaku sekarang ini. Adapun orang-orang bersama makan dirumahnya ahlumayit, hukumnya sebagaimana yang tersebut dibawah ini:&lt;br /&gt;“Telah berkata Jarier bin Abdullah Al-Bajli: Adalah kita (sekalian sahabat) menganggap, bahwa berkumpul dirumah ahlumayit, dan membuat makanan sesudah ditanam mayit itu masuk bilangan meratap.” (H.S.R Ahmaddan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;“ telah diriwayatkan, bahwa jarier pernah dating kepada Umar, lalu Umar bertanya :Adakah diratapkan atas mayit di kaum kamu? Menjawab Dia : Tidak! Lalu bertanya pula: Adakah orag-orang berkumpul dirumah ahlumayit dan membuat makanan? Menjawab Dia : Ya! Maka Umar berkata : Yang demikian itu ratapan.&lt;br /&gt;Teah terbukti dai dua riwayat ini,bahwa sekalian sahabat telah mufakat dan melarang orang-orang bekumpul dan makan-makan di rumah ahlumayit,keadaan yang demikian itu dinamakan ratapan,sedang meratap itu hukumnya haram.&lt;br /&gt;Soal: Seorang yang telah mati, kemudian kita mengucapkan atau menghadiahkan bacaan Al-Quran atau tahlil kepadanya, apakah sampai pahalanya itu kepadanya?&lt;br /&gt;Jawab: Menurut ayat-ayatAl-quran,bahwa paha quran atau tahlil atau lain-lain amalan yang dibuat orang yang hidup untuk orang mati itu, tidak sampai kepada simati.&lt;br /&gt;Dengarlah sabda Nabi SAW :&lt;br /&gt;“Apablia anak Adam itu mati,maka putuslah amalannya, kcuali tiga perkara.Pertama shodaqoh jariah (waqaf), ilmuyang orang ambil manfaat darinya,ketiga anak yang shalih yang mendoakan dia” (H.S.R Abu Dawud)&lt;br /&gt;Maksud hadis itu bahwa amalan simati tidak akan bertambah,kecuali dengan tiga yang dsebut itu,dan yang disebutkan itu adalah usaha sendiri padawaktuhidupnya.&lt;br /&gt;Dan firman Allah :&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya manusia tidak akan dapat (ganjaran) melainkann dari apa yang ia kerjakan sendiri” (Q.S An-Najm:39)&lt;br /&gt;“maka pada hari qiamat ini,tidaklah seseorang kakan dianiaya sedikitpun, dan tidak dibalas kamu,kecuali apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S Yasin : 54)&lt;br /&gt;Maksud ayat ini,menyatakan dengan terang, bahwa hari kiamat itu tidaklah seseorang akan dianiaya dn manusia itu tidaklah akan dapat ganjaran,melainkan dari apa yang ia usahakan di dunia ini. Usaha orang lain seperti bacaqur’an,Tahlield sb itu.tidaklah si mati tidak akan dapat pahalanya,lagipula kalau sampai pahala al-quran atau tahlil itu kepada simati, tentulah akan dikerjakan oleh Nabi SAW atau oleh sahabat-sahabatnya dan tentulah diriwayatkan dari padanya, padahal satu patah kalimatpun tidak menunjukan kepada yang demikian itu&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;- &lt;!--[endif]--&gt;Kalau pahala boleh dihadiahkan, mengapa tidak di hadiahkan pahala kepada sihidup&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;- &lt;!--[endif]--&gt;Imam Syafi’ie sendiri berkata : “Pahala bacaan tidak sampai kepada simati”&lt;br /&gt;Adapun juga meriwayatkan hadis-hadis tentang anak menghajikan orang tuanya dan juga tentang ornag hidup bersedekah untuk orang yang mati,tetapi oleh sebab berlawanan dengan ayat-ayat alquran yang begitu kuat dan tegas,maka takdapatlah kita katakana hadis-hadis itu shahih.&lt;br /&gt;Soal : di soal jawab yang lalu tuan-tuan membicarakan tentang tahlil da tuan-tuan katakan tidak berfaidah.Ditempat kami ada orang alim membolehkan,dengan mengeluarkan hadis,haraptuan terangkan lebih jauh.&lt;br /&gt;Jawab: Persoalan ini kami sudah menerangkan beberapa kali di beberapa tempat.&lt;br /&gt;Tahlil yang biasa dikerjakan orang disini ialah kalau ada kematian,maka sesudah mereka bekumpul ramai-ramai lalu tuan syekh tahlil mulai bertahlil dan diturut oleh orang ramai.setelah habis tahlil lalu berdoa dengan bahasa arab yang kebanyakan tukang doanya tidak mengrti artinya,lalu ada sebagian dari mereka menghadiahkan pahala bacaannya itu kepada si mayit.&lt;br /&gt;Sesudah itu,terus makan-makan lalu pulang dan dapat upah terkadang. Begitulah dikerjakan sampai 3, 7, atau 40 hari. Sebelum menetapkan hukum-hukumnya, baik kita mmbuat pertanyaan dahulu supaya terang.&lt;br /&gt;Di satu rumah,kalau ada keatian, apakah yang diperintahkan oleh agama kepada ahli rumah?&lt;br /&gt;Adakah agama memerintahkan bertahlil untuk orang mati dan makan-makan dirumah orang itu?&lt;br /&gt;Dapatkah pahala orang yang mengerjakan tahlil?&lt;br /&gt;Kalau orang yan mengerjakan tahlil dapat pahala,dapatlah pahalanya itu hadiah kepada simati?&lt;br /&gt;Jawaban 1 : di bsatu rumah,kalau ada kematian Nabi SAW mmerintahkan tetangga-tetangga ahli rumah itu member makanan,karena ahlirumah itu dapat kesusahan yang melalaikan mereka&lt;br /&gt;Jawaban 2 : Quran dan hadis tidak memerintahkan kita bertahlil untuk simati, Nabitidak penah mengerjakan, sahabat-sahabat tidak pernah mengerjakan bahkan mnuru riwayat bahwa berkumpul-kumpul di rumah ornag kematian dan membuat makanan sesudah kematian itu sahabat menganggap sebagai niaahah : ratapan, sedang ratapan (tangisan mayit) itu dilarang keras oleh agama.&lt;br /&gt;Jawaban 3 : Tahlil tidak diperintahkan oleh Quran,tidak pernah dikerjakan oleh Nabi SAW tidak pernah dijalankan oleh sahabat tidak pernah diperbuat oleh tabi’in,ini bahkan tidak pernah diperbuat oleh imam yang empat&lt;br /&gt;Mintalah keterangan adanya tahlil itu dari pihak yang menyunatkan tahlil.&lt;br /&gt;Jawaban 4 : Urusan dapat pahala di dalam perkara seperti yang tersebut itu, tidakdiketahui oleh seorang, kecuali kalau dikabarkan oleh al-quran atau hadis atau diamalkan oleh sahabat yang didiamkan oleh Rasulullah.&lt;br /&gt;Didalam urusan tahlil, tdak ada satupun keterangan-keterangan yang ada, maka tidak dapat dikatan yang mengerjakan tahlil itu mendapat pahala. Orang-orang yang menyunatkan tahlil selalu berkata bahwa subhanallah Allahu akbar dll yang terpakai ditahlil itu baik,maka orang yang mengerjakan kenaikan itu tentu dapat pahala.&lt;br /&gt;Kita jawab bahwa tiap-tiap bacaan dan pekerjaan boleh dikatakan baik kalau dikerjakan pada tempatnya dan masa yang ditentukan oleh agama, Umpamanya, kalau seorangsujud diwaktu jam 10 siang 5 kali dan tiap-tiap sujud dia baca attahiyat, dan diantara dua sujud dia baca al-fatihah, lalu ia hadiahkan pahalanya kepada simati, tentu tidak ada ulama yang membolehkannya!apa sebab?&lt;br /&gt;Tidak lain karena diatur sendiri, bukan diatur oleh agama,padahal sujud itu semua orang mngakui baiknya dan al-fatihah serta attahiyat tidak ada yang mengatakan tidak baik.&lt;br /&gt;Begitu juga kalau tahlil di waktu keluar dari kakus tentu dikeji hingga orang yang membolehkan tahlil sendiri padahal ia sendiri mengkui baiknya tahlil. Pendeknya tidak ada satupun perkara ibadat atau urusan bacaan yang menghasilkan pahala melainkan harus ada keterangan dari agama dengan cara-caranya dan ketetapan waktu dan tempatnya.&lt;br /&gt;Jawaban 5 : Walaupun yang mngerjakan tahlil dapat pahala-padahal tidak-maka perlu pula kepada keterangan lain tentang membolehkan ia mnghadiahkan pahalanya itu kepada simati,padahal tidak ada keterangan tentang itu sama sekali.&lt;br /&gt;Didalam hadis hadis ada tersebut bahwa seorang anak boleh menghajikan dan puasakan orang tuanya, tetapi hadis itu karena berlawanan dengan ayat al-quran, dapa tmelainkan amalnya sendiri. Maka tidak dapat dipandang hadis itu hahih, yakni tidak dapat kita percaya bahwa rasulullah pernah berkata begitu&lt;br /&gt;Juga menurut fikiran bahwa ibadat itu perlunya membersihkan seseorang yang mengerjakannya, kalau ibadat di over-over (diberikan),seolah=olah Allah pelu kepada ibadat itu walaupun orang lain sebagaimana seorang yang meminjamkan uang perlu mendapat uang itu walaupun dari siapa saja, lagi kalau ibadat seseorang, bolhe dikerjakan oleh seorang dan pahala satu ibadatitu boleh di over-overkan,mengapa tidak ditahlilkan sihidup?mengapakah sembahyang seorang yang hidup,tidak boleh dikerjakan oleh orang lain dengan upah,umpamanya?&lt;br /&gt;Soal : seorang,biasanya kalau dating sahabat ia keluarkan air teh,dan kalau kebetulan waktu makan, ia ajak makan. Orang ini kemtian seorang anak.Di hari itu ia tidak diberi makan atau minuman kepada orang-orang yang melawat.sesudah tu, kira-kira lima hari datang seorang sahabat dengan urusan lain,maka setelah setengah jam tuan rumah keluarkan teh dan kueh-kueh,sahabat yang datang tadi tidak mau makan dengan alasan tidak boleh makan dirumah orang kematian.&lt;br /&gt;Kira-kira sebulan dari itu sahabattersebu dating lagi dan tuan rumah keluarkan teh dan kue-kue lagi, sahabat itu menolak lagi dngan alasan takut syubhat dan takut melanggar firman Allah yang artinya “..jangan engkau tiru apa yang engkau tidak tahu” (Bani Israil:36) dan beralasan dengan hadis yang artinya “tinggalkanlah sesuatu yang meragu-ragukanmu kepada sesuatuyang tidak meragu-ragukanmu”&lt;br /&gt;Terangkan manakah yang benar?&lt;br /&gt;Jawab : Kalau ada orang kematian, maka agama peintah orang yang terdekat member makan orang-orang rumah itu.Juga agama larang kita berkumpul makan dan minum dirumah itu sesudah ditanam mayit.&lt;br /&gt;Agama tidak membatasi, beberapa hari harunya member makan kepada ahli rumah yang keatian itu,dan tidak juga agama menentukan brapa hari lamanya tidak boleh kita berkumpul makan minum orang kematian tadi.&lt;br /&gt;Karena itu perlu kita fikirkan dan tetapkan batas-batas iu atau kita lepaskan buat selama-lamanya,dari pembatasan dan tidaknya itu bias timbul tiga macam ktetapan yang perlu difikirkan :&lt;br /&gt;Tidak terbatas sama sekali buatselama-lamanya.&lt;br /&gt;Terbatas buat ahli rumah dan atau tidak boleh makan minum dirumah itu buat hari kematian saja&lt;br /&gt;Terbatas sehari atau beberapa hari yang dirasa ahli rumah itu masih bersusah hati memikirkan si mati.&lt;br /&gt;Orang yang tidak mau membatas diri karena agama tidak menetapkan batasnya iu.&lt;br /&gt;Berarti menetpkan tetangga harus member makan kepada ahli rumah selama-lamanya&lt;br /&gt;Terpaksa menetapkan tidak boleh orang-orang lain makan minum di rumah kematian iu selama-lamanya&lt;br /&gt;Kalau dijalankan anggapan ini,barang kali di dunia tidak ada satupun rumah yang boleh kita makan minum padanya lagi&lt;br /&gt;Saya percaya bahwa tidak sekali-kali agama memerintah tetangga meberi makan kepada ahli rumah kematian itu selama-lamanya dengan tidak ada batasnya, dan saya percaya agama tidak melarang kita makan di rumah kematian itu selama-lamanya.&lt;br /&gt;Tidak ada begitu kejadian di zaman Nabi atau sesudahnya bahkan tidak mungkin akan terjadi kejadian begitu, sekarang tinggal&lt;br /&gt;Batas sekali memberi makan ahli rumah kmatian, itu dengan alasan bahwa perintah Nabi itu sekurang-kurangnya perlu dijalankan sekali, dan&lt;br /&gt;Tidak berkumpul-kumpul dan makan minum di rumah kematian itu hanya buat hari yang pertama saja dengan alasan bahwa alasan itu sekurang-kurangnya sesudah ditanam mayit itu.&lt;br /&gt;Orang yang memegang anggapan begini tentulah tidak akan member makan orang-orang yang kematian itu melainkan sekali saja dan tidak akan berkumpul dan tidak akan makan minum seperti biasa melainkan pada hari itu pertama saja.&lt;br /&gt;Oleh sebab batasan itu dengan fikiran karena tidak ada keterangansedang batasa itu, maka saya pilih ketetapan yang ketiga, yaitu bahwa kita memberi makan minum kepada tetangga yang kematian sekurang-kurangnya sehari,kalau mereka tidak begitu susah atas kematian itu sangat menyedihkan mereka, umpamanya yang mati itu kepala keluarga yang menanggung keperluan semua ahli rumah itu.&lt;br /&gt;Begitu juga jangan kita pergi nerkumpul-kumpul makan-makan kue dan minum-minum the dirumah itu beberapa hari, kira-kira pada penglihatan adatdapat dipisahkan antara makan-makan biasa dan yang berhubung dengan pelawatan atas kematian itu.&lt;br /&gt;Tentang kumpul-kumpul makan minum dirumah kematian itu ada sebagian daripada saudara-saudara yang tidak mengerjakan talqin dan tahlil berkata “kedatangan kami ke rumah itu untuk menggirangkan hati orang-orang yang kematian, karena tidak diramai-ramaikan orang-orang yang kemaian itu merasa sedih.&lt;br /&gt;Pertanyaan itu perlu kita jawab&lt;br /&gt;Agama sudah mengatur cara menghiburkan orang yang kematian itu,yaitu berkata “ jangan tuan susah hati atas kematian ini,karena kita semua akan mati.mudah-mudahan Allah ganti kerugian tuan itu!&lt;br /&gt;Orang yang sudah biasa kematian dan memperhatikan urusan tersebut, tentu tahu bahwa orang-orang berkumpul di rumah kita itu tidak menghibur kita, hanya melalaikan kita daripada memikirkan dan daripada bersedih sebentar. Setelah orang-orang itu pulang,kita kembali pada kesedihan kita.Kalau dibiarkan dua atau tiga hari, peringatan dan kesedihan itu akan hilang sendiri.&lt;br /&gt;Pendeknya agama sudah mengatur cara-cara di rumah kematian dan cara-cara di rumah perkawinan, kalau kita ambil alasan hendak menggembirakan hati orang yang kematian,sudah tentu mai music dan lain-lain bias dujadikan penghibur,kalau begitu, tidak ada perbedaaan antara rumah orang mati dan rumah orang kawin!&lt;br /&gt;soal : Apakah ada keterangan dalam agama buat membikin selamatan seorang istri yang hamil tujuh bulan?&lt;br /&gt;Jawab : dari mula-mula seorang hamil sampai ia melahirka kandungannya tidak adasatupun kenduri,selamatan,pesta atau perjamuan yang ditetapkan oleh agama.&lt;br /&gt;Agama memerintahkan kita supaya membuat perjamuan(bukan selamatan) di waktu kawin, dengan tidak pakai bacaan atau tahlil dsb.Dan diperintahkan kita aqiqah buat anak-anak.yakni kalau kita dapat anak, maka pada hari yang ketujuh diperintah menyembelih dua atau kambing buat anak laki-laki dan satu kambing buat anak perempuan,dan dipeintah kita cukur kepala anak tadi sedekahnya diuangkan seberat rambutnya itu, dan di hari itu juga kita beri nama bagi anak kita, dan daging sembelihan itu diperintahkan juga kita kita kirimkan kepada orang miskin dan juga buat kita makan sendiri.di dalam hal tersebut semua tidak sekali-sekali ada bacaan doa selamat, tahlil atau baca barzanji dsb.&lt;br /&gt;Soal : bagaimana halnya dengan makanan tahlilan?&lt;br /&gt;Jawab : adapun makanan seperti nasi, tahu,tempe dsb adalah makanan dari asalnya sudah mempunyai hukum halal&lt;br /&gt;Namun benda-benda yang asalnya halal dapat berubah menjadi aram, apabila timbulnya dari perbuatan haram. Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;“barangsiapa daginya timbul dari jalan haram, maka nerakalah yang terlebih patut baginya.” (H.S.R Hakim)&lt;br /&gt;Tahlilan Hari ke 3, 7, dst itu adalah amalan yang tidak ada dalam Islam. Setiap amalan yang tidak ada Dalam Islam lalu di ada-adakan orang disebut bid’ah, menururt sabda Nabi SAW adalah sesat, dan setiap kesesatan itu adalah tempatnya neraka.&lt;br /&gt;Makan nasi, tempe,tahu dsb yang timbul dari perbuatan bid’ah itu tentulah haram juga, haramnya itu timbul dari perbutan yang bid’ah, disebut “haram ‘aradhi”, yakni haram mendatang&lt;br /&gt;Bagaimana upacara adat pada pernikahan?&lt;br /&gt;Upacara adat sebagian besar berasal dari mitos yang mengandung syirik, bid’ah , tahyul, dan tabdzir sehingga hukumnya haram&lt;br /&gt;(sumber :http://info22bisnis.blogspot.com/2009/02/tahlilan-dalam-timbangan-islam-maha.html)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-7164769639238849672?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/7164769639238849672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/tahlilan-dalam-timbangan-islam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/7164769639238849672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/7164769639238849672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/tahlilan-dalam-timbangan-islam.html' title='TAHLILAN DALAM TIMBANGAN ISLAM'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-8694420712259049987</id><published>2009-08-09T21:24:00.001+07:00</published><updated>2009-08-09T21:27:18.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Ikhwanul Muslimin di Indonesia</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab sekitar tahun 1930. Pada zaman kemerdekaan, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agus_Salim" title="Agus Salim"&gt;Agus Salim&lt;/a&gt; pergi ke &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;Mesir&lt;/a&gt; dan mencari dukungan kemerdekaan. Waktu itu, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agus_Salim" title="Agus Salim"&gt;Agus Salim&lt;/a&gt; menyempatkan untuk bertemu kepada sejumlah delegasi Indonesia.&lt;sup class="noprint Inline-Template"&gt;&lt;span title="Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan." style="white-space: nowrap;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ikhwanul Muslimin memiliki peran penting dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia. Atas desakan Ikhwanul Muslimin, negara &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;Mesir&lt;/a&gt; menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, setelah dijajah oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" title="Belanda"&gt;Belanda&lt;/a&gt;. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi Republik Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ikhwanul Muslimin kemudian semakin berkembang di Indonesia setelah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Natsir" title="Muhammad Natsir" class="mw-redirect"&gt;Muhammad Natsir&lt;/a&gt; mendirikan partai yang memakai ajaran Ikhwanul Muslimin, yaitu Partai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masyumi" title="Masyumi" class="mw-redirect"&gt;Masyumi&lt;/a&gt;&lt;sup id="cite_ref-21" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-21"&gt;[22]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Partai Masyumi kemudian dibredel oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno" title="Soekarno"&gt;Soekarno&lt;/a&gt; dan dilarang keberadaannya. Kemudian pada Pemilu tahun 1999 berdiri partai yang menggunakan nama Masyumi, yaitu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Partai_Masyumi_Baru&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Partai Masyumi Baru (halaman belum tersedia)"&gt;Partai Masyumi Baru&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Partai_Politik_Islam_Indonesia_Masyumi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (halaman belum tersedia)"&gt;Partai Politik Islam Indonesia Masyumi&lt;/a&gt; (PPII Masyumi). Selain itu berdiri juga &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Bulan_Bintang" title="Partai Bulan Bintang"&gt;Partai Bulan Bintang&lt;/a&gt; (PBB) dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Keadilan" title="Partai Keadilan" class="mw-redirect"&gt;Partai Keadilan&lt;/a&gt; (PK) yang sebelumnya banyak dikenal dengan jamaah atau kelompok Tarbiyah. PBB mendeklarasikan partainya sebagai keluarga besar pendukung Masyumi. Sedangkan menurut &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Yusuf_Qaradhawi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Yusuf Qaradhawi (halaman belum tersedia)"&gt;Yusuf Qaradhawi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Keadilan" title="Partai Keadilan" class="mw-redirect"&gt;Partai Keadilan&lt;/a&gt; (kini berganti nama menjadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Keadilan_Sejahtera" title="Partai Keadilan Sejahtera"&gt;Partai Keadilan Sejahtera&lt;/a&gt; atau PKS) merupakan perpanjangan tangan dari gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir yang mewadahi komunitas terbaik kalangan muda intelektual yang sadar akan agama, negeri, dunia, dan zamannya . Namun tulisan ulama yang kini bermukim di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Qatar" title="Qatar"&gt;Qatar&lt;/a&gt; itu belum pernah mendapat konfirmasi dari para pengurus DPP PKS &lt;sup id="cite_ref-25" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-25"&gt;[26]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Jika dilihat dari Piagam Deklarasi PKS  dan AD/ART PKS , PKS tidak pernah menyebutkan hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Selain partai-partai di atas, ada juga ormas Islam di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin ini, paling tidak itu terlihat dari nama ormas tersebut. Ormas yang dimaksud, antara lain adalah Parmusi (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Persaudaraan_Muslimin_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Persaudaraan Muslimin Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Persaudaraan Muslimin Indonesia&lt;/a&gt;) yang berafiliasi ke PPP, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ikhwanul_Muslimin_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Ikhwanul Muslimin Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Ikhwanul Muslimin Indonesia&lt;/a&gt; (IMI). Parmusi saat ini diketuai oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bachtiar_Chamsyah" title="Bachtiar Chamsyah"&gt;Bachtiar Chamsyah&lt;/a&gt;&lt;sup id="cite_ref-29" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-29"&gt;[30]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Sedangkan IMI yang dideklarasikan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Depok" title="Depok"&gt;Depok&lt;/a&gt; pada tahun 2001, diketuai oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Habib_Husein_Al_Habsyi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Habib Husein Al Habsyi (halaman belum tersedia)"&gt;Habib Husein Al Habsyi&lt;/a&gt;&lt;sup id="cite_ref-30" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-30"&gt;[31]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Lalu pada Pemilu tahun 2004, Partai Masyumi Baru dan PPII Masyumi tidak dapat mengikuti pemilu lagi karena tidak lolos electoral threshold. Partai Masyumi Baru bergabung dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Persatuan_Pembangunan" title="Partai Persatuan Pembangunan"&gt;Partai Persatuan Pembangunan&lt;/a&gt; (PPP)&lt;sup id="cite_ref-31" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-31"&gt;[32]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. PBB masih dapat terus mengikuti pemilu&lt;sup id="cite_ref-32" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-32"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Sedangkan PK mengikuti Pemilu 2004 setelah berganti nama menjadi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Keadilan_Sejahtera" title="Partai Keadilan Sejahtera"&gt;Partai Keadilan Sejahtera&lt;/a&gt; (PKS). Setelah pemilu 2004, PBB hampir tidak bisa mengikuti pemilu 2009 karena tidak lolos electoral threshold. Pada akhirnya PBB bisa mengikuti pemilu 2009 sebagaimana PKS dan PPP yang masih dapat terus mengikuti pemilu 2009 karena lolos electoral threshold.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Jadi secara umum, Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia. Namun tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Jika diringkas, organisasi di Indonesia yang terinspirasi dari Ikhwanul Muslimin antara lain:&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Masyumi" title="Partai Masyumi" class="mw-redirect"&gt;Partai Masyumi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Persaudaraan_Muslimin_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Persaudaraan Muslimin Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Persaudaraan Muslimin Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Partai_Masyumi_Baru&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Partai Masyumi Baru (halaman belum tersedia)"&gt;Partai Masyumi Baru&lt;/a&gt; (1998)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Partai_Politik_Islam_Indonesia_Masyumi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Partai Politik Islam Indonesia Masyumi (halaman belum tersedia)"&gt;Partai Politik Islam Indonesia Masyumi&lt;/a&gt; (1998)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Bulan_Bintang" title="Partai Bulan Bintang"&gt;Partai Bulan Bintang&lt;/a&gt; (1998)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Keadilan" title="Partai Keadilan" class="mw-redirect"&gt;Partai Keadilan&lt;/a&gt; (1998)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ikhwanul_Muslimin_Indonesia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Ikhwanul Muslimin Indonesia (halaman belum tersedia)"&gt;Ikhwanul Muslimin Indonesia&lt;/a&gt; (2001)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Keadilan_Sejahtera" title="Partai Keadilan Sejahtera"&gt;Partai Keadilan Sejahtera&lt;/a&gt; (2002)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-8694420712259049987?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/8694420712259049987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/ikhwanul-muslimin-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/8694420712259049987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/8694420712259049987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/ikhwanul-muslimin-di-indonesia.html' title='Ikhwanul Muslimin di Indonesia'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-696309511832348738</id><published>2009-08-09T21:20:00.001+07:00</published><updated>2009-08-09T21:24:14.130+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Sejarah Ikhwanul Muslim</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sumber : Wikipedia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Masa-masa_awal" id="Masa-masa_awal"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="mw-headline"&gt;Masa-masa awal&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ismailiyah,_Mesir&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Ismailiyah, Mesir (halaman belum tersedia)"&gt;Ismailiyah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;Mesir&lt;/a&gt; pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Maret" title="Maret"&gt;Maret&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1928" title="1928"&gt;1928&lt;/a&gt; dengan pendiri &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hassan_al-Banna" title="Hassan al-Banna" class="mw-redirect"&gt;Hassan al-Banna&lt;/a&gt;, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi. Ikhwanul Muslimin pada saat itu dipimpin oleh Hassan al-Banna. Pada tahun 1930, Anggaran Dasar Ikhwanul Muslimin dibuat dan disahkan pada Rapat Umum Ikhwanul Muslimin pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/24_September" title="24 September"&gt;24 September&lt;/a&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1930" title="1930"&gt;1930&lt;/a&gt;&lt;sup id="cite_ref-2" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-2"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1932" title="1932"&gt;1932&lt;/a&gt;, struktur administrasi Ikhwanul Muslimin disusun dan pada tahun itu pula, Ikhwanul Muslimin membuka cabang di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suez" title="Suez"&gt;Suez&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Abu_Soweir&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Abu Soweir (halaman belum tersedia)"&gt;Abu Soweir&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Al-Mahmoudiya&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Al-Mahmoudiya (halaman belum tersedia)"&gt;al-Mahmoudiya&lt;/a&gt;. Pada tahun 1933, Ikhwanul Muslimin menerbitkan majalah mingguan yang dipimpin oleh Muhibuddin Khatib.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Perkembangan_1930-1948" id="Perkembangan_1930-1948"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ikhwanul_Muslimun&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=3" title="Sunting bagian: Perkembangan 1930-1948"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Perkembangan 1930-1948&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kemudian pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1934" title="1934"&gt;1934&lt;/a&gt;, Ikhwanul Muslimin membentuk divisi Persaudaraan Muslimah. Divisi ini ditujukan untuk para wanita yang ingin bergabung ke Ikhwanul Muslimin.&lt;sup id="cite_ref-3" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-3"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; Walaupun begitu, pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1941" title="1941"&gt;1941&lt;/a&gt; gerakan Ikhwanul Muslimin masih beranggotakan 100 orang, hasil seleksi dari Hassan al-Banna&lt;sup id="cite_ref-4" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-4"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1948" title="1948"&gt;1948&lt;/a&gt;, Ikhwanul Muslimin turut serta dalam perang melawan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Israel" title="Israel"&gt;Israel&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Palestina" title="Palestina"&gt;Palestina&lt;/a&gt;. Saat organisasi ini sedang berkembang pesat, Ikhwanul Muslimin justru dibekukan oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Muhammad_Fahmi_Naqrasyi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Muhammad Fahmi Naqrasyi (halaman belum tersedia)"&gt;Muhammad Fahmi Naqrasyi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdana_Menteri_Mesir" title="Perdana Menteri Mesir" class="mw-redirect"&gt;Perdana Menteri Mesir&lt;/a&gt; tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1948" title="1948"&gt;1948&lt;/a&gt;. Berita penculikan Naqrasyi di media massa tak lama setelah pembekuan Ikhwanul Muslimin membuat semua orang curiga pada gerakan Ikhwanul Muslimin.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;a name="1950-1970" id="1950-1970"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ikhwanul_Muslimun&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=4" title="Sunting bagian: 1950-1970"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;1950-1970&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Secara misterius, pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan al-Banna meninggal dunia karena dibunuh pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/12_Februari" title="12 Februari"&gt;12 Februari&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1949" title="1949"&gt;1949&lt;/a&gt;. Kemudian, tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1950" title="1950"&gt;1950&lt;/a&gt;, pemerintah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mesir" title="Mesir"&gt;Mesir&lt;/a&gt; merehabilitasi organisasi Ikhwanul Muslimin. Pada saat itu, parlemen Mesir dipimpin oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mustafa_an-Nuhas_Pasha&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Mustafa an-Nuhas Pasha (halaman belum tersedia)"&gt;Mustafa an-Nuhas Pasha&lt;/a&gt;. Parlemen Mesir menganggap bahwa pembekuan Ikhwanul Muslimin tidak sah dan inkonstitusional. Ikhwanul Muslimin pada tahun 1950 dipimpin oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hasan_al-Hudhaibi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Hasan al-Hudhaibi (halaman belum tersedia)"&gt;Hasan al-Hudhaibi&lt;/a&gt;. Kemudian, tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/23_Juli" title="23 Juli"&gt;23 Juli&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1952" title="1952"&gt;1952&lt;/a&gt;, Mesir dibawah pimpinan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Naguib" title="Muhammad Naguib"&gt;Muhammad Najib&lt;/a&gt; bekerjasama dengan Ikhwanul Muslimin dalam rencana menggulingkan kekuasaan monarki Raja Faruk pada Revolusi Juli. Tapi, Ikhwanul Muslimin menolak rencana ini, dikarenakan tujuan Revolusi Juli adalah untuk membentuk Republik Mesir yang dikuasai oleh militer sepenuhnya, dan tidak berpihak pada rakyat. Karena hal ini, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gamal_Abdel_Nasser" title="Gamal Abdel Nasser" class="mw-redirect"&gt;Jamal Abdul Nasir&lt;/a&gt; menganggap gerakan Ikhwanul Muslimin menolak mandat revolusi. Sejak saat ini, Ikhwanul Muslimin kembali dibenci oleh pemerintah.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;a name="1970-sekarang" id="1970-sekarang"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ikhwanul_Muslimun&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=5" title="Sunting bagian: 1970-sekarang"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;1970-sekarang&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ketika &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Anwar_Sadat" title="Anwar Sadat"&gt;Anwar Sadat&lt;/a&gt; mulai berkuasa, anggota Ikhwanul Muslimin yang dipenjara mulai dilepaskan. Menggantikan Hudhaibi yang telah meninggal pada tahun &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1973" title="1973"&gt;1973&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Umar_Tilmisani&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Umar Tilmisani (halaman belum tersedia)"&gt;Umar Tilmisani&lt;/a&gt; memimpin organisasi Ikhwanul Muslimin. Umar Tilmisani menempuh jalan moderat dengan tidak bermusuhan dengan penguasa. Rezim &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hosni_Mubarak" title="Hosni Mubarak"&gt;Hosni Mubarak&lt;/a&gt; saat ini juga menekan Ikhwanul Muslimin, dimana Ikhwanul Muslimin menduduki posisi sebagai &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oposisi" title="Oposisi"&gt;oposisi&lt;/a&gt; di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Parlemen_Mesir&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Parlemen Mesir (halaman belum tersedia)"&gt;Parlemen Mesir&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Pemikiran" id="Pemikiran"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h2 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ikhwanul_Muslimun&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=6" title="Sunting bagian: Pemikiran"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Pemikiran&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ikhwanul Muslimin merupakan sebuah organisasi Islam berlandaskan ajaran Islam. Ia merupakan salah satu jamaah dari beberapa jamaah yang ada pada umat Islam, yang memandang bahwa Islam adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dien" title="Dien" class="mw-redirect"&gt;dien&lt;/a&gt; yang universal dan menyeluruh, bukan hanya sekedar agama yang mengurusi ibadah ritual (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat" title="Shalat"&gt;shalat&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Puasa" title="Puasa"&gt;puasa&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Haji" title="Haji"&gt;haji&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat" title="Zakat"&gt;zakat&lt;/a&gt;, dll) saja. Tujuan Ikhwanul Muslimin adalah mewujudkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam&lt;sup id="cite_ref-5" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-5"&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Ikhwanul Muslimin menolak segala bentuk penjajahan dan monarki yang pro-Barat.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Dalam perpolitikan di berbagai negara, Ikhwanul Muslimin ikut serta dalam proses &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi" title="Demokrasi"&gt;demokrasi&lt;/a&gt; sebagai sarana perjuangannya, sebagaimana kelompok-kelompok lain yang mengakui demokrasi. Contoh utamanya adalah Ikhwanul Muslimin di Mesir yang mengikuti proses &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilu" title="Pemilu" class="mw-redirect"&gt;pemilu&lt;/a&gt; di negara tersebut &lt;sup id="cite_ref-6" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-6"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Di berbagai media khususnya media negara-negara Barat, Ikhwanul Muslimin sering dikait-kaitkan dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qaeda" title="Al-Qaeda"&gt;Al-Qaeda&lt;/a&gt;. Pada faktanya, Ikhwanul Muslimin berbeda jauh dengan Al-Qaeda. Ideologi, sarana, dan aksi yang dilakukan oleh Al-Qaeda secara tegas ditolak oleh pimpinan Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin lebih mendukung ide perubahan dan reformasi melalui jalan damai &lt;sup id="cite_ref-7" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-7"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; dan dialog yang konstruktif yang bersandarkan pada al-hujjah (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alasan" title="Alasan"&gt;alasan&lt;/a&gt;), al-mantiq (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Logika" title="Logika"&gt;logika&lt;/a&gt;), al-bayyinah (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jelas&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Jelas (halaman belum tersedia)"&gt;jelas&lt;/a&gt;), dan ad-dalil (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dalil&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Dalil (halaman belum tersedia)"&gt;dalil&lt;/a&gt;)&lt;sup id="cite_ref-8" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-8"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan" title="Kekerasan"&gt;Kekerasan&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Radikalisme" title="Radikalisme"&gt;radikalisme&lt;/a&gt; bukan jalan perjuangan Ikhwanul Muslimin, kecuali jika negara tempat Ikhwanul Muslimin berada, terancam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penjajahan" title="Penjajahan" class="mw-redirect"&gt;penjajahan&lt;/a&gt; dari bangsa lain. Inipun, kekerasan di sini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai perlawanan, bukan radikalisme atau kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teroris" title="Teroris" class="mw-redirect"&gt;teroris&lt;/a&gt;. Sebagai contoh adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hamas" title="Hamas"&gt;Hamas&lt;/a&gt; yang merupakan perpanjangan tangan Ikhwanul Muslimin di Palestina. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Syekh_Ahmad_Yassin" title="Syekh Ahmad Yassin" class="mw-redirect"&gt;Syekh Ahmad Yassin&lt;/a&gt; pendiri Hamas adalah tokoh Ikhwanul Muslimin &lt;sup id="cite_ref-9" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-9"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Selain mengikuti proses pemilu (baca: demokrasi) di Palestina, Hamas juga melakukan perlawanan bersenjata melawan penjajah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Israel" title="Israel"&gt;Israel&lt;/a&gt; untuk memperjuangkan kemerdekaan negara Palestina &lt;sup id="cite_ref-10" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-10"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Di berbagai media, Ikhwanul Muslimin juga sering dikait-kaitkan dengan gerakan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Wahabi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" class="new" title="Wahabi (halaman belum tersedia)"&gt;Wahabi&lt;/a&gt;. Pada faktanya, antara Al-Ikhwan dengan Wahabi berbeda jauh. Pengkait-kaitan Al-Ikhwan dengan Wahabi pada dasarnya disebabkan adanya kesamaan nama. Di dalam sejarah Wahabi di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arab_Saudi" title="Arab Saudi"&gt;Arab Saudi&lt;/a&gt;, mereka memang pernah memiliki pasukan tempur yang bernama Al-Ikhwan. Seorang penulis bernama Robert Lacey dalam catatan kaki bukunya yang berjudul "Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia" di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nejd" title="Nejd" class="mw-redirect"&gt;Nejd&lt;/a&gt; ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini &lt;sup id="cite_ref-11" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-11"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt; &lt;sup id="cite_ref-12" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-12"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;. Secara pemikiran pun antara Ikhwanul Muslimin dengan Wahabi saling bertolak belakang. Ikhwanul Muslimin masuk ke dalam wilayah politik dalam perjuangannya (bahkan membentuk partai politik), sedangkan Wahabi sebaliknya, yaitu antipati terhadap partai politik.&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;&lt;a name="Kredo" id="Kredo"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;h3 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ikhwanul_Muslimun&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=7" title="Sunting bagian: Kredo"&gt;sunting&lt;/a&gt;]&lt;/span&gt; &lt;span class="mw-headline"&gt;Kredo&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Ikhwanul Muslimin memiliki kredo berupa:&lt;/p&gt; &lt;ol style="font-family: arial;"&gt;&lt;li&gt;Allah tujuan kami (Allahu ghayatuna)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasulullah teladan kami (Ar-Rasul qudwatuna)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Al-Qur'an landasan hukum kami (Al-Quran dusturuna)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jihad jalan kami (Al-Jihad sabiluna)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mati syahid di jalan Allah cita-cita kami yang tertinggi (Syahid fiisabilillah asma amanina)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Walaupun begitu, Ikhwanul Muslimin tetap mengikuti perkembangan teknologi dan tidak meninggalkannya. Sebagai organisasi Islam moderat, Ikhwanul Muslimin diterima oleh segala lapisan dan pergerakan. Ikhwanul Muslimin menekankan adaptasi Islam terhadap era globalisasi, bukan berarti umat Islam turut terseret dalam era globalisasi. Pemikiran dan pergerakan Ikhwanul Muslimin mencakup delapan aspek yang mencerminkan luasnya cakupan Islam sebagai ideologi yang mereka anut, yaitu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dakwah" title="Dakwah"&gt;Dakwah&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Salafiyah" title="Salafiyah"&gt;salafiyah&lt;/a&gt; (dakwah salaf), Thariqah sunniyah (jalan sunnah), Hakikat shufiyah (hakikat sufi), Hai'ah siyasiyah (lembaga politik), Jama'ah riyadhiyah (kelompok olahraga), Rabithah 'ilmiyah tsaqafiah (ikatan ilmiah berwawasan), Syirkah iqtishadiyah (perserikatan ekonomi), dan Fikrah ijtima'iyah (pemikiran sosial) &lt;sup id="cite_ref-13" class="reference"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikhwanul_Muslimun#cite_note-13"&gt;[14]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-696309511832348738?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/696309511832348738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/sejarah-ikhwanul-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/696309511832348738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/696309511832348738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/sejarah-ikhwanul-muslim.html' title='Sejarah Ikhwanul Muslim'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-4452497341187344911</id><published>2009-08-08T21:06:00.000+07:00</published><updated>2009-08-08T21:09:02.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Antara PKS, Tarbiyah, dan Ikhwanul Muslimin - Sebuah Perjalanan Sejarah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Hasan Al-Banna adalah seorang arsitek sebuah peradaban. Bahkan seolah-olah ia dilahirkan untuk membangun kembali harga diri umat yang sedang runtuh dan melorot. Pembangunan kembali itu ia awali dengan mendirikan madrasah terbesar dalam sejarah gerakan dakwah; Madrasah hasan Al-Banna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Penyebutan Madrasah Hasan Al-Banna ini disematkan oleh salah satu kader terbaik Ikhwanul Muslimin, Syaikh Yusuf Qaradhawi. Sebuah madrasah yang memiliki dua tujuan besar pembangunan umat Islam. Dua tujuan itu adalah, ilmiyah dan amaliyah. Berilmu dan beramal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Dalam sistem pendidikannya, Ikhwanul Muslimin berorientasi pada dua pokok tujuan pendidikan. Pendidikan harus melahirkan manusia-manusia yang berjiwa besar dan berakhlak mulia. Hasan Al-Banna mengatakannya sebagai “Tongkat Komando Perubahan”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Untuk menyiapkan kader-kader yang berjiwa besar dan berakhlak mulia, Ikhwanul Muslimin memiliki sistem tarbiyah atau pendidikan yang dirumuskan oleh sang imam sendiri. Disiplin tarbiyah yang sering kali disebut dengan al-Iltizamu al-Kamil atau tingkat kedisiplinan yang sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Paham&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Setiap kader Ikhwanul Muslimin harus memulainya dari tangga kepahaman. Tanpa memahami ajaran dan pesan-pesan besar yang diturunkan Allah dalam Islam melalui Rasul-Nya, tak ada perubahan besar yang akan terjadi. Perubahan hanya bisa terjadi dan dilakukan, jika para pelaku, pendukung, dan pemimpinnya memahami apa tujuan hidup dalam Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Ikhlas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Tahap berikutnya adalah ikhlas. Pemahaman yang sempurna dan baik akan melahirkan jiwa-jiwa yang ikhlas untuk mewujudkan cita-cita. Rela berkorban apa saja untuk kemuliaan mimpi-mimpi agung manusia. Keikhlasan itu bisa terwujud nyata dan tercermin dari amal, perbuatan, ucapan, dan pemikiran yang hanya memiliki satu tujuan, yaitu ridha Allah, Sang Pencipta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Amal&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Keikhlasan pada akhirnya akan mengantarkan setiap kader pada amal yang maksimal. Tanpa keikhlasan, amal hanya menjadi beban yang memberatkan. Amal yang ditandai keikhlasan akan selalu menjadi amal yang paling baik. Karena, keikhlasan memintanya untuk melengkapi amal berlandaskan ilmu. Amal pun dirumuskan pada beberapa tahapan dan tingkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pertama, memperbaiki diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Kedua, memperbaiki lingkungan trekecil dari masyarakat, yakni keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Ketiga, membentuk masyarakat Islami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Keempat, membebaskan tanah air dari cengkraman penjajah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Kelima, memperbaiki pemerintahan dan negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Keenam, mempersiapkan seluruh aset yang dimiliki untuk kebaikan kaum Muslim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Ketujuh, menegakkan kepemimpinan umat di seluruh dunia dan menyebarkan dakwah Islam yang mulia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Jihad&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Dalam agama yang mulia ini, tidak ada amalan yang paling mulia kecuali berjihad di jalan-Nya. Berjihad dengan hati, lisan, tangan, dan akal. Jihad dengan kata-kata, tulisan, kekuasaan, dan paling tinggi adalah jihad dengan jiwa dan raganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Taat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Kader yang baik dalam Ikhwanul Muslimin adalah kader yang mampu memupuk ketaatan kepada pemimpin dan kebenaran. Dan, satu-satunya syarat ketaatan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah. Tidak ada ketaatan jika bertujuan maksiat kepada Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Tsabat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Bersungguh-sungguh meniti dan mewujudkan cita-cita dan tujuan mulia juga merupakan hasil yang ingin dicapai dalam sistem tarbiyah Ikhwanul Muslimin. Tanpa kesungguhan, tidak akan ada cita-cita yang bisa dicapai dengan sempurna. Setiap tujuan selalu meminta upah dan bayaran, satu di antara upah yang harus kita berikan adalah kesungguhan hati dan tekad jiwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Tajarrud &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Setiap perjalanan selalu menyimpan aral dan rintangan. Dan terkadang, aral tersebut adalah godaan-godaan cara berpikir dan bersikap pada sesuatu hal. Karena itu, hasan Al-Banna ingin para kadernya selalu membersihkan diri dari godaan-godaan yang bersifat paham dan pemikiran selain Islam. Kader Ikhwanul Muslimin harus terbebas dari belenggu berpikir orang-orang ternama dan individu-individu, kecuali dalam rangka taat kepada Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Ukhuwah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Perjalanan yang panjang menuju cita-cita yang mulia selalu berat dan terjal. Karena itu, satu-satunya yang bisa menjadi lampu pertolongan dalam perjalanan ini adalah tongkat ukhuwah dan persaudaraan yang menyejukkan. Setiap Muslim adalah saudara yang selalu siap memberi pertolongan kepada saudaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial; color: rgb(255, 204, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Tsiqah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Tidak ada pertolongan yang lebih indah seperti pertolongan yang diberikan atas dasar rasa kepercayaan. Kepercayaan bahwa kita berada di jalan yang sama dan menuju titik akhir yang sama pula. Kepercayaan akan melahirkan rasa cinta, saling menghargai, dan penghormatan, bahkan pengorbanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Dengan sistem seperti itu, Ikhwanul Muslimin seperti mendekati manusia dengan cara yang mereka inginkan. Ikhwanul Muslimin terus berkembang. Pelan tapi pasti, membesar dan memberikan pengaruh, tidak saja di Mesir, tapi kelak juga lebih dari 40 negara di seluruh dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pada awal 1941, Ikhwanul Muslimin memiliki anggota 100 orang, orang-orang yang dipilih sendiri oleh hasan Al-Banna. Penguasa Inggris yang menyadari embrio ini memberikan peringatan kepada penguasa Mesir pada saat itu, Raja Faruq. Tetapi, sang raja memandang remeh dan tak menghiraukan gerakan yang kelak akan menggegerkan dunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;“Apalah yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang pengajar anak-anak,” kata raja Faruq tak memandang sebelah mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Kemudian, Hasan Al-Banna memindahkan kantor Ikhwanul Muslimin, yang semula dui Islamiliyyah ke al-Qadhirah atau Kairo, ibu kota Mesir. Perkembangan Ikhwanul Muslimin di kedua kota ini sungguh luar biasa. Mencengangkan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Hasan Al-Banna dan kafilah dakwahnya merambah semua wilayah di Mesir, dari gang-gang kecil sampai ke perkantoran. Hanya beberapa tahun, Ikhwanul Muslimin menjelma menjadi gerakan besar yang mulai mengkhawatirkan penjajah. Apalagi setelah Ikhwanul Muslimin turut berjihad membebaskan Palestina dari kekangan Zionis Israel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pada 1947-1948, Ikhwanul Muslimin, dengan dipimpin langsung oleh sang imam, mengirimkan 10.000 pasukan pejuang Ikhwan ke Palestina untuk membebaskan tanah suci itu dari penjajah Zionis Israel. Pasukan yang gagah berani, yang tak dikenal sama sekali oleh dunia Arab saat itu. Pasukan gagah berani yang keluar dan dilahirkan oleh sistem pendidikan Ikhwanul Muslimin. Dari Madrasah Hasan Al-Banna, Ikhwanul Muslimin berhasil mengirimkan pasukan-pasukan yang lebih mencintai syahid di jalan Allah, membantu saudara seiman di Palestina.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Melihat perkembangan yang makin tak terkendali, penjajah Inggris dan Raja Faruq mulai merencanakan sesuatu untuk menghentikan pergerakan Ikhwanul Muslimi. Perintah penangkapan para anggota Ikhwan mulai diberikan. Penjara-penjara mulai dipenuhi oleh para pemuda dan pemimpin Ikhwanul Muslimin. Tetapi, mereka sengaja tak menyentuh sang imam, Hasan Al-Banna dibiarkan di luar penjara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Diam-diam, rencana makar sedang disiapkan untuknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pada 8 November 1948, Perdana Menteri Mesir, Muhammad Fahmi Naqrasyi, membekukan Ikhwanul Muslimin. Ia menyita dan merampas seluruh aset lembaga tersebut. Mulai dari kantor berita sampai barang terkecil yang bisa disita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pada Desember 1948, Naqrasyi diculik oleh seorang tak dikenal. Ia kemudian ditemukan tanpa nyawa. Seluruh pendukungnya melayangkan tuduhan bahwa Ikhwanul Muslimin yang melakukan penculikan dan pembunuhan. Mereka turun ke jalan-jalan dan meneriakkan ganyang Hasan Al-Banna. “Kepala Naqrasyi harus dibayar dengan kepala Hasan Al-Banna,” ancam mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Pada 12 Februari 1949, di satu pagi yang penuh kesaksian, peristiwa besar terjadi. Menurut Fathi Yakan, seorang petinggi militer Mesir bernama Mahmud Abdul Majid mengutus pembantaian terkeji kepada seorang pemimpin besar, Hasan Al-Banna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Di depan Kantor Pusat Pemuda Ikhwnaul Muslimin, peluru-peluru berhamburan menembus tubuhnya. Hasan Al-Banna meregang nyawa. Ia dilarikan ke rumah sakit, tapi intelijen yang keji telah mempersiapkan segalanya. Aliran listrik dipadamkan, dokter dan perawat telah diancam agar tidak memberikan pertolongan, apalagi menyelamatkan nyawa Hasan AL-Banna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Darah terus mengucur dari tubuh Hasan Al-Banna. Karena terlalu banyak darah yang mengalir, akhirnya peristiwa di pagi buta itu mengantarkannya kepada rabnya yang paling mulia. Hasan Al-Banna menemui syahidnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Namun, kekejian belum juga usai. Hanya ayahHasan Al-Banna dan empat orang perempuan yang diizinkan untuk mengantarkan pemakaman rahasia yang dilakukan oleh intelijen Mesir saat itu. Mereka dikawal oleh moncong senjata yang siap menyalak kapan saja, mengakhiri nyawa. Pemakaman dijaga ketat. Pemerintah Mesir tak mengizinkan orang untuk berkumpul, apalagi berkerumun, di tempat lain, Raja Faruq merasa lega mendengar kabar hasan Al-Banna telah diselesaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Setelah itu, pada 1954, pembunuhan-pembunuhan lain susul-menyusul. Kairo dan seluruh Mesir dimerahkan oleh darah dan diramaikan oleh nyawa para syuhada Ikhwanul Muslimin yang tak kenal kata menyerah. Termasuk para pemimpin Ikhwanul Muslimin selain Hasan Al-Banna. Abdul Qadir Audah, Muhammad Faraghalli, Yusuf Thal’at, Handawi Duwair, Ibrahim Thayyib. Dan Muhammad Abdul Lathif dihukum mati oleh Perdana Menteri Mesir Gamal Abdul Nasser.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Penjara penuh dengan beribu-ribu pejuang Ikhwanul Muslimin. Perburuan terus dilakukan untuk membunuh dan membinasakan Ikhwanul Muslimin. Tetapi, gerakan ini tak akan pernah bisa mati. Gerakan ini seperti aor yang akan terus mengalir meskipun dibendung sekuat apa pun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Ikhwanul Muslimin terus menemukan caranya untuk tumbuh dan menjadi besar meskipun beribu makar telah disiapkan untuk melumpuhkannya. Gerakan Ikhwanul Muslimin menjadi warisan terbesar yang ditinggalkan oleh sang guru, Hasan Al-Banna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="IN"&gt;Sebuah warisan yang harus dipelajari oleh semua orang yang menerimanya. Warisan yang selalu dikukuhkan, di manapun benihnya disemai di penjuru dunia. Madrasah Hasan Al-Banna yang bernama Ikhwanul Muslimin, oleh majalah al-Mujtama’ disebutkan, kini telah menyebar dan memberikan inspirasi tak kurang di 70 negara di seluruh dunia. Dari Turki sampai Sudan, dari Afganistan sampai Pakistan, bahkan di negeri kita sendiri. Indonesia. Kita bisa dengan mudah menemukan jejak dan warisan yang ditinggalkan oleh Hasan Al-Banna. Warisan yang lebih berharga daripada harta. Warisan yang lebih mulia daripada intan permata. Warisan yang akan mengantarkan kita pada ajaran mulia yang diturunkan Alah SWT lewat Rasul-Nya. Warisan yang akan menyelamatkan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-family: arial;font-size:100%;" &gt;Sumber http://mujahidsamurai.multiply.com/journal/item/44&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-4452497341187344911?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/4452497341187344911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/antara-pks-tarbiyah-dan-ikhwanul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4452497341187344911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/4452497341187344911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/antara-pks-tarbiyah-dan-ikhwanul.html' title='Antara PKS, Tarbiyah, dan Ikhwanul Muslimin - Sebuah Perjalanan Sejarah'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-1867071602476802123</id><published>2009-08-08T20:48:00.000+07:00</published><updated>2009-08-08T20:50:38.243+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah Islam'/><title type='text'>Adakah Isi Dan Kulit Dalam Ajaran Islam?</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: arial;" class="entry"&gt;      &lt;div class="snap_preview"&gt;Oleh&lt;br /&gt;&lt;p&gt; Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Islam adalah agama yang bagian-bagiannya saling melengkapi. Jalan Allah yang ikatan-ikatannya tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kaum Muslimin tidak boleh mengikuti orang-orang Yahudi yang mengimani sebagian Al-kitab dan mengingkari sebagian lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah Ta’ala berfirman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Apakah kamu (Bani Israil) beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” [Al-Baqarah : 85]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Termasuk bid’ah yang merebak pada zaman ini, yaitu anggapan sebagian orang yang membagi Islam menjadi “kulit dan isi”, atau “kuliyat dan juz-iyyat”, atau “bentuk dan isi”, atau “ushul dan furu”, atau “bagian luar dan ruh”. Lalu mereka menyepelekan bagian agama yang dianggapnya sebagai kulit atau juz’iyyat, atau bentuk semata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang sebagian ulama ada yang menggunakan istilah ushul (pokok) dan furu’ (cabang) dalam menjelaskan ajaran Islam, tetapi mereka tidak bermaksud meremehkan furu’, apalagi meninggalkannya. Tetapi istilah itu untuk menunjukkan nilai pentingnya. Karena semua bagian agama Islam ini penting, namun nilai pentingnya tidaklah satu derajat&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adapun orang-orang yang memiliki anggapan sebagaimana di atas, sebagian besar mereka kemudian tidak menaruh perhatian terhadap syi’ar-syi’ar yang lahiriyah, yang mereka anggap sebagai kulit. Bahkan menuduh orang yang berpegang dengannyan sebagai orang yang menyibukkan diri dengan perkara cabang, dan orang yang mendakwahkannya dianggap mengobarkan perselisihan dan perpecahan. Sehingga mereka mementahkan berbagai masalah yang dikaji secara ilmiah dengan anggapan, bahwa itu merupakan masalah cabang dan diperselisihkan oleh umat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anggapan ini tentu saja tidak diterima oleh agama yang mulia ini. Hal ini dapat ditinjau dari beberapa sisi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama : Ayat-Ayat al-Qur’An Dengan Tegas Dan Jelas Memerintahkan Agar Kaum Muslimin Berpegang Dengan Islam Secara Total.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diantaranya Allah Azza wa Jalla berfirman.&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan” [Al-Baqarah : 208]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata pada tafsir ayat ini : “Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, yang mempercayai Rasul-Nya, agar mereka memegangi seluruh ikatan-ikatan dan syari’at-syari’at Islam, dan mengamalkan seluruh perintah-perintahnya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangannya semampu mereka”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara total. Dia memperingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu” [Al-Baqarah : 208]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini menunjukkan bahwa hanya ada dua jalan saja, yaitu masuk ke dalam Islam secara total, atau mengikuti jalan-jalan setan yang memerintahkan untuk memisah-misahkan syari’at-syari’at Allah dan meremehkan sebagiannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua : Hadits-Hadits Menunjukkan Bahwa Perkara-Perkara Yang Mereka Anggap Sebagai Cabang Atau Kulit Itu Memiliki Hubungan Yang Kuat Dengan Pahala Yang Besar, Kedudukan Yang Mulia, Dan Kenikmatan Abadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jika imam berkata “ghairil magh-zhubi ‘alaihim walazh-zhallin”, maka katakanlah “amin”, karena sesungguhnya barangsiapa perkataannya bertepatan perkataan para malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu” [HR Bukhari no 782, Muslim no. 410, dari Abu Hurairah]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian juga hadits-hadits menjelaskan bahwa perkara-perkara yang mereka anggap cabang itu merupakan tonggak kemuliaan dan tetapnya agama ini memperoleh kemenangan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Agama ini selalu nampak nyata (menang) selama orang-orang (Islam) menyegerakan berbuka, karena sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashara mengakhirkan (berbuka)” [HR Abu Dawud no. 2353, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak hanya mementingkan perkara-perkara besar, kemudian tersibukkan dari perkara-perkara yang mereka anggap perkara kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Dari Aisyah –semoga Allah meridhainya-, yaitu isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memberitakan bahwa beliau membeli bantal duduk yang padanya terdapat gambar-gambarnya (makhluk bernyawa, -pent). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihatnya, beliau berdiri di depan pintu, tidak masuk. ‘Aisyah melihat ketidaksukaan pada wajah Rasulullah. ‘Aisyah berkata : “Wahai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dosa apakah yang telah aku lakukan?” Beliau bersabda : “Apa pentingnya bantal duduk ini?” Aisyah menjawab : “Aku membelinya agar Anda duduk padanya dan menggunakannya sebagai bantal” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat. Dan akan dikatakan kepada mereka : ‘hidupkan apa yang telah ciptakan”, dan beliau bersabda : “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (patung-patung) tidak akan dimasuki oleh para malaikat” [HR Bukhari no. 5957]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketiga : Fatwa-Fatwa Ulama Menjelaskan Tentang Kebatilan Pembagian Tersebut&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Antara lain fatwa Syaikh ‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah, beliau berkata : “Tidak boleh mengistilahkan syari’at dengan “kulit”, karena di dalam syari’at itu terdapat banyak manfaat dan kebaikan. Bagaimana perintah ketaatan dan keimanan merupakan “kulit”? Sesungguhnya ilmu yang disebut dengan “hakikat” adalah satu bagian dari ilmu syari’at. Dan tidak menggunakan istilah-istilah ini kecuali orang yang dungu, celaka dan kurang ajar. Seandainya dikatakan kepada salah seorang dari mereka : “Sesungguhnya perkataan syaikh (guru) mu itu “kulit”, pastilah dia mengingkarinya dengan keras. Namun dia menyebut “kulit” terhadap syari’at! Sedangkan syari’at itu hanyalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Maka orang jahil (bodoh) tersebut perlu dihukum dengan hukuman yang pantas dengan dosanya ini” [Fatawa Izz bin Abdis Salam, halaman 71-72]&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan ini semua jelaslah bahwa wajib memegangi Islam secara total, yakni mencakup kehidupan individu dan masyarakat. Syari’at Islam tidak meninggalkan perkara-perkara kecil, apalagi yang besar ; semua dijelaskan. Dengan demikian, Islam merupakan bangunan yang tinggi dan sempurna, dengan fondasi yang kuat dan kokoh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian dari pembagian yang tidak benar ini, yaitu beranggapan agama itu terdiri dari kulit dan isi, sebagian tokoh-tokoh kelompok Islam, seperti Syaikh Hasan Al-Bana, membangun kaidah lemah yang membolehkan terjadinya perpecahan umat. Yaitu kaidah :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kita saling menolong dalam perkara yang kita sepakati, dan saling toleransi dalam perkara yang kita berselisih padanya”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian kaidah ini menjadi ketetapan pasti yang dibacakan kepada para pengikutnya. Dengan kaidah ini, mereka menentang setiap dakwah yang mengajak untuk bersatu di atas kalimat yang haq dan menentang penjelasan menurut Sunnah Nabi, tentang sikap terhadap para ahli bid’ah yang mengikuti hawa nafsu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kaidah ini pertama kali dibuat oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah, kemudian beliau memandangnya sebagai kaidah yang rusak, sehingga beliau berlepas diri darinya. Namun Syaikh Hasan Al-Bana mengambilnya dan mendengungkannya. Dan kaidah yang rusak ini juga digunakan oleh Ikhwanul Muslimin untuk melakukan pendekatan dengan Syi’ah Rafidhah!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seandainya kaidah ini diterapkan, pasti ajaran Islam akan rontok satu persatu, karena :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1). Perselisihan antar umat Islam terjadi sampai dalam perkara aqidah dan prinsip-prinsip. Oleh karena inilah umat berpecah-belah menjadi banyak kelompok. Maka orang yang memberikan toleransi perselisihan seperti ini, berarti dia membenarkan apa yang dilarang oleh Allah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2). Kaidah ini tidak memiliki landasan dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan pemahaman Salafush Shalih. Bahkan manhaj Salaf bertentangan dengan kaidah rusak ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3). Seandainya kita praktekkan kaidah ini, pasti akan terbuka kerusakan yang sangat besar. Karena berarti kita memberikan toleransi kepada orang-orang yang menyerukan pemahaman wihdatul wujud [1], pemahaman Khawarij, nikah mut’ah, thawaf di kuburan, tawasul dengan orang-orang yang telah mati, mengingkari sifat-sifat Allah, pemahaman Jabariyah, dan kesesatan-kesesatan lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4). Hasil kaidah ini adalah kebalikan dari kemauan pembuatnya. Kemauan pembuatnya ialah untuk menghentikan perselisihan antar umat Islam. Namun kenyataan menunjukkan, bahwa kaidah ini menjadi sebab bertambahnya perselisihan dan perpecahan. Oleh karena itulah para ulama pada zaman ini memfatwakan batilnya kaidah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Dr. Hamd ‘Utsman –haizhahullah- di dalam kitabnya, Zajrul Mutahawun bi Dharari Qaidah Al-Ma’dzirah wat Ta’awun, halaman 123-133.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya kebaikan itu hanyalah dengan kembali kepada agama yang mulia ini dalam segala bidangnya sesuai dengan kemampuan. Wallahul Musta’an.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Suatu pemahaman rusak yang dikafirkan oleh para ulama. Yaitu anggapan bahwa wujud hanyalah satu ; makhluk bersatu dengan sang Khaliq.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendapat IM dalam situs http://www.al-ikhwan.net/index.php/raddus-syubuhat/2007/apakah-taqsim-pembagian-persoalan-agama-ke-dalam-ushul-dan-furu-merupakan-bidah/&lt;/p&gt; &lt;h4&gt;Apakah Taqsim (Pembagian) Persoalan Agama ke Dalam Ushul dan Furu’ Merupakan Bid’ah?&lt;/h4&gt; &lt;p&gt;Al-Ikhwan.net | 14 January 2007 | 23 Dzulhijjah 1427 H | Hits: 4,889&lt;br /&gt;&lt;span class="postedby"&gt; Abi AbduLLAAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="EMail This Post" rel="nofollow" href="http://www.al-ikhwan.net/index.php/raddus-syubuhat/2007/apakah-taqsim-pembagian-persoalan-agama-ke-dalam-ushul-dan-furu-merupakan-bidah/email/"&gt;&lt;img src="http://www.al-ikhwan.net/wp-content/plugins/email/images/email.gif" alt="E-Mail This Post/Page" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a title="Kirim ke teman" rel="nofollow" href="http://www.al-ikhwan.net/index.php/raddus-syubuhat/2007/apakah-taqsim-pembagian-persoalan-agama-ke-dalam-ushul-dan-furu-merupakan-bidah/email/"&gt;Kirim ke teman&lt;/a&gt; | &lt;a title="Print This Post" rel="nofollow" href="http://www.al-ikhwan.net/index.php/raddus-syubuhat/2007/apakah-taqsim-pembagian-persoalan-agama-ke-dalam-ushul-dan-furu-merupakan-bidah/print/"&gt;&lt;img src="http://www.al-ikhwan.net/wp-content/plugins/print/images/print.gif" alt="Print This Post/Page" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a title="Print" rel="nofollow" href="http://www.al-ikhwan.net/index.php/raddus-syubuhat/2007/apakah-taqsim-pembagian-persoalan-agama-ke-dalam-ushul-dan-furu-merupakan-bidah/print/"&gt;Print&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di antara berbagai persoalan yang muncul akhir-akhir ini dan membingungkan ummat, sebagian ikhwah, adalah klaim yang disampaikan oleh sebagian orang yang terlalu bersemangat mempelajari agama bahwa pembagian persoalan-persoalan agama menjadi masalah-masalah yang termasuk ushul (dasar) dan furu’ (cabang) adalah bid’ah yang tidak dikenal oleh generasi Salaful Ummah (radhiyaLLAAHu ‘anhum ajma’iin)..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya menyaksikan sendiri sebagian orang yang sangat bersemangat ini dalam salah satu majlis pernah melontarkan bahwa membagi urusan agama menjadi masalah-masalah yang ushul dan furu’ tidak dikenal oleh ulama salaf dan oleh sebab itu ia merupakan perbuatan bid’ah yang tercela (qabihah), karena menurutnya bahwa agama hanya satu, tidak dikenal adanya pembagian-pembagian fiqh, ilmu fiqh menurut Salaf hanya satu yaitu ikuti nabi SAW, demikian kata mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian saya tanyakan kepada mereka, kitab mana saja yang sudah antum baca dari kalangan kaum salaf sehingga antum bisa menyimpulkan demikian? Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka kecuali qila wa qala (kata ustaz Fulan dan kata syaikh Fulan). Maka saya tanyakan kembali pada mereka: Kitab manakah yang menurut antum merupakan kitab salaf yang paling sering antum baca? Jawab mereka: Tafsir Ibnu Katsir! Tanya saya lagi: Antum sudah khattam (tamat) membaca kitab tafsir Ibnu Katsir? Jawab mereka: Belum! Lalu saya katakan: Imam Ibnu Katsir menyetujui pembagian ushul dan furu’ yang antum bilang bid’ah itu!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikianlah fenomena yang sering kita lihat &amp;amp; dengar di sekitar kita, semangat yang amat besar mempelajari ‘ulum-syar’iyyah (ilmu-ilmu syariat) adalah sesuatu yang sangat terpuji, bahkan sebagiannya merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Namun jika hal tersebut diikuti dengan sikap mudah memvonis &amp;amp; menuduh kepada kelompok yang berbeda padahal mereka bukanlah qadhi (hakim) maka sifat tersebut menjadi amat tercela.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat menafsirkan QS An-Nisa’ ayat 29-31, Imam Ibnu Katsir [1] berkata ketika beliau -semoga ALLAH SWT menyayanginya- mengkomentari hadits tentang syafa’at Nabi Muhammad ShallaLLAHu ‘alaihi wa Sallam bagi orang yang berdosa besar, ia berkata: “Para ulama ushul dan furu’ telah berbeda pendapat tentang batasan dosa besar.&lt;br /&gt;Ada yang berkata bahwa dosa kecil adalah dosa yang tidak ada had-nya (sanksi) dalam syariat.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lebih lanjut saat menafsirkan QS Al-Ma’idah ayat-3, beliau [2] juga menyatakan: “Walaupun hadits ini jelas mengenai sebab yang khusus, tetapi ibroh itu berdasarkan keumuman lafzh menurut jumhur ulama baik dalam masalah ushul maupun furu’..” Demikian pula saat beliau menafsirkan QS Al-Jum’ah ayat 1-4, beliau [3] menyatakan: “.. Nabi Muhammad ShallaLLAHu ‘alaihi wa Sallam juga adalah hakim dan pemutus tentang berbagai syubuhat dan keraguan baik dalam masalah ushul maupun furu’…”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula pada berbagai kitab tafsir yang ditulis oleh imam Ahlus-Sunnah lainnya, seperti Imam Asy-Syaukani [4], Al-Biqa’i [5], Ibnu ‘Adil [6], An-Nasafi [7], An-Naisaburi [8], Ibnu Hazm [9], dll. Di kalangan para imam ahli hadits di antaranya adalah Imam Nawawi [10] dan Imam Ibnu Hajar [11]. Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan dan telah disepakati pembagian agama ini ke dalam masalah-masalah ushul &amp;amp;&lt;br /&gt;furu’ sehingga penafian terhadap hal ini adalah sangat aneh dan tidak perlu diperhatikan oleh para aktifis dakwah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lebih jauh pembagian ini juga telah disepakati oleh para ulama aqidah dan pemurni tauhid. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menulis dalam kitabnya bahwa Imam Tirmidzi adalah seorang imam dalam masalah ushul &amp;amp; furu’ [12]. Beliau -semoga ALLAH menyayanginya- juga menyebutkan pembagian ini dalam kitabnya yang terkenal Iqtidha’&lt;br /&gt;Shirathal Mustaqim [13]. Hal ini juga disepakati oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dimana dalam sebuah kitabnya [14] ia menulis bahwa kita diperintah mengikuti sirah Nabi Muhammad ShallaLLAHu ‘alaihi wa Sallam baik dalam masalah ushul maupun furu’. Demikian pula pengarang kitab Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah [15] dan pengarang kitab Fathul Majid [16].&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika kita runut dalam kitab-kitab sejarah (tarikh) yang terkenal, seperti kitab Al-Milal wan-Nihal maka kita dapatkan bahwa dari sejak dulu para ulama mujtahidin telah dikelompokkan dalam 2 kelompok, yaitu ahli ushul dan ahli furu’ [17]. Ahli ushul adalah mereka yang mempelajari masalah-masalah yang bersifat qath’i dalam agama [18], sementara ahli furu’ adalah mereka yang mempelajari masalah-masalah yang bersifat perbedaan pendapat di kalangan ulama (mawaqi’ul-ikhtilaf) yang dapat dicapai melalui dugaan kuat (ghalabatu-zhann) yang memungkinkan semua yang berijtihad bisa benar [19]. Imam Al-Qusyairi Al-Maliki bahkan mengarang kitabnya yang diberi nama: Al-Ushul wal Furu’ pada sebelum abad ke-3 Hijrah [20] (Imam Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Imam Al-Qusyairi tersebut wafat pada th 365-H [21]).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;‘Ala kulli haal, demikianlah bahwa pembagian masalah agama kepada ushul dan furu’, kepada yang qath’iy dan zhanniy semuanya disandarkan kepada kitab-kitab ulama Salafus Shalih, tinggal penunjukannya saja yang terjadi perbedaan pendapat dikalangan para ulama, mana yang termasuk masalah ushul dan mana yang furu’, aqidah adalah ushul tapi di dalam hal aqidah juga terdapat furu’, demikian pula ibadah adalah furu’ tapi di dalam masalah ibadah juga terdapat ushul. Pembahasan tentang masalah ini telah pernah saya bahasa panjang lebar dalam kajian ushul-fiqh di millist ini (mailing list Al-Ikhwan, red), bagi yang ingin mendalaminya tafadhal membuka arsip millist ini dalam serial USHUL-FIQH. WaliLLAHil hamdu wal minah..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan Kaki:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[1] Tafsir Ibnu Katsir, II/284&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[2] Ibid, III/19&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[3] Ibid, VIII/116&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[4] Fathul Qadir, III/88&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[5] Tafsir Al-Biqa’i, I/144, II/160, III/158, IV/32, V/385, VI/105, VII/222&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[6] Tafsir Al-Lubab, VI/423, XIV/145&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[7] Tafsir An-Nasafi, I/479&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[8] Tafsir An-Naisabury, I/338, III/268&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[9] Tafsir Al-Ahkam, I/438&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[10] Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, I/323&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[11] Fathul Bari’, VIII/313&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[12] Jami’ur Rasa’il, I/186&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[13] Iqtidha’ Shirathal Mustaqim Li Mukhalafati Ashabil Jahim, I/215, II/95&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[14] Ushulul Iman, I/174&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[15] Syarhut Thahawiyyah fil ‘Aqidah As-Salafiyyah, III/266&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[16] Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid, I/2&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[17] Al-Milal wa An-Nihal, I/61&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[18] Ibid, I/61&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[19] Ibid, I/62&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[20] Ma’rifati Hawadits waz Zaman lil Yafi’i, I/350&lt;/p&gt; &lt;p&gt;[21] Tarikhul Islam, VI/218&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendapat “Salafi” dari situs http://www.almanhaj.or.id/content/2454/slash/0&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-1867071602476802123?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/1867071602476802123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/adakah-isi-dan-kulit-dalam-ajaran-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/1867071602476802123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/1867071602476802123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/08/adakah-isi-dan-kulit-dalam-ajaran-islam.html' title='Adakah Isi Dan Kulit Dalam Ajaran Islam?'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-6333669316662119151</id><published>2009-07-15T11:39:00.001+07:00</published><updated>2009-07-15T11:47:08.954+07:00</updated><title type='text'>It's My Old School</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1fDmUiudI/AAAAAAAAANs/3WnAOp5Pjxw/s1600-h/20062009008.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1fDmUiudI/AAAAAAAAANs/3WnAOp5Pjxw/s400/20062009008.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358543647071713746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1erAPnIUI/AAAAAAAAANk/nb66-o8ukDU/s1600-h/23062009020.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1erAPnIUI/AAAAAAAAANk/nb66-o8ukDU/s400/23062009020.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358543224533623106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1eq1DZnQI/AAAAAAAAANc/HJWuEdHoKOU/s1600-h/23062009020.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1eq1DZnQI/AAAAAAAAANc/HJWuEdHoKOU/s400/23062009020.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358543221529615618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1eqs0gMNI/AAAAAAAAANU/9FAWwjQfFV8/s1600-h/07062009041.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1eqs0gMNI/AAAAAAAAANU/9FAWwjQfFV8/s400/07062009041.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358543219319648466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1eqHfO1MI/AAAAAAAAANM/IEnDp7c5iIk/s1600-h/Putu048.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1eqHfO1MI/AAAAAAAAANM/IEnDp7c5iIk/s400/Putu048.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358543209298318530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1epzYR5XI/AAAAAAAAANE/MpICGP-u8SA/s1600-h/Putu049.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1epzYR5XI/AAAAAAAAANE/MpICGP-u8SA/s400/Putu049.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358543203900450162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-6333669316662119151?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/6333669316662119151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/07/its-my-old-school.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6333669316662119151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6333669316662119151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/07/its-my-old-school.html' title='It&apos;s My Old School'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1fDmUiudI/AAAAAAAAANs/3WnAOp5Pjxw/s72-c/20062009008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-1017076153707055843</id><published>2009-07-15T11:19:00.005+07:00</published><updated>2009-07-15T11:38:53.318+07:00</updated><title type='text'>With My Konco</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1dQGwTNGI/AAAAAAAAAM8/FOCvUg5IR_U/s1600-h/16062009075.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1dQGwTNGI/AAAAAAAAAM8/FOCvUg5IR_U/s400/16062009075.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358541662913246306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1dP7ucNGI/AAAAAAAAAM0/zCTqEvFZJYg/s1600-h/15062009048.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1dP7ucNGI/AAAAAAAAAM0/zCTqEvFZJYg/s400/15062009048.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358541659952657506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1dPTxGweI/AAAAAAAAAMs/Rav1QNCWK1g/s1600-h/DSC00248.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1dPTxGweI/AAAAAAAAAMs/Rav1QNCWK1g/s400/DSC00248.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358541649226416610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1bf9x8n_I/AAAAAAAAAMk/brBVTHCyM4c/s1600-h/16062009218.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1bf9x8n_I/AAAAAAAAAMk/brBVTHCyM4c/s400/16062009218.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358539736358887410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Formasi Lomba nih...I'm as the speakers,, my name is Muhammad Iqbal El Ghiffary,, in my left side is Muhammad Haqqiyuddin Robbani,, in my right side is Ahmad Faisall...&lt;br /&gt;We are from Al Multazam Islamic Boarding School... Our Motto Is.. Don't think to be the best but think to do the best...&lt;br /&gt;Allahu Akbar!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1bfcNQx-I/AAAAAAAAAMc/4bBg5yed0bI/s1600-h/DSC00248.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1bfcNQx-I/AAAAAAAAAMc/4bBg5yed0bI/s400/DSC00248.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358539727346649058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1bfIu6ckI/AAAAAAAAAMU/DrUYucHyBhA/s1600-h/20062009004.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1bfIu6ckI/AAAAAAAAAMU/DrUYucHyBhA/s400/20062009004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358539722119082562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;dalam hati gue berkata (Anjrit... gue lulus ga yach)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1be-IcfRI/AAAAAAAAAMM/RvIQB-1uGs0/s1600-h/16062009071.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1be-IcfRI/AAAAAAAAAMM/RvIQB-1uGs0/s400/16062009071.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358539719273381138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kasian banget nih,,, lama yah ga masuk-masuk...hhehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1betWQhPI/AAAAAAAAAME/Os32REblb9Q/s1600-h/16062009081.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1betWQhPI/AAAAAAAAAME/Os32REblb9Q/s400/16062009081.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358539714767914226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Figurr,,, heii... Chezzz......&lt;br /&gt;Sal selebbb,,, woyyy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aJ6pd69I/AAAAAAAAAL8/Q35gyy1SURU/s1600-h/16062009059.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aJ6pd69I/AAAAAAAAAL8/Q35gyy1SURU/s400/16062009059.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358538258049264594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Yang ini ane bersama Haqqii,,, si Astronom Jenius..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aJcg1MsI/AAAAAAAAAL0/wBDw7W5Llbc/s1600-h/16062009085.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aJcg1MsI/AAAAAAAAAL0/wBDw7W5Llbc/s400/16062009085.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358538249959977666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Lagi sama anak-anak di Candi... ada pa le juga lohh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aJEx2yeI/AAAAAAAAALs/Cv7wT4V7_1I/s1600-h/20062009007.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aJEx2yeI/AAAAAAAAALs/Cv7wT4V7_1I/s400/20062009007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358538243588934114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Yesss... gue lulusss..... itu yang diteriakkan oleh mereka.. Yah,,, memang Great and amazing sekali,,, karena baru 1 1nya angkatan di Al Multazam yang LULUS 100% ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aI6-XOyI/AAAAAAAAALk/COCJTRtV8GU/s1600-h/16062009079.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aI6-XOyI/AAAAAAAAALk/COCJTRtV8GU/s400/16062009079.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358538240957037346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I'm with Kevin From USA...yeah,, the first foreign man who talked with me...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aIdXG6uI/AAAAAAAAALc/b00QbIt6fbQ/s1600-h/15062009053.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1aIdXG6uI/AAAAAAAAALc/b00QbIt6fbQ/s400/15062009053.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358538233007762146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bareng sama anak sekamer Bizantiumm (Kecuali si Bang sela and Topek) Bukan woyy .,,ngikut aja,,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-1017076153707055843?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/1017076153707055843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/07/with-my-konco.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/1017076153707055843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/1017076153707055843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/07/with-my-konco.html' title='With My Konco'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1dQGwTNGI/AAAAAAAAAM8/FOCvUg5IR_U/s72-c/16062009075.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-6137464067475538502</id><published>2009-07-15T11:12:00.002+07:00</published><updated>2009-07-15T11:19:21.165+07:00</updated><title type='text'>With My Family</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1YjSyQ_CI/AAAAAAAAALU/12FRoweZvrE/s1600-h/01062009024.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1YjSyQ_CI/AAAAAAAAALU/12FRoweZvrE/s400/01062009024.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358536495002090530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1YjEWHR7I/AAAAAAAAALM/BTel2MtaR8k/s1600-h/Foto%28005%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1YjEWHR7I/AAAAAAAAALM/BTel2MtaR8k/s400/Foto%28005%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358536491125917618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1YiyGo-_I/AAAAAAAAALE/aAUVREKPRmQ/s1600-h/Foto%28003%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1YiyGo-_I/AAAAAAAAALE/aAUVREKPRmQ/s400/Foto%28003%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358536486229179378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1Yig6-4tI/AAAAAAAAAK8/TLzQtX-DNmU/s1600-h/24052009010.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1Yig6-4tI/AAAAAAAAAK8/TLzQtX-DNmU/s400/24052009010.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358536481616880338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8012768981023682290-6137464067475538502?l=www.penabutut.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.penabutut.co.cc/feeds/6137464067475538502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/07/with-my-family.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6137464067475538502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8012768981023682290/posts/default/6137464067475538502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.penabutut.co.cc/2009/07/with-my-family.html' title='With My Family'/><author><name>Tinta Digital Keringku</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08006411213743009081</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/SegvYqM9GYI/AAAAAAAAAAo/qjyAK981xDo/S220/16042009107-001.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_EuWC1-fIunE/Sl1YjSyQ_CI/AAAAAAAAALU/12FRoweZvrE/s72-c/01062009024.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8012768981023682290.post-7476685205676803673</id><published>2009-07-15T11:09:00.000+07:00</published><updated>2009-07-15T11:11:48.104+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBango.Net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBango.Net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="20062009002"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBango.Net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CBango.Net%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" title="20062009002"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1025" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" title="20062009003"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_i1026" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" title="20062009004"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_i1027" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg" title="20062009005"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image008.jpg" shapes="_x0000_i1028" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image009.jpg" title="20062009007"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image010.jpg" shapes="_x0000_i1029" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1031" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image011.jpg" title="20062009008"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image012.jpg" shapes="_x0000_i1031" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1030" type="#_x0000_t75" style="'width:6in;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image013.jpg" title="DSC00248"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image014.jpg" shapes="_x0000_i1030" width="576" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1032" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image015.jpg" title="Putu026"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image016.jpg" shapes="_x0000_i1032" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1033" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image017.jpg" title="Putu038"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image018.jpg" shapes="_x0000_i1033" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1034" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image019.jpg" title="Putu041"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image020.jpg" shapes="_x0000_i1034" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1035" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image021.jpg" title="Putu045"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image022.jpg" shapes="_x0000_i1035" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1036" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image023.jpg" title="11062009043"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image024.jpg" shapes="_x0000_i1036" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1037" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image025.jpg" title="15062009048"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image026.jpg" shapes="_x0000_i1037" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1038" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image027.jpg" title="15062009051"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image028.jpg" shapes="_x0000_i1038" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1039" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image029.jpg" title="15062009053"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image030.jpg" shapes="_x0000_i1039" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1040" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image031.jpg" title="15062009055"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image032.jpg" shapes="_x0000_i1040" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1041" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image033.jpg" title="16062009059"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image034.jpg" shapes="_x0000_i1041" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1043" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image035.jpg" title="16062009071"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image036.jpg" shapes="_x0000_i1043" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1042" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image037.jpg" title="16062009073"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image038.jpg" shapes="_x0000_i1042" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1044" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image039.jpg" title="16062009074"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image040.jpg" shapes="_x0000_i1044" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1045" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image041.jpg" title="16062009075"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image042.jpg" shapes="_x0000_i1045" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1056" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image043.jpg" title="16062009079"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image044.jpg" shapes="_x0000_i1056" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1046" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image045.jpg" title="16062009081"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image046.jpg" shapes="_x0000_i1046" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1047" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image047.jpg" title="16062009083"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image048.jpg" shapes="_x0000_i1047" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1049" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image049.jpg" title="16062009084"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image050.jpg" shapes="_x0000_i1049" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1048" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image051.jpg" title="16062009085"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image052.jpg" shapes="_x0000_i1048" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1050" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image053.jpg" title="16062009087"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image054.jpg" shapes="_x0000_i1050" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1051" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image055.jpg" title="16062009089"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image056.jpg" shapes="_x0000_i1051" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1052" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image057.jpg" title="16062009091"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image058.jpg" shapes="_x0000_i1052" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1053" type="#_x0000_t75" style="'width:369pt;height:491.25pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image059.jpg" title="16062009192"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image060.jpg" shapes="_x0000_i1053" width="492" height="655" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1054" type="#_x0000_t75" style="'width:369pt;height:491.25pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image061.jpg" title="16062009218"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image062.jpg" shapes="_x0000_i1054" width="492" height="655" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1055" type="#_x0000_t75" style="'width:369pt;height:491.25pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image063.jpg" title="16062009223"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image064.jpg" shapes="_x0000_i1055" width="492" height="655" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" shapes="_x0000_i1025" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" title="20062009003"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" shapes="_x0000_i1026" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" title="20062009004"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" shapes="_x0000_i1027" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg" title="20062009005"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image008.jpg" shapes="_x0000_i1028" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image009.jpg" title="20062009007"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image010.jpg" shapes="_x0000_i1029" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1031" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image011.jpg" title="20062009008"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image012.jpg" shapes="_x0000_i1031" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1030" type="#_x0000_t75" style="'width:6in;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image013.jpg" title="DSC00248"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image014.jpg" shapes="_x0000_i1030" width="576" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1032" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image015.jpg" title="Putu026"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image016.jpg" shapes="_x0000_i1032" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1033" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image017.jpg" title="Putu038"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image018.jpg" shapes="_x0000_i1033" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1034" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image019.jpg" title="Putu041"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image020.jpg" shapes="_x0000_i1034" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1035" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image021.jpg" title="Putu045"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image022.jpg" shapes="_x0000_i1035" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1036" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image023.jpg" title="11062009043"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image024.jpg" shapes="_x0000_i1036" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1037" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image025.jpg" title="15062009048"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image026.jpg" shapes="_x0000_i1037" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1038" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image027.jpg" title="15062009051"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image028.jpg" shapes="_x0000_i1038" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1039" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image029.jpg" title="15062009053"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image030.jpg" shapes="_x0000_i1039" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1040" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image031.jpg" title="15062009055"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image032.jpg" shapes="_x0000_i1040" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1041" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image033.jpg" title="16062009059"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image034.jpg" shapes="_x0000_i1041" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1043" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image035.jpg" title="16062009071"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image036.jpg" shapes="_x0000_i1043" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1042" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image037.jpg" title="16062009073"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image038.jpg" shapes="_x0000_i1042" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1044" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image039.jpg" title="16062009074"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image040.jpg" shapes="_x0000_i1044" width="575" height="432" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1045" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;height:324pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Bango.Net\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image041.jpg" title="16062009075"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Bango.Net/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/0
